Jalan Menuju Cahaya 673
Surat an-Naml Ayat 17-22.
وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ (17) حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (18)
Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). (27: 17)
Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut, “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (27: 18)
Dalam ayat sebelumnya dijelaskan bahwa Allah Swt telah memberikan ilmu kepada Nabi Daud dan Nabi Sulaiman as sehingga dengan ilmu ini, mereka mampu memerintah negeri Syam dan sekitarnya. Sementara, ayat-ayat di atas menjelaskan, pasukan dan tentara merupakan salah satu kebutuhan penting bagi sebuah pemerintahan.
Disebutkan bahwa sekelompok manusia, jin dan burung mengabdi kepada Nabi Sulaiman as dan menjadi tentaranya. Beliau dapat memerintahkan mereka untuk melawan musuh kapan saja jika diperlukan.
Suatu hari, Nabi Sulaiman as memanggil mereka. Tentara dari manusia, jin dan manusia itu datang dan berbaris rapi serta berjalan dengan tertib. Tibalah mereka di sebuah lembah yang banyak semutnya. Dengan izin Allah Swt, Nabi Sulaiaman as mendengar dialog di antara semut-semut di lembah itu.
Salah satu semut berkata, “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari, dan mereka dengan tidak sengaja akan menghancurkan kalian.” Tampaknya semut itu mengetahui bahwa Nabi Sulaiman as sebagai pemimpin, tidak boleh menyakiti semut, dan tentaranya juga tidak boleh menindas semut.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Manusia memiliki kemampuan untuk mengusai dan menaklukkan jin dan meminta bantuannya untuk melakukan suatu pekerjaan.
2. Keteraturan, kedisiplinan, kekuatan militer dan pemanfaatan pasukan yang tangguh untuk menghadapi musuh, termasuk dari ciri-ciri pemerintahan Anbiya.
3. Hewan-hewan memahami bahaya dan mereka saling memperingatkan satu dengan yang lainnya.
4. Manusia pilihan Allah Swt tidak menyakiti (dengan sengaja) dan tidak merugikan makhluk lainnya, bahkan terhadap semut.
فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ (19)
Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (27: 19)
Peringatan semut kepada semut lainnya supaya masuk ke dalam sarang agar tidak diinjak oleh Nabi Sulaiman as dan tentaranya telah membuat beliau kagum dan tersenyum. Beliau berpikir bagaimana mungkin seekor semut memikirkan keselamatan nyawa sesamanya?
Peristiwa tersebut juga membuat Nabi Sulaiman as berpikir jangan sampai ia telah menyakiti atau menganiaya bawahannya atau orang-orang lemah selama ia memerintah meskipun hal itu dilakukan tanpa disengaja.
Nabi Sulaiman as kemudian berdoa dan memohon kepada Allah Swt untuk membantunya dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, baik tugas individu, keluarga maupun sosial. Beliau juga berdoa supaya dapat mensyukuri nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah Swt kepadanya dan kedua orang tuanya.
Nabi Sulaiman as berdoa supaya tidak melakukan perbuatan kecuali yang diridhoi Allah Swt ketika menjalankan tugas pemerintahan dan sosialnya. Beliau juga memohon supaya dimasukkan ke dalam rahmat-Nya dan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang saleh.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Salah satu ciri pemimpin adalah keterbukaan, di mana ia bersedia mendengar kritikan, dan dengan senang hati menyambut kritikan itu. Seperti halnya Nabi Sulaiman as ketika mendengar pembicaraan semut, beliau tersenyum dan menyambutnya.
2. Syukur atas nikmat-nikmat Allah Sw tidak hanya terbatas pada ucapan. Penggunaan nikmat-nikmat tersebut dengan benar, perbuatan baik dan terpuji serta pelayanan kepada hamba-hamba Allah Swt, juga termasuk dari bentuk syukur.
3. Pekerjaan yang baik akan bernilai ketika tujuannya untuk memperoleh ridha dari Allah Swt, bukan untuk memperoleh nama atau pujian atau supaya terkenal di kalangan masyarakat.
وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ (20) لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (21) فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ (22)
Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. (27: 20)
Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.” (27: 21)
Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.” (27: 22)
Pada ayat-ayat sebelumnya telah dijelaskan bahwa burung-burung menjadi tentara Nabi Sulaiman as dan mereka memberikan kabar tentang apa yang terjadi di negeri Syam dan sekitarnya. Dalam ayat-ayat ini disebutkan bahwa Nabi Sulaiman as memeriksa burung-burung itu dan melihat semua burung telah hadir kecuali Hud-hud.
Untuk bersikap tegas dalam menjalankan pemerintahanya, Nabi Sulaiman as berkata, jika Hud-hud meninggalkan tempat tugasnya disebabkan kemalasannya, maka aku akan menindaknya dengan tegas, dan bahkan akan menghukum mati kecuali jika ia benar-benar datang kepadaku dengan alasan yang terang.
Tak lama kemudian Hud-hud datang dan berkata, aku telah pergi ke negeri Saba dan melihat hal-hal yang kamu belum mengetahuinya. Aku akan menceritakan hal ini kepadamu. Dengan membawa berita penting tersebut, Hud-hud bisa menjustifikasi ketidakhadirannya sehingga Nabi Sulaiman as tidak menghukumnya.
Dari tiga ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Mengunjungi bawahan dan mencari tahu keadaan mereka merupakan sirah Auliya Allah Swt.
2. Kewaspadaan, ketelitian dan kefasihan merupakan syarat yang diperlukan sebagai seorang pemimpin masyarakat. Seperti halnya Nabi Sulaiman as yang sangat teliti dalam mengawasi semua hal dalam pemerintahannya.
3. Dalam sebuah sistem pemerintahan, kelalaian tidak dapat diterima. Para pelanggar harus ditindak dengan tegas supaya menjadi pelajaran bagi yang lainnya, sehingga mereka tidak berani melanggar.
4. Rasional dan menerima alasan masuk akal yang disertai dengan ketegasan dan kekuatan, adalah hal yang diperlukan bagi kepemimpinan dan kedaulatan Islam.