Lintasan Sejarah 21 Juni 2017
Hari ini, Rabu tanggal 21 Juni 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 26 Ramadhan 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 31 Khordad 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Muhammad khunsari Wafat
313 tahun yang lalu, tanggal 26 Ramadan 1125 HQ, Muhammad Khunsari yang dikenal dengan Jamaluddin, salah seorang ulama besar Iran abad ke 11 dan 12 Hijriah, meninggal dunia.
Muhammad Khunsari dilahirkan dalam keluarga relijius dan pencinta ilmu, di kota Isfahan. Dia menguasai ilmu-ilmu di bidang logika, filsafat, teologi, fiqih, ushul fiqih, dan tafsir.
Berbekal pengetahuannnya yang luas tersebut, Jamaluddin menulis buku penjelasan atas kitab "as-Syifa" dan "al-Isyarat" karya Ibnu Sina serta kitab "Syarah Lum'ah", "al-Tahzib", dan "Mukhtasarul Ushul".
Jean Paul Sartre Lahir
112 tahun yang lalu, tanggal 21 Juni 1905, Jean Paul Sartre, filsuf Perancis terkenal, terlahir ke dunia di kota Paris.
Sartre meraih gelar doktor di bidang filsafat dan kemudian mengajar di bidang itu selama beberapa tahun. Setelah Perang Dunia II, Sartre meninggalkan pekerjaannya sebagai pengajar dan mengabdikan hidupnya untuk menulis. Sartre merupakan salah satu pemimpin aliran eksistensialisme. Sartre menyatakan, eksistensi lebih dulu ada dibanding esensi.
Manusia tidak memiliki apa-apa sejak dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih dari kalkulasi dari komitmen di masa lalu. Karena itu, menurut Sartre, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia. Sartre banyak meninggalkan karya penulisan di antaranya berjudul Being and Nothingness atau "Ada dan Ketiadaan".
Ir. Sukarno Meninggal
47 tahun yang lalu, tanggal 21 Juni tahun 1970, Ir. Ahmad Sukarno, proklamator kemerdekaan dan persiden pertama Republik Indonesia, meninggal dunia.
Ir. Sukarno dilahirkan pada tahun 1901 dan sejak masa muda telah aktif dalam perjuangan politik melawan penjajahan Belanda. Akibat aktivitas politiknya itu, Sukarno berkali-kali dipenjarakan oleh pemerintah Belanda. Pada era Perang Dunia Kedua, Indonesia diduduki oleh Jepang dan pada masa itu, Ir. Sukarno dan para pejuang kemerdekaan lainnya mengadakan berbagai persiapan untuk kemerdekaan Indonesia.
Ketika Perang Dunia Kedua berakhir dengan kekalahan Jepang, para pejuang Indonesia menggunakan kesempatan ini untuk mendeklarasaikan kemerdekaan Indoensia, pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun, Belanda tidak menerima kemerdekaan ini dan berusaha kembali menjajah Indonesia dengan cara melakukan agresi militer ke Indonesia.
Selama empat tahun kemudian rakyat Indonesia berjuang mengusir penjajah dan akhirnya pada tahun 1949, Belanda mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.
Doktor Chamran Gugur Syahid
36 tahun yang lalu, tanggal 31 Khordad 1360 HS, Doktor Mostafa Chamran gugur syahid di daerah Dehlaviyeh.
Doktor Mustafa Chamran, seorang ilmuwan Iran, gugur syahid dalam perang Irak-Iran. Berbeda dengan para ilmuwan umumnya yang melalui umurnya dalam penelitian dan dunia akademis, Doktor Chamran memilih keluar dari laboratoriumnya dan terjun ke medan tempur untuk membela tanah airnya.
Doktor Chamran dilahirkan tahun 1932 di Teheran dan menuntut ilmu di bidang teknik elektro di Universitas Teheran. Ia kemudian meraih beasiswa untuk meneruskan pendidikan ke Universtitas Berkeley, AS dan bahkan sempat diangkat menjadi dosen di Universitas Berkeley.
Namun ia kemudian memilih pergi ke Lebanon untuk bergabung dengan pejuang Lebanon, Musa Sadr dan mendirikan "Gerakan Kaum Tertindas" yang bertujuan membela bangsa Lebanon dan para pengungsi Palestina di sana yang ditindas oleh rezim Zionis.
Ketika Revolusi Islam Iran mencapai kemenangan tahun 1979, Doktor Chamran kembali ke Iran dan diangkat sebagai Menteri Pertahanan Republik Islam Iran. Ketika Irak menginvasi Iran pada tahun 1980, Doktor Chamran bergabung dengan para pejuang Iran untuk melindungi Republik Islam sampai akhirnya gugur syahid.
Gempa di Gilan dan Zanjan
27 tahun yang lalu, tanggal 31 Khordad 1369 HS, gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,3 skala richter mengguncang provinsi Gilan dan Zanjan, di sebelah utara dan barat laut Iran.
Gempa yang terjadi pada malam hari itu, telah menelan korban jiwa dan kerugian material yang begitu besar. Pusat gempa tersebut, terjadi di kota Roudbar. Lebih dari 50 ribu orang tewas, 60 ribu lainnya luka-luka dan lebih dari setengah juta orang terpaksa kehilangan tempat tinggal dan mengungsi.
Gempa bumi Roudbar menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar pula. Pasca kejadian gempa, pemerintahan dan rakyat Iran segera membantu para korban gempa, dan melakukan proses rekonstruksi kawasan gempa.