Lintasan Sejarah 11 Oktober 2017
Hari ini, Rabu tanggal 11 Oktober 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 20 Muharram 1439 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 19 Mehr 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Amir Kabir Turun dari Jabatannya
171 tahun yang lalu, tanggal 20 Muharam 1268 HQ, Mirza Taqi Khan Amir Kabir turun dari jabatannya.
Mirza Taqi Khan Amir Kabir merupakan salah seorang dari tokoh politik terkenal Iran pada era Dinasti Qajar dan pernah menjadi perdana menteri pada masa kekuasaan Shah Nasiruddin.
Amir Kabir adalah seorang tokoh yang independen, beriman, pengembang ilmu dan pencinta budaya, serta merupakan salah seorang pelopor reformasi dan pencetus ide-ide cemerlang dalam bidang ilmu, pendidikan, dan budaya di Iran. Beliau berusaha keras untuk memajukan rakyat Iran dan di sepanjang era kepemimpinannya, dia telah melakukan banyak kebijakan dan reformasi.
Amir Kabir juga dikenal sebagai pemimpin yang berusaha untuk mencegah dan menghalangi campur tangan asing dalam urusan Iran, dan berusaha menghentikan perampokan dan perampasan harta dan kekayaan negara oleh agresor dan imperialis.
Di antara hasil-hasil karya beliau adalah pendirian Madrasah Darul Funun, penerbitan dan penerjemahan buku-buku, surat kabar ilmiah dan sastra. Namun segala usaha dan perjuangan Amir Kabir untuk meninggikan derajat bangsa Iran telah menyebabkan kemarahan dan kebencian para imperialis dan antek-antek mereka di dalam negeri. Akibat tekanan dan konspirasi dari musuh-musuh Amir Kabir, Shah Qajar memecat beliau dari jabatannya sebagai perdana menteri. Amir Kabir kemudian dibuang ke Kashan dan akhirnya terbunuh di sana.
Pangeran Antasari, Pahlawan Nasional Indonesia Wafat
155 tahun yang lalu, tanggal 11 Oktober 1862, Pangeran Antasari meninggal di Bayan Begok, Sampirang di usia 65 tahun.
Pangeran Antasari lahir di Kayu Tangi, Kesultanan Banjar, pada 1797. Pangeran Antasari adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah Sultan Banjar. Pada 14 Maret 1862, beliau dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar) dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dihadapan para kepala suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Tumenggung Surapati/Tumenggung Yang Pati Jaya Raja.
Semasa muda nama beliau adalah Gusti Inu Kartapati. Ibu Pangeran Antasari adalah Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman. Ayah Pangeran Antasari adalah Pangeran Masohut (Mas'ud) bin Pangeran Amir. Pangeran Antasari memiliki 3 putera dan 8 puteri.
Setelah berjuang di tengah-tengah rakyat, Pangeran Antasari kemudian wafat di tengah-tengah pasukannya tanpa pernah menyerah, tertangkap, apalagi tertipu oleh bujuk rayu Belanda pada tanggal 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang.
Wartawan Iran Lakukan Aksi Mogok Protes Sensor Rezim Shah
39 tahun yang lalu, tanggal 19 Mehr 1357 HS, wartawan Iran melakukan aksi mogok memrotes sensor yang dilakukan rezim Shah Pahlevi.
Bersamaan dengan memuncaknya aksi mogok yang dilakukan pegawai pemerintah menentang rezim Pahlevi, para wartawan koran pagi dan sore Tehran pada 19 Mehr 1357 memulai aksi mogok mereka.
Para pelaku aksi mogok menuntut pembatalan langkah pemerintah yang menyensor media negara ini. Menyusul aksi mogok itu dan tidak terbitnya koran pagi dan sore Tehran, pemerintahan sementara mengeluarkan pengumuman yang isinya menjamin hak izin penerbitan dan pembatalan sensor media berdasarkan UUD.
Aksi mogok insan press Iran memrotes sensor yang dilakukan pemerintah dilakukan dalam kondisi dua hari sebelumnya, 17 Mehr 1357, para buruh pabrik Zob Ahan Isfahan bergabung dengan para demonstran lainnya menentang rezim Pahlevi.