Jalan Menuju Cahaya 678
Surat an-Naml ayat 45-49.
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ (45) قَالَ يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (46) قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَنْ مَعَكَ قَالَ طَائِرُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُونَ (47)
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shaleh (yang berseru), “Sembahlah Allah.” Tetapi tiba-tiba mereka (jadi) dua golongan yang bermusuhan. (27: 45)
Dia berkata, “Hai kaumku mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” (27: 46)
Mereka menjawab, “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu.” Saleh berkata, “Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji.” (27: 47)
Sejak awal surat an-Naml hingga kini, telah disebutkan kisah-kisah kehidupan nabi Musa, Dawud dan Saleh as. Pada ayat-ayat ini akan dijelaskan tentang risalah nabi Saleh untuk kaum Tsamud di mana beliau berusaha keras membimbing kaumnya pada ketauhidan dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Sekelompok di antara mereka beriman dan mengikuti seruan Nabi Saleh sementara kelompok lainnya menolak dan kafir. Oleh karena itu muncul pertentangan dan permusuhan di antara kaum Mukminin dan Kafirin. Permusuhan itu terkadang terjadi secara individu dan terkadang secara kelompok.
Nabi Saleh as memperingatkan kaum Kafir yang keras kepala bahwa akibat dari perilaku mereka adalah neraka dan azab, serta agar mereka menyesali perbuatan buruk mereka dan segera beriman kepada Allah Swt. Akan tetapi dalam menjawab seruan itu mereka berkata, “Jika kau berkata benar, mengapa Tuhanmu tidak menurunkan azab bagi kami? Dan agar urusan di antara kita terselesaikan di dunia ini?”
Dalam lanjutan ayat disebutkan, Nabi Saleh as berkata kepada mereka, “Mengapa alih-alih beristighfar memohon ampunan dari Allah Swt atas dosa-dosa di masa lalu kalian agar kalian diberi rahmat, kalian justru meminta penyegeraan azab? Mengapa alih-alih bertaubat, kalian memohon azab? Alih-alih berupaya untuk mendapatkan rahmat Allah Swt yang menjadi sumber kebaikan dan kebahagian kalian, mengapa kalian mengharapan percepatan azab yang menjadi sumber keburukan bagi kalian?”
Pengalaman menunjukkan bahwa di sepanjang sejarah, para pengingkar dan musuh alih-alih menerima peringatan para nabi, akan melawan mereka dan berusaha mengusir atau bahkan membunuh mereka. Dalam kisah Nabi Saleh as, mengingat kekeringan dan kelaparan, mereka mengatakan bahwa semua bencana tersebut adalah akibat ucapan Nabi Saleh as dan para pengikut beliau. Mereka mengklaim bahwa alam murka kepada mereka atas kehadiran Nabi Saleh as dan para pengikut beliau. Oleh karena itu mereka menilai Nabi Saleh as sebagai penyebab kesengsaraan mereka.
Akan tetapi Nabi Saleh as menjawab, “Nasib baik dan buruk kalian ada di tangan Allah Swt. Kalian sedang diuji dan kelaparan ini adalah bentuk ujian dari Allah Swt, bukan hal yang buruk yang diakibatkan oleh seseorang sehingga kalian menisbatkan kepadanya. Betapa amal buruk kalian sendiri yang mengakibatkan kekeringan dan kelaparan ini.”
Dari tiga ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Seruan ketauhidan adalah inti dari dakwah para nabi.
2. Sepanjang sejarah selalu ada permusuhan dan konfrontasi antara kebenaran dan kebatilan. Oleh karena itu jangan sampai ada harapan bahwa masyarakat langsung menerima logika serta beriman dan beramal saleh.
3. Di samping peringatan kepada para pendosa, harus dijelaskan pula jalan taubat sehingga terbuka jalan bagi mereka untuk kembali keja jalan yang benar.
4. Di hadapan logika dan argumentasi jelas para nabi, pada umumnya kaum kafir terjebak ilusi dan khurafat seperti, nasib baik dan buruk.
وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ (48) قَالُوا تَقَاسَمُوا بِاللَّهِ لَنُبَيِّتَنَّهُ وَأَهْلَهُ ثُمَّ لَنَقُولَنَّ لِوَلِيِّهِ مَا شَهِدْنَا مَهْلِكَ أَهْلِهِ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ (49)
Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. (27: 48)
Mereka berkata, “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar.” (27: 49)
Ayat-ayat tersebut menjelaskan makar pembunuhan terhadap Nabi Saleh as dan para pengikutnya oleh kaum kafir. Di antara kaum Tsamud, terdapat kelompok orang-orang fasid, penjahat dan kriminal. Mereka tidak memang tidak berniat melakukan kebaikan dan amal saleh. Kelompok-kelompok itu bersatu dan bersepakat untuk membunuh Nabi Saleh as dan para pengikutnya. Mereka juga sepakat untuk tidak menerima tuduhan terkait pembunuhan tersebut.
Menariknya, untuk mengingat janji tersebut, mereka bersumpah atas nama Allah di mana mereka mengakui bahwa Allah Swt adalah pencipta seluruh alam semesta, akan tetapi mereka menganggap berhala-berhala sebagai penentu nasib dan menyembahnya. Mereka mengatakan, “Tuhan menciptakan kita, akan tetapi Dia membiarkan kita, oleh karena itu kita melakukan apa saja yang kita inginkan dan kita anggab baik serta tidak perlu bagi Tuhan untuk mengutus para nabi.”
Sikap kaum Tsamud ini sama persis dengan pemikiran sejumlah cendikiawan kontemporer di mana mereka tidak mengingkari keberadaan Tuhan, namun manusia memiliki ikhtiar dan dia dapat melakukan apa saja yang dia inginkan dengan syarat tidak mengganggu orang lain.
Makar pembunuhan Nabi Saleh as dan para pengikut beliau itu mengingatkan kita pada rencana yang sama yang disusun oleh para kaum kafir Mekkah terhadap Nabi Muhammad Saw yang akan membunuh beliau di pembaringan nabi. Semua kelompok musyrikin bersepakat membunuh nabi sehingga tidak ada satu kelompok pun yang dapat melimpahkan tuduhan kepada kelompok lain.
Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Musuh para nabi bukan orang yang mendukung logika dan argumentasi. Untuk mencegah perluasan dakwah nabi, mereka menyusun makar dan rencana untuk membunuh para nabi.
2. Dalam serjarah telah disebutkan banyak contoh. Betapa banyak mereka yang bersumpah atas nama Tuhan untuk membunuh para nabi Allah dan ini membuktikan puncak kebodohan dan kesesatan mereka. Seperti yang dilakukan kaum khawarij, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Swt, membunuh hamba terpilih Allah Swt, Ali bin Abi Thalib as, di dalam masjid dan di bulan suci Ramadhan.