Lintasan Sejarah 14 Juni 2017
Hari ini, Rabu tanggal 14 Juni 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 19 Ramadhan 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 24 Khordad 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Pukulan Pedang Terhadap Imam Ali as
1398 tahun yang lalu, tanggal 19 Ramadan 40 Hijriah, Ali bin Abi Thalib as, menantu, sepupu, dan orang terdekat Rasululalh Saw, ketika sedang melaksanakan shalat di Masjid Kufah, dipukul dengan pedang oleh seseorang bernama Abdurahman bin Muljam al-Muradi.
Kepala Imam Ali terluka parah akibat pukulan ini dan tiga hari kemudian, beliau gugur syahid. Setelah Rasululah Saw, Ali as adalah orang yang paling besar keberanian, iman, dan zuhudnya, serta paling tinggi ilmu dan keadilannya, dan paling mulia akhlaknya dalam sejarah Islam. Ali dibesarkan dan dididik dengan nilai-nilai Ilahiah oleh Rasulullah Saw.
Imam Ali as memeluk Islam sejak masa kanak-kanaknya dan merupakan lelaki pertama yang memeluk agama Ilahi ini. Dia selalu mendampingi Rasulullah di dalam menjalankan dakwah Islam dan selalu hadir membela Rasulullah dalam berbagai peperangan melawan kaum musyrikin. Selain itu, Imam Ali as dikenal berhati lembut dan amat menyayangi anak-anak yatim.
Imam Ali adalah seorang pemimpin yang sangat adil, sampai-sampai beliau pernah bersabda, "Demi Allah, biarpun aku harus dibaringkan dengan tanpa pakaian di atas duri-duri padang pasir atau diseret dengan rantai di atas tanah, semua itu lebih baik bagiku daripada aku harus menghadap Allah dan rasul-Nya dalam keadaan aku pernah menzalimi hamba-hamba-Nya."
Serangan Mesir ke Sudan
197 tahun yang lalu, tanggal 14 Juni 1820, pasukan Mesir yang dipimpin oleh Muhammad Ali Pasha menyerang Sudan dan berhasil menduduki sebagian besar kawasan utara negara ini.
Seiring dengan itu, pasukan imperialis Inggris melancarkan invasi ke wilayah selatan Sudan dan berhasil menguasai wilayah tersebut. Tahun 1881, rakyat Sudan di bawah kepemimpinan Mahdi Sudani bangkit melawan pendudukan Mesir dan Inggris.
Empat tahun setelah itu, pada tahun 1885, gerakan perlawanan rakyat Sudan berhasil memberikan pukulan telak kepada pasukan Inggris dan Mesir. Namun pada tahun 1898, gerakan perlawanan Mahdi Sudani kalah dari tentara gabungan Inggris-Mesir. Setahun setelah itu, Inggris dan Mesir melalui kesepakatan bersama memegang kendali pemerintahan di Sudan.
Sudan berhasil meraih kemerdekaannya pada bulan Januari tahun 1956.
Pasukan Perancis mendarat di Aljazair
187 tahun yang lalu, tanggal 14 Juni 1830, tentara Perancis mendarat di pantai Aljazair yang mengawali serbuan negara imperialis ini ke Aljazair.
Perancis menghadapi perlawanan sengit rakyat Aljazair yang menolak penjajahan atas negeri mereka. Dengan berbagai cara, akhirnya Perancis berhasil menduduki Aljazair secara penuh tahun 1910.
Meski demikian perlawanan bersenjata rakyat Aljazair tetap berlanjut dan memuncak seiring dengan berakhirnya perang dunia II.Tahun 1962, dengan semakin meningkatnya perlawanan rakyat dan tekanan dunia, Presiden Perancis saat itu Charles de Gaulle terpaksa menyetujui pemberian status kemerdekaan penuh kepada Aljazair.
Surat 120 Anggota Parlemen Minta Dibahas Ketidaklayakan Politik Bani Sadr
36 tahun yang lalu, tanggal 24 Khordad 1360 HS, 120 anggota parlemen Iran mengirim surat agar dibahas ketidaklayakan politik Bani Sadr.
Rakyat Iran dengan gagah berani melakukan perlawanan yang luas atas agresi militer rezim Saddam. Tapi front perang yang semakin luas tanpa ada dukungan yang seharusnya dari Bani Sadr sebagai Panglima Tertinggi seluruh jajaran Angkatan Bersenjata Iran, membuat friksi antara presiden Iran ini dengan parlemen, Mahkamah Agung dan lembaga-lembaga revolusioner lainnya semakin mencapai puncaknya.
Sementara nasihat Imam Khomeini ra agar dicapai kesepahaman tidak juga berhasil, maka pada sidang tanggal 24 Khordad 1360 HS, surat dari 120 anggota parlemen akhirnya dibacakan yang isinya meminta penindaklanjutan kelayakan politik Bani Sadr. Surat 120 anggota parlemen itu juga mencantumkan harus segera dibahas.
Para pendukung Bani Sadr di parlemen menolak usulan ini dan menilai sidang ini tidak resmi yang berujung pada aksi keluar dari ruang sidang. Menurut mereka, Bani Sadr tetap masih berada di puncak kekuasaan.
Tapi para wakil parlemen yang revolusioner akhirnya meratifikasi usulan ini pada 31 Khordad 1360 HS dan praktis unsur pengkhianat negara tengah memasuki tahap dilengserkan dari kekuasaannya.