Jalan Menuju Cahaya 684
Surat an-Naml ayat 76-81.
إِنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ يَقُصُّ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَكْثَرَ الَّذِي هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (76) وَإِنَّهُ لَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (77) إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ بِحُكْمِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ (78) فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّكَ عَلَى الْحَقِّ الْمُبِينِ (79)
Sesungguhnya Al Quran ini menjelaskan kepada Bani lsrail sebahagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya. (27: 76)
Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (27: 77)
Sesungguhnya Tuhanmu akan menyelesaikan perkara antara mereka dengan keputusan-Nya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (27: 78)
Sebab itu bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata. (27: 79)
Sebelumnya, telah kita bahas bersama tentang percakapan dengan kaum Musyrik yang mengingkari kiamat dengan berbagai alasan, dan mengolok keyakinan pembangkitan kembali orang-orang yang telah mati serta pahala dan azab Allah Swt. Ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang orang-orang Yaudi yang hidup di Jazirah Arab dan menolak al-Quran dan Islam. Orang-orang Yahudi saling berselisih terkait Nabi Isa al-Masih dan sang juru selamat di akhir zaman yang telah disebutkan dalam kitab Taurat. Perselisihan itu juga terjadi dalam sejumlah hukum agama.
Ayat-ayat tadi menyebutkan bahwa jika al-Quran diterima sebagai kitab langit, maka seluruh perselisihan tersebut akan terselesaikan dan semua bid’ah dan khurafat dalam agama Yahudi dan Kristen sepeninggal Nabi Musa as dan Isa as, akan berakhir. Dan akibatnya akan diperoleh sebuah agama yang murni dan jauh dari segala bentuk pemaksaan selera dan keyakinan menyimpang.
Dalam lanjutan ayat itu, Rasulullah Saw kepada orang-orang mukmin bersabda: “Bertawakallah kepada Allah Swt di hadapan penentangan Ahlul Kitab dan lanjutkan perjalanan dengan bersandarkan pada ilmu dan kekuatan tanpa batas-Nya, ketahuilah bahwa kalian berada dalam kebenaran dan kebenaran akan jaya dan tegak.”
Dari empat ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Berkah al-Quran, merupakan solusi untuk tarik ulur perspektif dan akarnya. Al-Quran adalah faktor pemersatu, bukan hanya untuk umat Islam, dan bahwa semua pemeluk agama samawi menyelesaikannya dengan syarat menerima al-Quran dan merujuk padanya.
2. Hidayah, merupakan nikmat terbesar Allah Swt yang dilimpahkan-Nya kepada umat manusia.
3. Bertawakal pada Allah Swt, merupakan salah satu kunci keberhasilan manusia, tawakkal hanya berarti bila demi kebenaran dan bukan kebatilan.
إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ (80) وَمَا أَنْتَ بِهَادِي الْعُمْيِ عَنْ ضَلَالَتِهِمْ إِنْ تُسْمِعُ إِلَّا مَنْ يُؤْمِنُ بِآَيَاتِنَا فَهُمْ مُسْلِمُونَ (81)
Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang. (27; 80)
Dan kamu sekali-kali tidak dapat memimpin (memalingkan) orang-orang buta dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan (seorangpun) mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri. (27: 81)
Mereka yang terjebak permusuhan, fanatisme dan mengikuti secara buta, bak orang yang telah mati di mana perkataan apapun tidak akan berpengaruh padanya, atau seperti orang masih hidup akan tetapi tuli dan buta serta tetap melanjutkan perjalannya. Jelas bahwa orang yang tuli tidak akan mendengar panggilan atau seruan dari belakang. Orang yang buta dan tuli telah menutup seluruh cara untuk memahami hakikat bagi dirinya dan mereka tidak akan mendengar seruan kebenaran.
Orang-orang yang dapat memanfaatkan hidayah al-Quran dan Rasulullah Saw adalah mereka yang tunduk dan patuh di hadapan kebenaran, serta yang mengimani ayat-ayat ilahi. Dengan kata lain, orang yang dapat memanfaatkan hidayah al-Quran adalah mereka yang tidak terbelenggu dengan hal-hal yang akan menghalanginya menerima kebenaran.
Halangan tersebut kerap berhubungan dengan perspektif dan mentalitas seseorang dan membuat mereka menolak menerima kebenaran dengan mengandalkan sikap-sikap di masa lalu berdasarkan keyakinan para pendahulunya atau fanatisme etnis dan qabilah. Seandainya mereka bersedia mendengarkan kebenaran itu, mereka akan menganalisanya sedemikian rupa untuk mendistorsinya.
Dengan demikian, masalah utamanya tidak terletak pada pesan para nabi Allah Swt atau pesannya yang tidak dapat diterima, melainkan karena fanatisme dan sikap keras kepala para pengingkar. Jika hati manusia telah mati maka dia tidak akan bisa menerima kebenaran. Seruan kebenaran tidak akan berpengaruh pada hati yang telah mati. Seperti lampu yang rusak tidak akan menyala meski tersambung listrik.
Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Kematian dan kehidupan dalam budaya Qurani, berlaku untuk kematian dan kehidupan materi dan fisik, juga berlaku untuk kematian dan kehidupan spiritualitas. Kematian maknawi adalah ketika seseorang tidak ingin mendengar seruan kebenaran dan tidak terpengaruh, oleh karena itu dia disebut mati, meski secara fisik hidup. Sebaliknya mereka yang menerima kebenaran dan rela berkorban serta gugur syahid dalam memperuangkannya, maka dia hidup di bawah curahan rezeki dan nikmat Allah Swt, meski secara lahiriyah dia telah mati.
2. Memiliki telinga, mata dan akal saja tidak cukup. Yang terpenting adalah kesediaan untuk berserah diri di hadapan kebenaran, karena jika tidak maka manusia bahkan akan mengingkari apa yang dilihat dan didengarnya sendiri, atau menafsirkannya secara menyimpang. Orang yang sedang terlelap akan terjaga jika dia mendengar suara, akan tetapi orang yang pura-pura tertidur, sekuat apapun dipanggil, dia tidak akan menjawab.