Jalan Menuju Cahaya 686
Surat an-Naml ayat 86-88
أَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا اللَّيْلَ لِيَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (86)
Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan malam supaya mereka beristirahat padanya dan siang yang menerangi? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (27: 86)
Pada ayat-yat sebelumnya, telah dijelaskan tentang kiamat dan bahwa telah ditunjukkan kepada para pengingkar bahwa kiamat adalah pasti. Ayat ini menyinggung salah satu tanda kebesaran Allah Swt yang menyeru manusia, “Apakah kalian pernah memperhatikan bagaimana jika seandainya bumi selalu terang dan cahaya matahari berpendar terus bersinar, bagaimana kalian beristirahat? Atau jika seandainya bumi selalu gelap, bagaimana kalian akan bekerja? Lalu bagaimana tumbuh-tumbuhan dan pepohonan akan hidup? Apakah perputaran bumi pada porosnya selama 24 jam, yang telah mengatur waktu istirahat dan kerja kalian, adalah kebetulan?
Telah terbukti secara ilmiah bahwa kegelapan malam, sangat berpengaruh pada ketenangan benak dan jiwa manusia. Sementara cahaya pada siang hari memainkan peran signifikan membantu manusia dalam melakukan berbagai aktivitasnya. Al-Quran mengulang ayat-ayat seperti ini untuk mengingatkan manusia-manusia pencari kebenaran dan bersedia menerima kebenaran, bahwa dengan menyaksikan fenomena sekitarnya, mereka akan menyadari ilmu, kekuatan dan kekuasaan Allah Swt, serta agar mereka tidak mengingkari janji Allah Swt tentang kiamat.
Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Pergantian siang dalam malam merupakan tanda keagungan ilmu dan manajemen Allah Swt. Kita harus melihatnya secara teliti dan merenungkan berbagai masalah dalam kehidupan kita termasuk penciptaan alam semesta.
2. Pencontohan masa tidur dan terjaga dalam ayat-ayat al-Quran yang menyinggung tentang Hari Kiamat adalah demi menunjukkan contoh kematian dan kehidupan kembali di dunia ini.
3. Program hidup manusia harus sesuai dengan tatanan alam: malam untuk tidur dan siang untuk beraktivitas. Ini berarti, terjaga hingga tengah malam atau tidur hingga tengah hari bertentangan dengan tatanan alam.
وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ (87)
Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri. (27: 87)
Ayat ini kembali menyinggung masalah kiamat dan awalnya akan dimulai dengan peniupan terompet. Berdasarkan ayat-ayat al-Quran, terompet akan ditiup dua kali: pertama di akhir dunia di mana disebutkan dengan ditiupkannya terompet tersebut semua manusia ketakutan dan mati. Kali kedua ditiupkan ketika Hari Kiamat di mana seluruh manusia yang telah mati dihidupkan kembali di padang Mahsyar.
Ayat ini menyebutkan, ketika terompet ditiup, semua manusia akan ketakutan akan tetapi manusia-manusia saleh dan mukmin serta para malaikat, mereka terkecualikan sebagaimana pada dua ayat berikutnya disebutkan mereka tenang dan aman. Sampai akhirnya semua manusia mukmin dan munkar serta para malaikat akan mati dan semua tunduk di hadapan Allh Swt. Sampai akhirnya terompet kedua dibunyikan dan mereka semua dibangkitkan kembali. Berdasarkan berbagai riwayat, malaikat yang ditugaskan meniupkan terompet tersebut adalah Israfil, salah satu malaikat yang dekat dengan Allah Swt.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Berdasarkan al-Quran, keruntuhan alam semesta dan kematian semua makhluk di langit dan bumi dimulai dengan terdengarnya suara menggelegar dan menakutkan.
2. Di langit juga terdapat makhluk hidup dan sama seperti manusia mereka semua akan dibangkitkan di padang Mahsyar kelak.
3. Kematian hanya bukan untuk manusia melainkan semua makhluk termasuk para malaikat.
وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ (88)
Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (27: 88)
Ayat ini menjelaskan satu lagi dari keajaiban alam dan menyebutkan bahwa menurut manusia gunung-gunung tetap pada tempatnya padahal mereka bergerak pelan seperti awan dan tanpa menimbulkan gemuruh. Ini merupakan salah satu tanda kebesaran Alalh Swt di mana gerakan cepat bumi pada pororsnya sedemikian rupa sehingga sama sekali tidak dirasakan oleh manusia. Semua hal tampak stabil sampai para ilmuwan di masa lalu beranggapan bahwa bumi tidak bergerak dan matahari yang mengelilingi bumi.
Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Gerakan gunung-gunung tidak terpisah dari gerakan bumi, maka bumi juga bergerak.
2. Menariknya bahwa al-Quran, seribu tahun sebelum Galileo Galilei dan para ilmuwan lainnya telah memberitakan kabar gerakan bumi dan ini menunjukkan mukjizat sains al-Quran.
3. Gerakan gunung-gunung itu cepat seperti gerakan awan. Fakta ketenangan bumi meski berputar dengan sangat cepat, merupakan tanda kebesaran Allah Swt.
4. Menurut perspektif, semua ciptaan Allah Swt tercipta dalam bentuknya yang baik dan sempurna tidak ada secuil pun cacat di dalamnya.