Lintasan Sejarah 7 Mei 2017
Hari ini, Ahad tanggal 7 Mei 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 10 Sya'ban 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 17 Ordibehesht 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Abu Abdillah Abdul Baqi Wafat
1016 tahun yang lalu, tanggal 10 Sya'ban 422 HQ, Abu Abdillah Abdul Baqi, seorang penyair terkenal abad ke-5 Hijriah, meninggal dunia.
Abu Abdillah Abdul Baqi tinggal di kota Baghdad dan menuntut ilmu dari para sastrawan terkemuka pada masa itu. Selain itu, Abdul Baqi juga mempelajari ilmu-ilmu agama.
Karya syair Abdul Baqi dikenal memiliki gaya natural dan penuh makna.
Imad Isfahani, Sastrawan Abad Ke-5 Meninggal Dunia
919 tahun yang lalu, tanggal 10 Sya’ban 519 HQ, Imad Ishafani, sastrawan dan penulis terkenal abad ke-5 HQ meninggal dunia.
Imad Isfahani merupakan ahli fiqih mazhab Syafi'i. Beliau memulai pendidikannya di kota Isfahan dan setelah itu beliau belajar di Madrasah Nezhamiah, Baghdad. Di sana beliau belajar ilmu fiqih, hadis dan sastra.
Beliau sempat diangkat sebagai seorang menteri di masa pemerintahan Shalahuddin al-Ayyubi di Syam. Sastrawan besar ini meninggal sejumlah karya seperti al-Barq al-Syami tentang sejarah, Diwan ar-Rasail dan Diwan Syair.
Dimulainya Perlawanan Spanyol Terhadap Perancis
209 tahun yang lalu, tanggal 7 Mei tahun 1808, penduduk Spanyol memulai perjuangan melawan tentara Perancis yang menduduki negeri mereka.
Spanyol pada masa itu merupakan salah satu imperialis besar dunia dan memiliki wilayah jajahan yang sangat luas di luar Eropa. Namun kali ini, rakyat Spanyol pun terpaksa merasakan kepahitan hidup di bawah penjajahan bangsa asing.
Setelah lima tahun berjuang, akhirnya pada bulan Desember tahun 1813, rakyat Spanyol berhasil mengusir tentara Napoleon itu dari negeri mereka. Namun, dalam masa penjajahan itu pula Spanyol kehilangan sebagian besar kawasan jajahannya di Amerika Selatan yang berhasil memanfaatkan kelemahan Spanyol untuk memerdekakan diri.
Penandatanganan Perjanjian Roem-Roijen
68 tahun yang lalu, tanggal 7 Mei 1949, pihak Indonesia dan Belanda menandatangani perjanjian Roem-Roijen.
Perjanjian Roem-Roijen (Perjanjian Roem-Van Roijen) adalah sebuah perjanjian antara Indonesia dengan Belanda yang dimulai pada tanggal 14 April 1949 dan akhirnya ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta.
Nama perundingan ini diambil dari kedua pemimpin delegasi, Mohammad Roem dan Herman van Roijen.
Maksud pertemuan ini adalah untuk menyelesaikan beberapa masalah mengenai kemerdekaan Indonesia sebelum Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada tahun yang sama. Perjanjian ini sangat alot sehingga memerlukan kehadiran Bung Hatta dari pengasingan di Bangka, juga Sri Sultan Hamengkubuwono IX dari Yogyakarta untuk mempertegas sikap Sri Sultan HB IX terhadap Pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta, dimana Sultan Hamengku Buwono IX mengatakan “Jogjakarta is de Republiek Indonesie” (Yogyakarta adalah Republik Indonesia).
Mehrdad Avesta, Penyair Iran Wafat
26 tahun yang lalu, tanggal 17 Ordibehesht 1370 HS, Mehrdad Avesta meninggal dunia di usia 63 tahun.
Mohammad Reza Rahmani yang lebih dikenal dengan nama Mehrdad Avesta, anak Mohammad Sadegh, penyair komtemporer Iran, lahir pada 1306 Hs di kota Boroujerdi. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di kota kelahirannya. Setelah menyelesaikan S1 di bidang filsafat, ia diangkat sebagai pengajar.
Mehrdad Avesta melakukan perjuangan politiknya bertahun-tahun sebelum kemenangan Revolusi Islam Iran. Pada kumpulan syairnya dan juga di buku "Tirana", ia menggunakan nada keras saat mengritik rezim Shah. Avesta membaca puisi indah tentang Revolusi Islam dan juga ketika memuji Imam Khomeini ra.
Avesta banyak melakukan penelitian terhadap puisi para penyair besar seperti Hafez, Khaqani dan sastra legenda dunia. Ia punya kelebihan luar biasa dalam membaca pelbagai bentuk puisi, khususnya kasidah. Ia pasca Revolusi Islam Iran menjabat sebagai penasihat budaya presiden Iran. Di tahun-tahun terakhir dari usianya, Avesta diangkat sebagai Kepala Dewan Puisi Kementerian Budaya dan Bimbingan Islam.
Penyair besar Iran ini meninggalkan karya-karya besar di bidang puisi dan roman seperti Imam, Hamaseh Digar dan Karavan Rafteh.