Feb 08, 2018 11:46 Asia/Jakarta

Surat an-Naml ayat 41-44.

قَالَ نَكِّرُوا لَهَا عَرْشَهَا نَنْظُرْ أَتَهْتَدِي أَمْ تَكُونُ مِنَ الَّذِينَ لَا يَهْتَدُونَ (41) فَلَمَّا جَاءَتْ قِيلَ أَهَكَذَا عَرْشُكِ قَالَتْ كَأَنَّهُ هُوَ وَأُوتِينَا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهَا وَكُنَّا مُسْلِمِينَ (42) وَصَدَّهَا مَا كَانَتْ تَعْبُدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنَّهَا كَانَتْ مِنْ قَوْمٍ كَافِرِينَ (43)

Dia berkata, “Rubahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya).” (27: 41)

Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya, “Serupa inikah singgasanamu?” Dia menjawab, “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (27: 42)

Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir. (27: 43)

Dalam pertemuan sebelumnya telah kita sebutkan bahwa Ratu Balqis bersama sejumlah pejabat istananya bergerak dari Yaman menuju Suriah untuk menyatakan penyerahan diri mereka kepada Nabi Sulaiman as, dan juga penjelasan tentang penghadiran singgasana Ratu Balqis ke istana Nabi Sulaiman dalam sekejap mata oleh salah satu menteri.

Pada ayat tersebut, Nabi Sulaiman as ingin menguji tingkat ketelitian Ratu Balqis dan juga untuk menunjukkan hal yang luar biasa kepadanya. Oleh karena itu, Nabi Sulaiman as memerintahkan agar singgasana Ratu Balqis dihiasi sedemikian rupa sehingga tampak berbeda dari sebelumnya. Ketika Ratu Balqis memasuki istana Nabi Sulaiman as, dia dipersilahkan duduk di singgasananya. Kemudia dia ditanya, “Apakah singgasanamu mirip seperti ini?”

Ratu Balqis dengan cepat mengenal bahwa singgasana yang didudukinya adalah miliknya hanya dengan sedikit perubahan dan mengatakan, “Tampaknya ini singgasanaku.” Kemudian Ratu Balqis berkata, “Jika dengan hal ini Anda ingin menunjukkan kekuatan Anda kepada kami dan agar kami berserah diri, maka sebelum kami datang ke sini, kami telah mengakui kekuatan Anda dan kami datang dengan kondisi berserah diri.”

Dalam lanjutan ayat itu disebutkan, mengingat Ratu Balqis hidup dalam masyarakat kafir yang menyembah matahari dan berhala, maka tidak ada peluang baginya untuk mengenal Tuhan. Akan tetapi ketika kebenaran ditunjukkan kepadanya, sang ratu langsung mengakui, menerima dan berserah diri di hadapan kebenaran.

Dari tiga tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

1. Keimanan dan penyerahan diri hanya akan berharga jika berdasarkan pengetahuan dan makrifat, bukan karena asal mengikuti.

2. Mengingat manusia dapat berubah, maka masa lalu yang kelam bukan berarti masa depan yang buruk. Betapa banyak manusia yang memiliki masa lalu yang kelam akan tetap kemudian berada di jalan yang lurus dan terislahkan.

قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الصَّرْحَ فَلَمَّا رَأَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَا قَالَ إِنَّهُ صَرْحٌ مُمَرَّدٌ مِنْ قَوَارِيرَ قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (44)

Dikatakan kepadanya, “Masuklah ke dalam istana.” Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman, “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca.” Berkatalah Balqis, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (27: 44)

Dari ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa Nabi Sulaiman as memerintahkan menghiasi lantai pelataran istana dengan kaca dan kristal terpoles dan agar dibawahnya dialirkan air. Ketika Ratu Balqis hendak melintasi pelataran istana, dia beranggapan bahwa akan melintasi sungai, maka dia mengangkat busananya agar tidak basah. Melihat hal itu, Nabi Sulaiman as berkata, “Pelataran istana terbuat dari kaca dan kristal, sehingga orang tidak akan menyadarinya dan menganggap di depannya adalah sungai dan melepas alas kakinya.”

Wajar jika Ratu Balqis yang dia sendiri memiliki tahta dan istana terkesima menyaksikannya. Karena dia menyadari betapa kecilnya kekuatan kerajaannya di hadapan keagungan dan kemegahan istana Nabi Sulaiman as. Oieh karena itu, tidak tersisa lagi alasan bagi Ratu Balqis untuk memamerkan kekuasaannya di hadapan Nabi Sulaiman as.

Dengan kata lain, Nabi Sulaiman as dengan menunjukkan kekuatan dan kepasitas materi dan non-materinya telah memahamkan Ratu Balqis agar tidak mencoba melawan dan tidak melakukan apapun yang akan membuat kedua pihak harus menebus kerugian akibat perang.

Setelah kalah dari sisi kekuatan dan kekayaan materi, Ratu Balqis berserah diri pada sisi spiritual di hadapan agama yang dibawa oleh Nabi Sulaiman. Karena dia menyadari bahwa dengan keagungan dan kemegahan yang dimiliki, Nabi Sulaiman as tidak sombong dan bahkan tidak tergiur dengan gemerlap materi.

Pada saat yang sama, Ratu Balqis juga memahami bahwa selain menjadi raja, juga melaksanakan tugasnya sebagai nabi dan menyampaikan risalahnya dengan sungguh-sungguh. Kedua, status yang diemban oleh Nabi Sulaiman as tidak saling bertentangan. Ratu Balqis pun beristigfar dan memohon ampunan dari Allah Swt serta meninggalkan kesyirikan dan memeluk agama Allah Swt.

Menariknya, Ratu Balqis tidak mengatakan, “Aku berserah diri di hadapn Sulaiman”, melainkan “Aku berserah diri kepada Allah Swt, sebagaimana Sulaiman berserah diri kepada-Nya dan kami berdua adalah hamba Allah Swt”.

Tidak diragukan lagi bahwa iman Ratu Balqis kepada Allah Swt menjadi awal dari keimanan seluruh rakyat di negerinya sehingga mereka semua bertauhid dan menjauhkan diri dari kesyirikan.

Dari ayat tadi terdapat empat pelajaran yang dapat dipetik:

1. Kekayaan materi harus digunakan untuk dakwah dan memperluas agama Allah Swt, sebagaimana Nabi Sulaiman as menggunakan kekayaan dan sarana materi yang dimilikinya untuk membimbing masyarakat.

2. Pemanfaatan elemen-elemen seperti kesenian, keindahan, industri dan teknologi oleh pemerintah religi untuk membuat kaum kafir tunduk adalah hal yang terpuji.

3. Taubat sejati adalah mengakui kekhilafan di masa lalu serta memohon ampunan dari Allah Swt dan menempuh jalan masa depan dengan pelita hidayah Allah Swt.

4. Inti keimanan adalah berserah diri di hadapan Allah Swt, seperti yang telah diumumkan oleh Ratu Balqis, dimana dia menyatakan berserah diri di hadapan Allah Swt.