Jalan Menuju Cahaya 676
Surat an-Naml ayat 36-40.
فَلَمَّا جَاءَ سُلَيْمَانَ قَالَ أَتُمِدُّونَنِ بِمَالٍ فَمَا آَتَانِيَ اللَّهُ خَيْرٌ مِمَّا آَتَاكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُونَ (36) ارْجِعْ إِلَيْهِمْ فَلَنَأْتِيَنَّهُمْ بِجُنُودٍ لَا قِبَلَ لَهُمْ بِهَا وَلَنُخْرِجَنَّهُمْ مِنْهَا أَذِلَّةً وَهُمْ صَاغِرُونَ (37)
Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata, “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. (27: 36)
Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina.” (27: 37)
Pada pertemuan sebelumnya telah kita sebutkan surat Nabi Sulaiman, Ratu Saba mengirim utusan bersama dengan hadiah kepada Nabi Sulaiman untuk mengujinya, apakah niat beliau melayangkan surat adalah harta dan kekayaan duniawi atau selain itu? Dia menyuruh para utusannya untuk memperhatikan apa reaksi Nabi Sulaiman as di hadapan hadiah-hadiah yang diberikan kepada beliau dan untuk melaporkannya kembali kepada sang ratu.
Pada ayat ini, Nabi Sulaiman as tidak bergembira melihat hadiah-hadiah tersebut, bahkan menilainya sebagai bentuk suap dan mengatakan, “Apakah kalian beranggapan bahwa aku menginginkan harta dan kekayaan sehingga kalian membawa hadiah-hadiah sebanyak ini? Apa yang kalian bawa ini tidak ada nilainya di hadapan apa yang telah dilimpahkan Allah Swt kepadaku. Niatku adalah agar kalian berserah diri di hadapan kebenaran. Aku akan datang kepada kalian dengan pasukan besar dan aku akan merebut kekuasaan dari tangan kalian, sehingga kalian terpaksa dengan terhina keluar dari wilayah itu. Aku berharap karena suratku, kalian meneliti dan kalian meminta bukti dariku atas seruan kenabianku, bukannya berusaha menipuku dengan mengirim hadiah.”
Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Para auliya Allah Swt dalam seluruh perilakunya tidak akan menukar tugas, tujuan dan tanggung jawab yang mereka emban dengan uang atau kesenangan duniawi.
2. Logika harus digunakan dalam menghadapi orang lain, akan tetapi di hadapan mereka yang tidak ingin menerima kebenaran, yang harus ditunjukkan adalah kekuatan.
3. Masalah jihad juga ada dalam agama-agama seblum Islam.
قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (38)
Berkata Sulaiman, “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (27: 38)
Sebagaimana disebutkan dalam berbagai kitab tafsir al-Quran, para utusan Ratu Saba setelah bertemu dengan Nabi Sulaiman as, menghadap Ratu Balqis dan menceritakan reaksi Nabi Sulaiman as di hadapan kiriman hadiah itu dan juga kekokohan dan keagungan istananya. Ketika itu, sang ratu memutuskan untuk langsung menemui Nabi Sulaiman as dan menyatakan ketidakinginannya untuk berkonfrontasi dengan pasukan beliau. Berkat wahyu ilahi, Nabi Sulaiman as mengetahui niat sang ratu. Dan untuk menunjukkan kekuasaan Allah Swt, Nabi Sulaiman as memerintahkan para pejabat istananya untuk menghadirkan singgasana sang ratu di istananya di Yaman menuju istana Nabi Sulaiman di Syam.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Para nabi memiliki ilmu gaib dan kapanpun diperlukan, mereka akan menggunakannya dengan benar.
2. Masalah Ilmu Tayyul Ard (lipatan bumi) dan penempuhan jarak jatuh pada masa yang sangat singkat adalah hal yang mungkin dan pelakunya juga tidak harus para nabi. Oleh karena itu, Nabi Sulaiman as menyuruh siapa pun dari para pejabat istananya yang mampu untuk melakukannya.
قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ (39) قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآَهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ (40)
Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin, “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.” (27: 39)
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata, ‘Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (27: 40)
Menyusul perintah Nabi Sulaiman as, dua orang menyatakan siap untuk menghadirkan singgasana Ratu Balqis dari Yaman menuju Syam dalam waktu singkat. Salah satu di antaranya adaah jin yang berada di istana Nabi Sulaiman as. Dia menyatakan siap untuk menghadirkan singgasana Ratu Balqis sebelum Nabi Sulaiman as selesai bangkit dari singgasana beliau.
Akan tetapi ada orang lain bernama Asif bin Barkhia yang termasu di antara menteri Nabi Sulaiman as dan kelak sepeninggal beliau akan menjadi penerus kekuasaan Nabi Sulaiman as, menyatakan dapat menghadirkan singgasan tersebut hanya dalam sekejap mata.
Mengingat masa yang ditawarkan Asif lebih pendek, maka Nabi Sulaiman as menyetujui usulannya. Asif pun langsung menghadirkan singgasana Ratu Balqis dari Yaman ke istana Nabi Sulaiman as hanya dalam sekejap mata dan disaksikan oleh semua hadirin di sana.
Hal itu membuat para murid dan menteri Nabi Sulaiman as terkesima, dan mengingat mereka mungkin akan merasa sombong, maka dengan segera Nabi Sulaiman as mengucapkan nama Allah Swt untuk menghilangkan rasa takabur tersebut. Beliau ingin menegaskan bahwa keberhasilan melakukan sesuatu istimewa seperti ini adalah berkat kuasa Allah Swt dan bahwa jika tanpa izin Allah Swt maka hal itu tidak akan mampu terjadi. Nabi Sulaiman as juga menegaskan bahwa Allah Swt tidak memerlukan rasa terima kasih dan syukur kita karena Allah Swt lebih mulia dan lebih agung dari mengharap syukur kita.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Manusia mampu menguasai hukum alam dengan memanfaatkan ilmu ilahi.
2. Manusia dewasa ini mampu menghadirkan suara atau gambar sesuatu ke seluruh penjuru dunia denganmenggunakan teknologi. Menghadirkan sesuatu itu sendiri di luar hukum alam terkait masa dan materi juga bukan hal yang mustahil, meskipun ilm manusia hingga kini belum mencapainya.
3. Agar jangan sampai kita bertakabur pada kemampuan dan ilmu yang kita miliki, karena sesungguhnya semua yang kita miliki bukan benar-benar dari kita sendiri, melainkan berkat anugerah tanpa batas Allah Swt.