May 10, 2017 05:45 Asia/Jakarta

Hari ini, Rabu tanggal 10 Mei 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 13 Sya'ban 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 20 Ordibehesht 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.

Muhamad Khalidi Wafat

238 tahun yang lalu, tanggal 13 Sya'ban 1200 HQ, Husein bin Muhammad Shaleh Khalidi, seorang ulama terkemuka abad ke-13 Hijriah, meninggal dunia.

Muhammad Khalidi dilahirkan di Baitul Maqdis dan di kota itulah ia menuntut ilmu-ilmu yang berkembang pada zaman itu.

Selain dikenal sebagai ulama, Khalidi juga terkenal karena keahliannya dalam menulis indah dan menyusun syair dalam bahasa Arab.

Jerman dan Perancis Menandatangani Perjanjian Damai

146 tahun yang lalu, tanggal 10 Mei tahun 1871, menyusul kekalahan tentara Perancis dari Jerman pada perang yang berlangsung sebelumnya, kedua negara menandatangani perjanjian damai di kota Frankfurt, Jerman.

Berdasarkan perjanjian itu, Perancis diwajibkan membayar ganti rugi perang sebesar satu juta frank kepada Jerman. Selain itu, Perancis juga diharuskan menyerahkan sejumlah kawasan koloninya seperti Strasburg dan Alsas kepada Jerman. Perjanjian tersebut semakin mengukuhkan Kanselir Jerman Bismark sebagai orang kuat Jerman, dan negara bangsa Aria itu juga semakin memperlihatkan diri sebagai imperium sangat besar di Benua Eropa.

Perjanjian damai antara kedua negara itu ternyata tidak mengakhiri konflik antara Paris dan Berlin. 69 tahun kemudian, Jerman dan Perancis juga terlibat perang secara langsung sebagai dua pihak yang bersengketa dalam Perang Dunia II. Saat itu, pasukan Jerman di bawah komando Hitler membombardir kota Paris dari udara. Akibatnya, untuk beberapa waktu, Paris diduduki oleh pasukan Nazi Jerman.

Abul Hasan Forughi meninggal dunia

59 tahun yang lalu, tanggal 13 Sya'ban 1379 HQ, Abul Hasan Forughi, tokoh intelektual dan sastrawan besar Iran meninggal dunia.

Foroughi lahir di Tehran dan mengenyam pendidikan ilmu klasik dan modern di kota ini. Usai merampungkan jenjang pendidikan, ia mengajar ilmu geografi dan sejarah. Beberapa tahun kemudian, Foroughi diangkat sebagai dosen di Universitas Tehran dan menjadi anggota Pusat Kebudayaan Iran.

Foroughi wafat dan meninggalkan sejumlah karya tulis diantaranya adalah "Tarikh-e Adabiyaat-e Iran" atau sejarah sastera Iran, "Sarmaye'ye Saadat" atau bekal kebahagiaan, dan buku akidah sosial dan filosofis yang ditulisnya dalam bahasa Perancis.

Imam Khomeini ra Menyetujui Simbol Republik Islam Iran

37 tahun yang lalu, tanggal 20 Ordibehesht 1359 HS, Imam Khomeini ra menyetujui simbol Republik Islam Iran.

Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, rencananya akan diperkenalkan simbol Republik Islam Iran yang mengejawantahkan semangat keagamaan dan keislaman bangsa Iran. Oleh karenanya, Dewan Revolusi membuka kesempatan kepada siapa saja untuk membuat simbol yang diinginkan. Banyak yang mengirimkan disainnya kepada dewan ini dan akhirnya mereka menerima satu dari karya tersebut.

Akhirnya, simbol ini ditunjukkan kepada Imam Khomeini ra dan beliau menyetujuinya pada 20 Ordibehesht 1359 Hs. Simbol ini berupa empat bulan sabit dan sebuah tiang di tengah yang berarti kata suci "Allah" dan pada hakikatnya simbol ini membentuk ungkapan suci "Laa Ilaaha Illallah".

Penjelasan simbol Republik Islam Iran ini; tiang yang berada di tengah atau pedang menunjukkan kekuatan. Bulan sabit menunjukkan pertumbuhan. Lima bagian utama yang terdiri dari empat bulan sabit dan sebuah tiang atau pedang merupakan simbol ushuluddin Syiah. Susunan yang saling berdekatan dan simetris itu menunjukkan keseimbangan dan keadilan.

Simbol ini kemudian diletakkan di bagian tengah dari warna putih bendera Republik Islam Iran dan di atas setiap nama kementerian negara.

90 Anggota keluarga Al-Hakim Ditangkap

34 tahun yang lalu, tanggal 10 Mei tahun 1983, Rezim Ba'ath Irak pimpinan diktator Saddam Husein menangkap 90 orang keluarga Ayatullah al-Hakim, ulama paling berpengaruh di Irak pada zamannya.

10 orang di antara mereka kemudian dijatuhi hukuman mati. Ayatullah al-Hakim sendiri wafat pada tahun 1969. Akan tetapi, keluarga Al-Hakim yang sejak beberapa dekade dikenal sebagai keluarga ulama sekaligus pejuang selalu saja melahirkan pemimpin-pemimpin kharismatik yagn sangat dihormati rakyat Irak.

Posisi Kharismatik keluarga tersebut di tengah masyarakat Irak menimbulkan kekhawatiran Rezim Ba'ath yang merasa terancam kekuasaannya. Untuk itu, Saddam tidak pernah berhenti melakukan represi terhadap keluarga besar al-Hakim dengan cara menteror, menangkapi, bahkan membunuhnya.