Jalan Menuju Cahaya 672
Surat an-Naml ayat 12-16
وَأَدْخِلْ يَدَكَ فِي جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ فِي تِسْعِ آَيَاتٍ إِلَى فِرْعَوْنَ وَقَوْمِهِ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ (12)
“Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia akan ke luar putih (bersinar) bukan karena penyakit. (Kedua mukjizat ini) termasuk sembilan buah mukjizat (yang akan dikemukakan) kepada Fir'aun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (27: 12)
Sebelum ini sudah disinggung bahwa Nabi Musa as bersama keluarganya sedang dalam perjalanan menuju Mesir, dan Allah Swt mengangkat Musa menjadi nabi dan sebagai mukjizat risalahnya, Tuhan berfirman kepadanya, “Lemparkanlah tongkatmu.” Tongkat itu kemudian berubah menjadi ular dan Musa merasa takut dengannya. Namun, ayat 12 surat an-Naml menyinggung tentang mukjizat kedua Nabi Musa as.
Allah berfirman kepadanya, “Dan Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia akan ke luar putih (bersinar) bukan karena penyakit. (Kedua mukjizat ini) termasuk sembilan buah mukjizat (yang akan dikemukakan) kepada Fir'aun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik."
Musa diperkenankan untuk menggunakan mukjizat tersebut ketika menyeru Fir’aun dan Bani Israil kepada pengesaan Tuhan sehingga mereka tidak bisa lagi mencari-cari alasan untuk menolak kebenaran. Mukjizat-mukjizat itu antara lain terbelahnya Sungai Nil dan keluarnya 12 mata air dari gunung batu dengan pukulan tongkat Nabi Musa. Perlu diketahui bahwa setelah Fir’aun dan bala tentaranya menyerang Bani Israil, Nabi Musa as menghempaskan tongkatnya ke Sungai Nil dan kemudian terbentang sebuah jalan untuk penyeberangan Bani Israil. Dalam kasus lain, Musa memukul tongkatnya ke gunung batu dan memancar 12 mata air.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Sistem alam merupakan ciptaan Allah Swt dan sesuatu yang dikehendaki oleh-Nya pasti terjadi, meski itu tergolong perkara luar biasa dan keluar dari kebiasaan yang berlaku di alam ini.
2. Sebagian umat dan individu sangat bersikeras pada jalan kesesatan sehingga satu mukjizat tidak bisa memuaskan mereka. Mereka menuntut mukjizat-mukjizat lain dari Allah sehingga hati mereka mungkin akan tunduk pada kebenaran.
فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ آَيَاتُنَا مُبْصِرَةً قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (13) وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ (14)
Maka tatkala mukjizat-mukjizat Kami yang jelas itu sampai kepada mereka, berkatalah mereka, “Ini adalah sihir yang nyata.” (27: 13)
Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan. (27: 14)
Musa as mendatangi Fir’aun dan kaumnya untuk menunaikan misi kenabian dan mengajak mereka menyembah Tuhan Yang Esa. Namun, Fir’aun dan orang-orang terdekatnya – setelah menyaksikan beberapa mukjizat – bukannya menerima seruan Nabi Musa, tapi justru mereka menuding utusan Allah Swt itu sebagai tukang sihir.
Akan tetapi, Allah Swt berfirman bahwa pengingkaran dan tudingan itu tidak berasal dari keraguan mereka dalam risalah Musa. Mereka memahami kebenaran ucapan Musa dan juga meyakini kebenaran perkataannya. Namun perkara yang membuat mereka tidak menerima kebenaran adalah karena kesombongan dan keangkuhan mereka. Sungguh berat dan pahit buat mereka jika harus menaati seseorang yang lebih rendah kedudukannya dari mereka dalam strata sosial.
Kecongkakan itu membuat Fir’aun dan pendukungnya terjebak dalam kezaliman yang besar dan menuding Musa sebagai tukang sihir dan sulap. Pada dasarnya, kezaliman terhadap Musa dan ajarannya merupakan kezaliman terhadap mereka sendiri, karena kesudahan mereka sangat mengerikan dan mereka tenggelam di Sungai Nil.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Derajat iman lebih tinggi dari ilmu dan yakin. Manusia kadang percaya dengan sebuah kebenaran dalam hatinya dan memahami kebenaran itu, tapi tetap saja mengingkarinya dan tidak bersedia tunduk kepada kebenaran. Iman adalah tunduk di hadapan kebenaran.
2. Salah satu halangan untuk menerima kebenaran adalah sifat takabbur dan kesombongan, di mana seseorang menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya dan meremehkan ucapan-ucapan mereka.
3. Kesudahan perbuatan orang-orang fasik adalah kebinasaan dan kehancuran.
وَلَقَدْ آَتَيْنَا دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا وَقَالَا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ (15) وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ (16)
Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan, “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman.” (27: 15)
Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata, “Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata.” (27: 16)
Setelah menjelaskan tentang kisah Nabi Musa as, ayat tersebut kemudian menyinggung tentang perjalanan dua orang nabi yang diutus untuk Bani Israil yaitu, Nabi Daud dan Sulaiman as. Kedua pribadi agung ini menikmati kondisi yang sepenuhnya berbeda dengan para nabi lain. Salah satu kriteria mereka adalah membentuk pemerintahan untuk mengatur negara.
Jika nabi-nabi lain senantiasa menjadi sasaran gangguan, amukan, dan pengusiran masyarakat dari desa-desa mereka, maka Nabi Daud dan Sulaiman as berada di puncak kekuasaan dan kejayaan, tidak hanya manusia tapi golongan jin juga tunduk di bawah perintah mereka. Ayat tersebut menganggap rahasia kekuasaan dan kejayaan pemerintahan Daud dan Sulaiman terletak pada ilmu dan pengetahuan khusus yang diberikan Allah Swt kepada mereka.
Dengan berbekal pengetahuan itu, mereka mampu membangun pemerintahan yang megah. Mereka mengetahui kadar dan nilai pengetahuan tersebut sehingga tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah Swt atas anugerah, yang telah membuat mereka lebih unggul dari orang lain.
Salah satu dari ilmu istimewa itu adalah kemampuan untuk memahami bahasa burung dan keleluasaan untuk memanfaatkan semua sarana dan nikmat-nikmat materi. Itu semua termasuk salah satu dari karunia dan anugerah Allah Swt yang nyata.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Ilmu para nabi adalah Ilmu Laduni yang diberikan melalui ilham kepada mereka.
2. Agama tidak terpisah dari politik. Ketika kenabian bersatu padu dengan pemerintahan, maka partisipasi kaum mukmin dalam urusan politik untuk membentuk sebuah pemerintahan religius atau paling tidak memerangi kekuatan-kekuatan arogan, merupakan sebuah perkara yang diterima.
3. Pengelolaan negara harus didasarkan pada ilmu pengetahuan, bukan selera individu atau partai.
4. Ilmu dan nikmat yang kita miliki merupakan karunia dan pemberian Ilahi, bukan karena kelayakan kita. Untuk itu, kita wajib selalu bersyukur kepada-Nya, bukan malah terjebak dalam kesombongan dan keangkuhan serta melupakan Tuhan.