Jalan Menuju Cahaya 680
Surat an-Naml ayat 57-60
فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ قَدَّرْنَاهَا مِنَ الْغَابِرِينَ (57) وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَسَاءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِينَ (58)
Maka Kami selamatkan dia beserta keluarganya, kecuali isterinya. Kami telah mentakdirkan dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). (27: 57)
Dan Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu. (27: 58)
Pada pembahasan sebelumnya telah kita sebutkan bahwa kaum Nabi Luth as tidak mendengarkan peringatannya dan melanjutkan amal buruk mereka. Bahkan mereka mengancam akan mengusir Nabi Luth as bersama keluarga dan para pengikutnya jika mengusik mereka dan menolak mengikuti perbuatan mereka. Mereka mengolok Nabi Luth as dan berkata, “Jika kau ingin suci, maka pergilah kau dari kota ini sehingga kau tidak tertimpa azab kami.”
Ayat ini menyebutkan, setelah seluruh hujjah telah disampaikan terhadap kaum keras kepala ini, Allah Swt menurunkan azab-Nya dan diwahyukan kepada Nabil Luth atas rencana azab tersebut, sehingga beliau beserta keluarga dan para pengikutnya meninggalkan kota. Namun mengingat ada pengkhianat dalam keluarga Nabi Luth as, wahyu tersebut disampaikan kepada masyarakat, dan bahwa penyampai kabar tersebut juga termasuk di antara mereka yang tertimpa azab Allah Swt.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Keridhaan pada dosa orang lain dan kerjasama dengan penjahat, adalah perbuataan dosa di sisi Allah Swt dan akan mendapat azab.
2. Dalam agama Allah Swt, hukum berkuasa dalam setiap hubungan. Istri Nabi Luth as dan anak-anak beliau adalah orang-orang terdekat dengan beliau, akan tetapi mereka tidak terlepas dari azab Allah Swt. Sebaliknya, istri Firaun, termasuk di antara para penghuni surga.
3. Ketakwaan dan kesucian di dunia, akan menyelamatkan manusia dari azab dan murka Allah Swt.
قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى آَللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ (59)
Katakanlah, “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?” (27: 59)
Di akhir kisah lima nabi, ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw dan menekankan, puji dan syukurlah kepada Allah Swt, karena para pendosa dan mufsidin telah dimusnahkan dan membersihkan bumi dari wujud kotor mereka. Selain itu, ditekankan agar kita selalu menyampaikan salam dan shalawat kepada para nabi dan auliya Allah Swt, karena mereka adalah manusia-manusia pilihan Allah Swt dan selalu berjuang untuk memberi hidayah kepada masyarakat.
Ayat tersebut menjelaskan, apakah berhala-berhala yang kalian sembah serta kekayaan dan kekuasaan yang kalian andalkan dapat menyelamatkan kalian dari muka Allah Swt? Mengapa alih-alih menuju Allah Swt Yang Maha Esa kalian menyembah tuhan-tuhan fiktif? Apakah kalian tidak mengetahui nasib kaum-kaum durhaka di masa lalu tentang bagaimana mereka termusnahkan dari muka bumi ini?
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Disamping syukur atas seluruh nikmat ilahi, pujian kepada para hamba pilihan Allah Swt juga perlu, karena perhatian kepada manusia-manusia pilihan serta pujian kepada mereka akan memberikan pengaruh positif pada diri manusia.
2. Para auliya Allah Swt selalu hidup dan mereka menerima salam serta shalawat kita. Bahkan Allah sendiri menyampaikan salam kepada mereka.
أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا أَءلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ (60)
Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). (27: 60)
Di akhir ayat sebelumnya ditanya soal apakah Tuhan Yang Maha Mampu yang lebih baik atau apa saja yang kalian persekutukan? Ayat ini menyinggung sebagian manifestasi ilmu dan kekuasaan Allah Swt yang memunculkan berbagai nikmat di muka bumi. “Apakah yang kalian sembah itu menciptakan langit dan bumi dan menurunkan hujan untuk kalian? Mengapa kalian berpaling dari kebenaran dan menyimpang?”
Ayat ini dan ayat-ayat setelahnya, menyeru manusia untuk merenungkan penciptaan yang merupakan sarana terbaik untuk mengenal Allah Swt. Karena setiap manusia yang rasional akan menyadari bahwa dunia dengan luas dan keagungannya ini bukan ciptaan manusia dan tidak berputar dengan kehendak manusia. Maka dengan sedikit perenungan manusia akan menerima wujud Sang Pencipta Yang Maha Kuasa, yang mengatur seluruh urusan di dunia dan alam semesta ini dengan ilmu dan kebijaksanaan-Nya.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Perenungan dalam pencitaan alam semesta merupakan cara terbaik untuk mengenal Allah Swt.
2. Ketika itu kita akan menyadari kekuatan Allah Swt dalam penciptaan alam semesta dan bahkan kekuatan Allah Swt dalam menumbuhkan satu pohon.
3. Pengaturan alam semesta hanya ada di tangan Allah Swt, akan tetapi ini juga dilakukan melalui sebab-sebab dan perantara, sama seperti tumbuhnya pohon yang memerlukan hujan.