Jalan Menuju Cahaya 681
Surat an-Naml ayat 61-63
أَمَّنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَءلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (61)
Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui. (27: 61)
Ayat ini adalah lanjutan dari ayat sebelumnya yang menjelaskan keunggulan alam yang menjadi manifestasi kekuatan dan hikmah Allah Swt dalam penciptaan bumi serta kelayakannya untuk menjadi tempat hidup manusia. Disebutkan bahwa Allah Swt telah menjadikan bumi tenang dan stabil sehingga umat manusia dapat hidup dengan tenang dan tenteram di dalamnya. Jika kita perhatikan terkadang terjadi gempa serta goncangan kuat yang menyebabkan kerusakan, maka kita akan menyadari bahwa ketenangan bumi merupakan salah satu nikmat besar dari Allah Swt untuk seluruh penghuni bumi.
Adanya gunung-gunung, sungai-sungai serta laut dan danau-danau, membuat bumi menjadi tempat yang layak dihuni manusia dan makhluk hidup lain. Kita juga menyaksikan bangkitnya berbagai peradaban besar di tepi sungai dan padang rumput yang luas itu. Lalu bagaimana sebagian orang menyembah berhala dan menyekutukan Allah Swt dalam penciptaan serta pengaturan alam semesta dengan keagunannya ini? Betapa mereka tidak merenungkan masalah ini sehingga tidak mampu menalar hakikat ini.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Ketenangan bumi bagi penghuninya sedemikian rupa sehingga manusia beranggapan bahwa bumi tidak berputar dan bergerak. Padahal bumi tidak pernah berhenti berputar pada porosnya dengan cepat dan mengitari matahari. Akan tetapi karena bumi berputar pada kecepatan yang stabil, maka tidak ada manusia yang merasakan perputarannya.
2. Sumber utama kekufuran dan syirik adalah ketidaktahuan dan tidak adanya pengenalan yang benar pada hakikat yang terkadang terjadi karena kesengajaan. Berarti dia memang tidak ingina menerima kebenaran. Namun terkadang terjadi karena ketidaksengajaan, dan di sinilah peran kita untuk memberitahu dan menyeru pada kebenaran.
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَءِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ (62)
Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). (27: 62)
Ayat ini menyinggung salah satu manifestasi wujud Allah Swt dalam kehidupan manusia, bahwa ketika manusia terjebak bencana dan masalah, serta seluruh pintu telah tertutup baginya dan dia membentur jalan buntu, kepada siapakah dia akan berpaling? Apakah dalam situasi seperti itu, berhala-berhala dapat melakukan sesuatu untuknya? Ataukah dalam hatinya dia akan mengakui sebuah wujud yang mampu menyelesaikan masalahnya, dan ketika itu dengan tulus dia berdoa dan mengharapkan jawaban?
Pada ayat lain dalam al-Quran, disinggung iman fitrah manusia itu dan disebutkan bahwa jika kapal yang dinaiki seseorang sedang diombang-ambingkan ombak besar di laut dan nyawanya terancam bahaya, ketika itu siapa lagi kecuali Allah Swt yang akan diseru dalam hatinya?
Sebagian manusia materialis dan penentang agama, menilai Allah Swt adalah produk dari ketakutan dan kegelisahan manusia dan oleh karena itu, mereka mengingkari wujud Allah Swt. Mereka beranggapan bahwa ketika manusia berhadapan dengan peristiwa sulit dan berbahaya, karena dia menilai dirinya sendiri lemah, maka berangkat dari ketakutan dan kejahilan tersebut, dia berlindung pada sebuah wujud yang merupakan rekayasa pikirannya.
Kenyataannya adalah bahwa manusia-manusia mukmin beriman bukan hanya di saat-saat takut dan bahaya, melainkan di setiap situasi dalam hidupnya. Ketakutan dan bahaya akan menyingkap tabir kekhilafan manusia dan dia hanya akan menyaksikan Allah Swt serta sangat membutuhkan pertolongan dari-Nya. Sama seperti seorang anak yang menerima fakta memiliki ayah dan ibu, akan tetapi dia hanya meminta pertolongan mereka ketika terdesak dan sangat membutuhkan.
Apakah dapat dikatakan bahwa ayah dan ibu adalah produk dari tuntutan, kekhawatiran dan ketakutan anak? Atau dia menyadari bahwa faktor-faktor membahayakan membuat dia memahami bahwa dalam kondisi sulit, hanya orang tua yang dapat membantunya?
Pada akhirnya, manusia ketika yakin bahwa tidak ada kekuatan lain yang dapat menyelamatkannya dan telah pupus harapannya untuk mendapat pertolongan dari orang lain, maka dari lubuk jiwanya yang paling dalam, dia akan menyadari adanya sebuah kekuatan gaib yang dapat menyelamatkannya. Kekuatan tersebut adalah Allah Swt.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Salah satu cara mengenal Allah Swt, adalah perhatian pada sebuah kekuatan penyelamat di saat-saat bahaya dan genting dalam kehidupan.
2. Allah Swt menjadikan manusia penguasa bumi. Dia menganugerakan kekuatan kepada manusia untuk memanfaatkan alam dan menggunakannya sebagai sarana.
أَمَّنْ يَهْدِيكُمْ فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَنْ يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ أَءلَهٌ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (63)
Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di dataran dan lautan dan siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya). (27: 63)
Tonasi pada ayat ini sama seperti ayat sebelumnya, bahwa dalam malam hari perjalanan di darat dan laut, bagaimana manusia dapat menemukan jalannya? Apakah bintang-bintang tidak menjadi petunjuk perjalanan kalian di malam hari itu, adalah ciptaan makhluk-makhluk tanpa nyawa? Atau mereka semua adalah ciptaan Allah Swt?
Atas kehendak siapa kecuali Allah Swt angin-angin yang menghembuskan awan hingga ke berbagai tempat yang jauh di muka bumi serta mengakibatkan hujan? Mengapa sebagian manusia menyembah berhala yang sangat hina dan tidak berarti ketimbang Allah Swt, serta menilai nasib mereka dan dunia berada di tangan berhala-berhala itu?
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Fenomena yang rapi dan alami, adalah bukti terbaik untuk adanya sebuah program yang rapi dan pasti dalam alam semesta dan ini semua tidak ada yang dapat melakukannya kecuali Allah Swt.
2. Tidak ada seorang pun dengan kekuatan apapun yang namanya dapat disandingkan dengan nama Allah Swt serta lebih mulia dan lebih dari makhluk lain.