Lintasan Sejarah 23 Mei 2017
Hari ini, Selasa tanggal 23 Mei 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 26 Sya'ban 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 2 Khordad 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Yazid bin Abdul Malik bin Marwan Meninggal Dunia
1333 tahun yang lalu, tanggal 26 Sya’ban 105 HQ, Yazid bin Abdul Malik bin Marwan meninggal dunia.
Pasca meninggalnya Umar bin Abdul Aziz, Yazid bin Abdul Malik bin Marwan menjadi khalifah tahun 101 HQ. Yazib bin Abdul Malik adalah seorang yang suka berfoya-foya dan minum minuman keras.
Ia tidak punya perhatian untuk mengelola urusan negara Islam. Terlebih lagi ia memiliki seorang keluarga bernama Hajjaj al-Tsaqafi, seorang haus darah yang mengatur segala urusan.
Yazid bin Abdul Malik bin Marwan di akhir usianya membuktikan tidak dapat melepaskan diri dari hidup berfoya-foya. Tapi tidak beberapa lama orang yang dicintainya meninggal dan kehidupan megahnya berubah menjadi duka. Sang khalifah akhirnya hanya sempat hidup beberapa hari sepeninggal kekasihnya pada 26 Sya'ban 105 HQ.
Ibnu Fasih Wafat
683 tahun yang lalu, tanggal 26 Sya'ban 755 HQ, Ibnu Fasih, seorang ahli fiqih, penyair, dan sastrawan Arab, meninggal dunia di kota Damaskus.
Setelah menyelesaikan pendidikan di bidang fiqih dan sastra, ia mulai mempelajari ilmu-ilmu hadis hingga akhirnya mencapai kemampuan yang tinggi di bidang ini. Ibnu Fasih juga menciptakan syair dan menyusun tema-tema fiqih dalam bentuk syair. Ibnu Fasih juga banyak meninggalkan karya-karya penulisan dalam bahasa Arab.
Syeikh Yusuf Tajul Khalwati Wafat
318 tahun yang lalu, tanggal 23 Mei 1699 pada umur 72 tahun di Cape Town, Afrika Selatan Syeikh Yusuf Tajul Khalwati wafat.
Ia adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia. Pendidikan agama diperolehnya sejak berusia 15 tahun di Cikoang dari Daeng Ri Tassamang, guru kerajaan Gowa. Syeikh Yusuf juga berguru pada Sayid Ba-lawi bin Abdul al-Allamah Attahir dan Jalaludin al-Aydit.
Kembali dari Cikoang Syeikh Yusuf menikah dengan putri Sultan Gowa, lalu pada usia 18 tahun, Syeikh Yusuf pergi ke Banten dan Aceh. Di Banten ia bersahabat dengan Pangeran Surya (Sultan Ageng Tirtayasa), yang kelak menjadikannya mufti Kesultanan Banten.
Di Aceh, Syeikh Yusuf berguru pada Syeikh Nuruddin ar-Raniri dan mendalami tarekat Qodiriyah. Syeikh Yusuf juga sempat mencari ilmu ke Yaman, berguru pada Syeikh Abdullah Muhammad bin Abd Al-Baqi, dan ke Damaskus untuk berguru pada Syeikh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Quraisyi. Ia lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, 3 Juli 1626.
Friedrich Ruckert lahir di Hamburg
229 tahun yang lalu, tanggal 23 may 1788, Friedrich Ruckert, penyair dan orientalis Jerman lahir di kota Hamburg.
Friedrich Ruckert adalah seorang peneliti bahasa-bahasa timur dan mengajar di Universitas Jerman. Ruckert banyak sekali menterjemahkan syair-syair dari bahasa Persia, Arab dan Cina ke dalam bahasa Jerman.
Dia turut mengunakan metode kesusasteraan timur untuk membaca syair dan dia merupakan salah seorang penyair Jerman yang mengalih bahasakan Diwan Hafez ke dalam bahasa Jerman dan terjemahannya berkali-kali dicetak ulang.
Di antara karya terkenalnya ialah Cinta Musim Semi.
Pemilu Presiden Iran Periode Ketujuh
20 tahun yang lalu, tanggal 2 Khordad 1376 HS, diselenggarakan periode ketujuh pemilu presiden Republik Islam Iran.
Pemilu pilpres ini tidak hanya penting bagi rakyat Iran, tapi juga menjadi perhatian serius di tingkat internasional sebagai peristiwa politik dan sosial penting yang terjadi di Iran setiap empat tahun sekali. Alasan utama perhatian masyarakat internasional terkait pemilu ini berpulang pada kenyataan bahwa mereka tidak menyangka rakyat Iran akan berpartisipasi secara luas dalam pemilu ini.
Dalam periode pilpres ini, Hujjatul Islam Sayid Mohammad Khatami meraih suara terbanyak dengan 20 juta suara dari hampir 30 juta suara sah dan terpilih sebagai Presiden Republik Islam Iran ke-5 Iran.
Banyak pendapat terkait partisipasi luas rakyat Iran dalam pemilu presiden ketujuh ini, tapi menurut bangsa Iran, kehadiran rakyat Iran adalah menyambut seruan Wali Faqih, Sayid Ali Khamenei. Sejatinya, rakyat Iran sebelum memilih calon presidennya, mereka telah terlebih dahulu menyatakan kesetiaannya kepada Republik Islam Iran.