Jalan Menuju Cahaya 682
Surat an-Naml ayat 64-69.
أَمَّنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَءِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (64)
Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Katakanlah, “Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (27: 64)
Pada pertemuan sebelumnya telah kita sebutkan bahwa al-Quran menyeru kaum Musyrik dan bertanya kepada mereka, “Apakah tuhan-tuhan yang kalian sembah lebih baik atau Tuhan yang menciptakan dan mengatur makhluk, langit dan bumi serta benda-benda kecil dan besar?” Sebagai lanjutannya, ayat ini kembali mempertanyakan apakah tuhan-tuhan mereka yang lebih baik atau Allah Swt Yang Maha Esa, yang bukan hanya sebagai sumber penciptaan, melainkan akan mengembalikan seluruh makhluk di Hari Kiamat kelak? Dia lah yang menjamin seluruh tuntutan dan menetapkan jalan rezeki bagi setiap makhluk hidup.
Meski demikian, jika mereka (kaum Musyrik) beranggapan bahwa ada tuhan lain selain Allah Swt yang membantu-Nya dalam mengatur alam semesta ini, maka hendaknya mereka mengemukakan bukti dan alasan mereka secara jelas dan rasional.
Salah satu ciri khas al-Quran dalam menyikapi para pengingkar kebenaran-Nya adalah dengan cara menantang mereka memberikan bukti konkrit sebagaimana yang telah disebutkan pada ayat tadi. Sebagaimana telah menjelaskan maarifnya terkait awal penciptaan dan juga kiamat secara jelas dan rasional, al-Quran juga menantang para penentangnya untuk mengemukakan bukti dan alasan yang logis, serta menghentikan asumsi, prasangka, cemooh, penghinaan dan ancaman terhadap mereka yang beriman kepada al-Quran.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Kita harus rasional dalam menghadapi para penentang dan jika mereka memberikan bukti serta alasan yang rasional, maka kita harus menerimanya. Kita tidak boleh menentangnya dengan alasan mereka adalah musuh. Karena Islam adalah agama rasional dan bahkan menantang para penentang Islam untuk rasional dalam membuktikan kebenaran mereka.
2. Allah Swt telah menetapkan jalan rezeki dan tuntutan seluruh makhluk-Nya. Oksigen, cahaya, hujan, aneka macam makanan, buah-buahan dan pakaian telah disiapkan Allah Swt di muka bumi.
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ (65) بَلِ ادَّارَكَ عِلْمُهُمْ فِي الْآَخِرَةِ بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِنْهَا بَلْ هُمْ مِنْهَا عَمُونَ (66)
Katakanlah, “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah,” dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (27: 65)
Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (kesana) malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka buta daripadanya. (27: 66)
Kaum Musyrik yang tidak memiliki bukti untuk menafikan Hari Kiamat dan kehidupan setelah kematian kelak, selalu mengemukakan pertanyaan kepada para nabi soal kapan Hari Kiamat akan terjadi. Dan mengingat para nabi tidak memberikan jawaban pasti dalam hal ini, mereka kemudian berkata, “Berarti kau juga tidak pasti akan terjadinya kiamat?”
Ayat ini menjawab pertanyaan mereka itu dan menyebutkan bahwa rahasia sebagian hanya Allah Swt yang mengetahui. Bahkan para malaikat dan nabi pun tidak mengetahuinya. Akan tetapi tidak mengetauhi kapan terjadinya sebuah peristiwa itu bukan berarti kepastian tidak terjadinya peristiwa tersebut. Sama seperti tidak ada yang mengetahui kapan manusia akan mati, akan tetapi semua orang meyakini bahwa pada suatu hari dia akan mati dan tidak ada jalan untuk lari dari kenyataan ini. Terjadinya kiamat juga demikian. Kiamat adalah hal yang pasti dimana tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, akan tetapi hal itu tidak menjadi alasan untuk mengingkari dan menolaknya.
Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Menciptakan keraguan dalam agama adalah salah satu cara para pengingkar agama, termasuk di antaranya menciptakan keraguan dalam masalah kiamat.
2. Iman pada Hari Kiamat sama seperti iman pada awal penciptaan, yang termasuk masalah-masalah gaib yang tidak dapat dicerna oleh panca indera manusia dan hanya akal yang dapat menalarnya dengan berbagai bukti-bukti rasional.
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَئِذَا كُنَّا تُرَابًا وَآَبَاؤُنَا أَئِنَّا لَمُخْرَجُونَ (67) لَقَدْ وُعِدْنَا هَذَا نَحْنُ وَآَبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ (68) قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ (69)
Berkatalah orang-orang yang kafir, “Apakah setelah kita menjadi tanah dan (begitu pula) bapak-bapak kita; apakah sesungguhnya kita akan dikeluarkan (dari kubur)? (27: 67)
Sesungguhnya kami telah diberi ancaman dengan ini dan (juga) bapak-bapak kami dahulu; ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang dahulu kala.” (27: 68)
Katakanlah, “Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” (27: 69)
Salah satu dalil yang dikemukakan kaum Musyrik terkait Hari Kiamat adalah tidak diumumkannya kapan terjadinya kiamat oleh para nabi. Ayat ini menyebutkan, mereka yang mengingkari dan mendustakan kiamat mengemukakan alasan ini bahwa para nabi sepanjang sejarah telah berjanji akan terjadinya Hari Kiamat, padahal para pendahulu kita telah mati, terkubur dan tubuh mereka telah terurai, akan tetapi janji tersebut tidak terjadi. Maka kita juga akan mati, terkubur dan tidak ada yang akan tersisa dari tubuh kita untuk dihidupkan lagi.
Jawaban al-Quran sangat jelas dan tegas dalam hal ini; pertama, wujud semua manusia dari tanah dan diciptakan dari tanah, maka tidak ada artinya jika manusia tidak dapat dibangkitkan kembali dari tanah pada alam lain. Kedua, sikap keras kepala dan pengingkar agama adalah bahwa mereka juga akan bernasib sama seperti kaum-kaum terdahulu yang mati sebagai kafir. Kaum-kaum yang tidak begitu jauh dari mereka dari sisi waktu dan tempat.
Dari tiga ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Kisah-kisah sejarah dalam kitab suci menceritakan sejarah dan nasib kaum-kaum penentang agama. Sangat disayangkan sekali, sekarang banyak kelompok-kelompok masyarakat yang terjebak kejahilan dan penyimpangan. Bahkan sebagian kelompok dengan sengaja menyebut kisah-kisah yang mengandung maarif samawi sebagai cerita legenda.
2. Al-Quran menyeru masyarakat untuk menelaah sejarah kaum di masa lalu dan nasib orang-orang zalim serta mengunjungi berbagai tempat. Karena menelaah peninggalan dari kaum pendusta dan orang-orang zalim akan membantu pembangunan diri.
3. Menjaga peninggalan kaum di masa lalu, penting untuk menyampaikan pesan kepada generasi di masa depan.