Jalan Menuju Cahaya 675
Surat an-Naml ayat 29-35
قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ (29) إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (30) أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (31)
Berkata ia (Balqis), “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. (27: 29)
Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya, ”Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (27: 30)
Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (27: 31)
Pembahasan sebelumnya menjelaskan bahwa setelah menerima informasi dari Hud-hud tentang situasi di negeri Saba dan penduduknya yang menyembah matahari, Nabi Sulaiman as kemudian menulis sebuah surat dan menugaskan burung itu untuk menyampaikannya kepada Ratu Saba. Hud-hud masuk ke istana Saba dan menjatuhkan surat tersebut kepada Ratu Balqis.
Ayat-ayat di atas menyebutkan, setelah melihat surat yang dibawa Hud-hud, Ratu Balqis memahami burung yang indah itu diutus untuk membawa pesan dari seorang yang berkedudukan tinggi. Ia kemudia memanggil para pejabat kerajaan dan penasihatnya dan menceritakan peristiwa tersebut.
Ratu Balqis kemudia membacakan sendiri surat tersebut di hadapan para pejabat kerajaan. Surat Nabi Sulaiman as dimulai dengan nama Allah Swt dan berisi dua hal; pertama menyerah dan takluk kepada kebenaran dan kedua, menjauh dari segala bentuk pembangkangan dan pemberontakan kepada pemerintahan Nabi Sulaiman as.
Dari tiga ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Semua pekerjaan harus kita mulai dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, bahkan dalam menulis surat kepada orang-orang Kafir, kita tidak boleh lupa untuk memulainya dengan Bismilillahirrahmanirrahim.
2. Superioritas dapat menghalangi manusia untuk menerima kebenaran. Apalagi merasa unggul di hadapan Auliya Allah Swt.
قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَا كُنْتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّى تَشْهَدُونِ (32) قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ (33)
Berkata dia (Balqis), “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku).” (27: 32)
Mereka menjawab, “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.” (27: 33)
Setelah membaca surat Nabi Sulaiman as, Ratu Saba yang merupakan politikus dan selalu berpikir matang, meminta pejabat-pejabat kerajaan dan para panglima untuk memberikan pertimbangan mereka tentang jawaban surat tersebut. Tentu saja konsultasi ini akan membantu Ratu Balqis mengetahui kesiapan bawahannya untuk menghadapi Nabi Sulaiman as. Ini merupakan cara terbaik yang harus diambil.
Mendengar permintaan Ratu Balqis, penasihat-penasihat dan para komandan pasukan kerajaan membanggakan kekuatan dan fasilitas mereka dan mengumumkan kesiapannya untuk menghadapi segala bentuk serangan dari Nabi Sulaiman as.
Ketegasan tersebut diungkapkan karena mereka memahami surat itu sebagai pengumuman perang dari Nabi Sulaiman as. Dan seperti halnya para pemimpin militer di banyak negara, mereka lebih baik mengusulkan perang daripada menyerah. Meski mereka menyatakan kesiapannya, namun mereka tetap menyerahkan keputusan akhir kepada Ratu Balqis dan mereka siap melakukan apa yang akan diperintahkannya.
Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Memiliki militer dan pasukan yang kuat serta fasilitas yang lengkap bagi sebuah negara adalah penting. Namun hal itu tidak boleh menimbulkan kesombongan dan menghalangi untuk menerima kebenaran.
2. Konsultasi dan musyawarah dalam pekerjaan-pekerjaan khusus yang berhubungan dengan langkah-langkah pemerintah adalah penting. Namun keputusan final harus diambil oleh satu orang supaya proses selanjutnya tidak kacau dan berantakan.
قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً وَكَذَلِكَ يَفْعَلُونَ (34) وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ (35)
Dia berkata, “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. (27: 34)
Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.” (27: 35)
Setelah mendengar pendapat dari para pembesar istana dan mengetahui kesiapan mereka untuk berkonfrontasi, Ratu Saba menjelaskan keputusannya. Menurutnya, jika mereka berperang, maka tidak akan menghasilkan apapun kecuali kerusakan dan kehancuran. Sebab, para penguasa otoriter yang masuk ke setiap kota akan menghancurkan rumah-rumah penduduk di kota tersebut. Mereka akan membunuh laki-laki atau menyanderanya dan menghinakan para penduduk.
Oleh karena itu, Ratu Saba memutuskan untuk menggali informasi lebih tentang Sulaiman as supaya dapat mengetahui dengan benar apa tujuan pengiriman surat itu. Ratu Balqis kemudian menyiapkan hadiah berharga dan dikirim ke Nabi Sulaiman as untuk melihat apa reaksinya.
Mungkin dengan mengirim hadiah tersebut, Ratu Saba juga ingin menguji Nabi Sulaiman as, apakah ia benar-benar seorang Nabi atau hanya seorang raja yang mabuk kekuasaan dan berupaya mendominasi kerajaan-kerajaan lain. Sebab, ia tahu bahwa para nabi tidak akan terpikat oleh kekayaan dunia dan tidak akan berhenti untuk berdakwah dan memberikan petunjuk serta bimbingan. Dan hanya raja-raja haus kekuasaan yang akan melakukan segala cara untuk mencapai kepentingan dan ambisi pribadinya.
Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Korupsi dan menyulut perang serta pertumpahan darah merupakan gaya dan cara pemerintahan non-ilahi, dimana tujuannya adalah mendominasi negara lain.
2. Kita harus hati-hati ketika menerima hadiah. Sebab, terkadang hadiah itu merupakan suap untuk menguji kita atau untuk melanggar hak-hak kita.