Jalan Menuju Cahaya 683
Surat an-Naml ayat 70-75.
وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ (70) وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (71) قُلْ عَسَى أَنْ يَكُونَ رَدِفَ لَكُمْ بَعْضُ الَّذِي تَسْتَعْجِلُونَ (72)
Dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka, dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap apa yang mereka tipudayakan. (27: 70)
Dan mereka (orang-orang kafir) berkata, “Bilakah datangnya azab itu, jika memang kamu orang-orang yang benar.” (27: 71)
Katakanlah, “Mungkin telah hampir datang kepadamu sebagian dari (azab) yang kamu minta (supaya) disegerakan itu.” (27: 72)
Pada pertemuan sebelumnya [ayat 69], al-Quran meyeru para penentang nabi yang berada di seluruh dunia untuk menyaksikan kehancuran dan kemusnahan berbagai peradaban besar serta mengambil pelajaran dari nasib mereka. Akan tetapi ayat ini ditujukan kepada nabi dan menyebutkan bahwa ketika kaum Musyrik memusuhi dan menolak menghentikan keras kepala mereka, serta selalu memusuhi kebenaran, maka janganlah kau bersedih, karena kau telah melaksanakan tugasmu dan telah menyampaikan keberanan ke telinga mereka. Allah Swt tidak menciptakan manusia bebas dan berikhtiar untuk memaksakan agama kepadanya.
Akan tetapi mereka bukan saja tidak beriman, melainkan selalu berpropaganda dan merancang makar guna mencegah dakwah, maka Allah Swt yang menggagalkan seluruh rencana mereka. Oleh karena itu Allah Swt memerintahkan nabi untuk tidak bersedih. Lanjutan ayat itu ditujukan kepada kaum musyrik bahwa azab Allah Swt mencakup di dunia dan akhirat. Lalu mengapa azab Allah Swt tidak diturunkan kepada mereka? Allah Swt dalam menjawab bahwa apa yang mereka minta segera diturunkan.
Dari tiga ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Kepedulian ada bagi orang-orang yang sesat itu ada batasnya. Memang kita dianjurkan untuk berusaha membimbing, akan tetapi jika mereka menyadari kebenaran dan tetap melanjutkan kebatilan, maka mereka itu harus ditinggalkan dan tidak perlu lagi diperhatikan.
2. Jangan sampai kita beranggapan bahwa kesempatan yang diberikan Allah Swt kepada orang-orang kafir, bukan berarti bahwa Allah Swt telah melupakan mereka. Karena cepat atau lambat mereka akan merasakan azab dari perbuatan munkar mereka.
وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَشْكُرُونَ (73) وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ (74) وَمَا مِنْ غَائِبَةٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (75)
Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya). (27: 73)
Dan sesungguhnya Tuhanmu, benar-benar mengetahui apa yang disembunyikan hati mereka dan apa yang mereka nyatakan. (27: 74)
Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh). (27: 75)
Melanjutkan ayat-ayat sebelumnya, pada bagian ayat-ayat ini, dijelaskan bahwa jika azab Allah Swt tidak menurunkan azab-Nya kepada kaum Musyrik dan Kafir, bukan karena ketidakmampuan atau kelengahan, melainkan karena kasih sayang dan kebesaran Allah Swt untuk makhluk-Nya, agar mereka kembali dan bertaubat. Akan tetapi sayangnya mereka tidak memperhatikan rahmat Allah Swt, tidak bersyukur kepada-Nya dan alih-alih islah, mereka justru bersikeras berbuat kemunkaran.
Kemungkinan mereka beranggarapan bahwa Allah Swt tidak bertindak karena Dia tidak mengetahui rencana, niat dan perbuatan mereka. Padahal bukan hanya isi batin mereka, Allah Swt juga mengetahui batin seluruh wujud di alam semesta ini dan tidak ada satu hal pun yang tersembunyi dari pantauan Allah Swt. Karena semua yang terjadi di alam penciptaan ini tercatat dan diketahui Allah Swt.
Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Kita harus menggunakan sebaik-baiknya kesempatan yang diberikan Allah Swt untuk bertaubat dan membenahi diri. Karena, kesempatan itu bukan berarti bukti kebenaran perilaku dan perangai kita.
2. Allah Swt mengetahui semua yang nampak dan tersembunyi. Masalah-masalah ghaib di langit dan bumi, seluruh perbuatan manusia, terjadinya kiamat dan semua rahasia. Alam semesta berada di bawah pantauan Allah Swt dan semua yang terjadi tercatat.
3. Kita bukan hanya harus mengislah perilaku dan perangai kita saja, melainkan juga niat kita. Alih-alih menginginkan keburukan bagi orang lain, kita harus menginginkan kebaikan mereka, karena Allah Swt Maha Mengetahui.