Jalan Menuju Cahaya 685
Surat an-Naml ayat 82-85.
وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآَيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ (82) وَيَوْمَ نَحْشُرُ مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ فَوْجًا مِمَّنْ يُكَذِّبُ بِآَيَاتِنَا فَهُمْ يُوزَعُونَ (83)
Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami. (27: 82)
Dan (ingatlah) hari (ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap umat segolongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, lalu mereka dibagi-bagi (dalam kelompok-kelompok). (27: 83)
Melanjutkan pembahasan sebelumnya, dua ayat tersebut menyinggung masalah hari kiamat dan menyebutkan, di akhir dunia dan menjelang kiamat, Allah Swt akan menghidupkan sebagian kelompok manusia yang telah mati dan membangkitkan mereka dari dalam tanah. Di antara mereka adalah para pengingkar kiamat, mereka menolak berita kebenaran yang disampaikan kepada mereka karena permusuhan dan kekeraskepalaan, mereka tetap menolak kebenaran itu bahkan setelah ditunjukkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran dan mukjizat dari Allah Swt.
Masalah dihidupkannya kembali orang-orang yang telah mati atas kehendak Allah Swt, bukan hal baru karena sebelumnya telah terjadi dan disebutkan dalam al-Quran. Di antaranya adalah salah satu nabi memohon kepada Allah Swt untuk ditunjukkan kepadanya gambaran Hari Kiamat. Kemudian Allah Swt mematikannya selama 100 tahun kemudian menghidupkannya kembali. Pada ayat 259 surat al-Baqarah, disinggung tentang peristiwa tersebut.
Begitu pula dengan kisah hidupnya seorang korban pembunuhan. Atas kehendak Allah Swt dan setelah bagian badan sapi yang dikurbankan Bani Israil ke tubuh jenazah tersebut, dia kembali hidup dan membongkar siapa yang membunuhnya. Kisah itu juga disebutkan dalam ayat 73 surat al-Baqarah. Atau salah satu mukjizat Nabi Isa as sebagaimana yang disebutkan al-Quran, yaitu menghidupkan orang mati. Selain itu, pada ayat 56 dan 243 surat al-Baqarah juga disebutkan orang-orang yang telah meninggal dunia dari kaum-kaum terdahulu.
Dua ayat 82 dan 83 surat al-Naml, juga menyinggung Raj’ah atau pembangkitan kembali sebagian manusia yang telah mati di akhir zaman kelak. Akan tetapi, nama-nama dan ciri-ciri mereka tidak disebutkan. Sesuai prosedur, untuk memahami lebih mendalam ayat-ayat tersebut, maka kita harus merujuk pada riwayat-riwayat sahih.
Meski kata Daabbah yang digunakan pada ayat 82 surat al-Naml berarti binatang dan sangat jarang digunakan untuk manusia, akan tetapi dengan menelusuri beberapa contoh penggunaan kata ini dalam al-Quran baik secara tunggal maupun jamak, kata ini memiliki makna yang luas dan salah satunya berarti manusia. Sebagaimana dalam ayat 22 surat al-Anfal disebutkan, “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.” Tidak diragukan lagi bahwa binatang (makhluk) dalam ayat itu adalah manusia, karena tidak menggunakan otak dan logika mereka, sehingga disamakan dengan orang-orang buta dan tuli.
Terkait makhluk yang akan dihidupkan dari kematian pada ayat 82 surat al-Naml, berdasarkan berbagai riwayat, yang dimaksud adalah seorang wali Allah Swt atau seorang tokoh penting. Banyak ditafsirkan bahwa dia adalah Imam Ali bin Abi Thalib as.
Juga terkait sekelompok manusia yang akan dibangkitkan dari kubur di akhir zaman kelak dan disebutkan dalam ayat 83 surat al-Naml, berdasarkan banyak riwayat, yang dimaksud adalah sekelompok orang mukmin dan saleh yang telah meninggal di sepanjang sejarah, agar mereka menyaksikan pemerintahan global Imam Mahdi as serta menjadi pengikut setianya. Selain itu, sekelompok manusia kafir dan zalim di sepanjang masa kehidupan manusia di bumi ini akan dibangkitkan kembali untuk menerima balasan dan hukuman mereka di dunia ini melalui pemerintahan Imam Mahdi as.
Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Pembangkitkan manusia-manusia yang telah mati adalah masalah duniawi dan bukan hanya terjadi di Hari Kiamat. Karena di dunia juga telah terjadi dan akan terjadi. Tidak ada keraguan dalam kekuatan dan kekuasaan Allah Swt terkait hal ini.
2. Akhir zaman atau akhir dunia akan diwarnai dengan kehadiran semua manusia saleh dan mukmin pilihan serta seluruh pemimpin di kubu kekufuran dan kezaliman. Akan tetapi, kali itu adalah masa kekuatan kaum Mukmin serta kehinaan bagi kaum Kafir dan Zalim.
حَتَّى إِذَا جَاءُوا قَالَ أَكَذَّبْتُمْ بِآَيَاتِي وَلَمْ تُحِيطُوا بِهَا عِلْمًا أَمْ مَاذَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (84) وَوَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ بِمَا ظَلَمُوا فَهُمْ لَا يَنْطِقُونَ (85)
Hingga apabila mereka datang, Allah berfirman, “Apakah kamu telah mendustakan ayat-ayat-Ku, padahal ilmu kamu tidak meliputinya, atau apakah yang telah kamu kerjakan?” (27: 84)
Dan jatuhlah perkataan (azab) atas mereka disebabkan kezaliman mereka, maka mereka tidak dapat berkata (apa-apa). (27: 85)
Dalam dua ayat sebelumnya dijelaskan tentang masalah Raj’ah para manusia paling saleh dan Mukmin serta kelompok manusia paling keji dan zalim di akhir dunia kelak. Raj’ah berarti pembangkitan kembali sekelompok manusia sebelum hari kiamat. Daam berbagai riwayat disebutkan bahwa Raj’ah adalah salah satu tahapan dari Hari Kiamat. Pada hari itu, seluruh tanda-tanda kebesaran Allah Swt akan muncul dan tampak secara nyata. Kedua kelompok manusia itu akan dibangkitkan kembali untuk menjadi saksi peradilan Allah Swt di dunia.
Pada ayat 84 dan 85 surat an-Naml disebutkan bahwa setelah para pemimpin kafir dan musyrik dibangkitkan, mereka akan dituntut jawaban mengapa mereka mengingkari kitab-kitab samawi dan juga mukjizat para nabi? Padahal secuil ilmu pengetahuan mereka tidak mampu untuk mengingkari tanda-tanda kebesaran Allah Swt. Selain itu mereka jug telah melakukan berbagai kejahatan dan kezaliman yang berawal dari kekufuran dan pengingkaran mereka terhadap tanda-tanda kebesaran Allah Swt.
Pada masa Raj’ah kelak, manusia-manusia pendusta kebenaran tersebut tidak memiliki piilihan lain kecuali mengakui tanda-tanda kebesaran Allah Swt serta berbagai mukjizat yang mereka saksikan, dan mereka tidak mungkin memohon ampun atau beralasan. Pada akhirnya mereka mengakui dan menerima seluruh kejahatan dan kezaliman mereka dan menyaksikan hukuman Allah Swt.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Pada masa akhir zaman, akan ditunjukkan sebagaian manifestasi dari Hari Kiamat serta kelompok manusia saleh dan zalim akan menyaksikan peradilan Allah Swt dengan disaksikan para auliya.
2. Hendaknya kita tidak mengingkari atau menolak sesuatu yang kita benar-benar tidak tahu, karena pasti kita akan merasakan akibatnya. Oleh karena itu, keyakinan dan kepercayaan kita juga harus berasaskan kesadaran dan pengetahuan yang pasti dan meyakinkan.
3. Pada Hari Kiamat kelak, azab bagi orang-orang zalim adalah pasti dan mereka tidak akan mampu mengelak.