Feb 08, 2018 12:31 Asia/Jakarta

Surat an-Naml ayat 89-93

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا وَهُمْ مِنْ فَزَعٍ يَوْمَئِذٍ آَمِنُونَ (89) وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَكُبَّتْ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ هَلْ تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (90)

Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu. (27: 89)

Dan barang siapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan. (27: 90)

Pada pembahasan sebelumnya, kita telah mengupas mengenai akhir kehidupan dunia dan terjadinya kiamat. Pada ayat ini disinggung mengenai pahala dan siksaan di akhirat kelak. Sesuai ayat ini, setiap orang harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya di dunia. Karena Allah menganugerahkan akal kepada manusia untuk berpikir dan memberikan kebebasan untuk bertindak sesuai pilihannya di dunia.

Pada hakikatnya, manusia hanya melihat sebagian dari hasil perbuatannya di dunia. Sebab dunia memiliki keterbatasan untuk memberikan balasan penuh atas setiap perbuatan yang dilakukan manusia. Tetapi di alam akhirat tidak ada keterbatasan dari sisi waktu dan tempat sebagaimana di dunia. Oleh karena itu, setiap orang akan mendapatkan ganjaran sesuai perbuatannya di dunia.

Berdasarkan ayat ini, orang yang berbuat baik di dunia akan mendapatkan pahala dari kebaikannya. Itupun dengan syarat perbuatan tersebut tidak dilakukan dengan riya. Pada Hari Kiamat, sifat buruk seperti riya, takabur dan sombong seperti penyakit yang menggerogoti amal baik kita di dunia. Sebab akan menyebabkan hilangnya catatan amal kebaikan.

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Hal terpenting dari perbuatan baik adalah menjaga dan melindunginya dari sifat buruk seperti riya, takabur dan dosa yang akan menyebabkan hilangnya catatan amal perbuatan baik di akhirat kelak.

2. Pahala yang diberikan Allah Swt lebih utama dari perbuatan baik manusia, tapi ganjaran siksa ilahi kepada manusia disesuaikan dengan tingkat perbuatan buruk tersebut.

أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ (91) وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآَنَ فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَقُلْ إِنَّمَا أَنَا مِنَ الْمُنْذِرِينَ (92)

Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (27: 91)

Dan supaya aku membacakan Al Quran (kepada manusia). Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah, “Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan.” (27: 92)

Ayat ini dan ayat selanjutnya menjelaskan tentang sabda Nabi Muhammad Saw kepada orang-orang Musyrik Mekah bahwa beliau tidak bertanggung jawab atas perbuatan orang-orang Musyrik yang melanjutkan penyembahan kepada berhala. Sebab Rasulullah Saw telah menyampaikan seluruh ayat ilahi kepada mereka. Tapi merekalah yang menentukan apakah akan tetap kafir ataukah beriman menerima ajaran ilahi yang dibawa Rasulullah Saw.

Konsekuensinya pun harus mereka tanggung sendiri, beriman ataukah tidak, tidak akan memberikan keuntungan bagi Nabi Saw yang hanya bertanggung jawab sebagai penyampai risalah ilahi.

Dalam ayat ini dijelaskan dua tanggung jawab besar Rasulullah yang berbeda. Pertama, tanggung jawab individu. Yaitu menyembah Tuhan dan menjalankan perintah  ilahi. Dari sisi ini, Rasulullah seperti muslim yang menjalankan kewajibannya. Kedua, tanggung jawab risalah. Yaitu menyampaikan ayat ilahi, berupaya, kabar gembira dan peringatan kepada orang lain.

Di sisi lain, Rasulullah Saw tidak berperan seperti para raja atau penguasa yang hanya mengeluarkan instruksi kepada bawahannya, tapi beliau terjun langsung pelaksana perintah itu dan menyampaikan kepada orang lain.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Para nabi adalah orang-orang yang mematuhi secara mutlak seluruh perintah ilahi. Mereka tidak menyampaikan dan melakukan sesuatu atas inisiatif dirinya sendiri.

2. Kewajiban para nabi dan mubalig agama menyampaikan ayat ilahi kepada orang yang lain. Adapun pilihan masyarakat apakah beriman atau kafir, bukan tanggung jawab mereka.

3. Manusia senantiasa disertai kelalaian mengingat Allah. Oleh karena itu, kewajiban para pemimpin agama adalah mengingatkan mereka supaya memperhatikan setiap perilakunya di dunia, supaya tidak menyesal di akhirat kelak.

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ سَيُرِيكُمْ آَيَاتِهِ فَتَعْرِفُونَهَا وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (93)

Dan katakanlah, “Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (27: 93)

Ayat ini merupakan akhir dari surat an-Naml yang menjelaskan tentang syukur atas segala karunia Allah, termasuk anugerah al-Quran yang menjadi sumber petunjuk manusia dari Allah serta berterima kasih kepada Rasulullah sebagai guru yang penuh dedikasi memikirkan kebahagiaan umat manusia.

Dalam ayat ini juga dijelaskan mengenai tanda-tanda besar mengenai ilmu dan kekusaan Allah. Dari tanda yang paling kecil hingga tanda yang paling besar di dunia ini. Tapi hal ini juga ditentukan oleh cara pandang setiap orang yang berbeda-beda terhadap sebuah masalah. Misalnya di kelas kedokteran, seorang dosen medis yang berada di ruang bedah membuka organ tubuh manusia dan menjelaskannya kepada para mahasiswa. Sementara di pasar, seorang penjual mengupas dan mengiris hati kambing dengan pisau dan menusuknya menjadi sate. Keduanya melakukan tindakan yang sama, tapi berbeda sesuai cara  pandang dan profesinya masing-masing.

Sejatinya, alam semesta ini merupakan tanda-tanda dari kekuasaan Allah, sekaligus menunjukkan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta ini dengan tujuan yang jelas dan bukan sia-sia.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Turunnya al-Quran dan diutusnya Nabi adalah dua karunia besar yang harus senantiasa disyukuri oleh umat Islam.

2. Apa yang kita lihat dari ayat-ayat ilahi adalah bagian dari keagungan-Nya. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan umat manusia, ayat dan tanda-tanda baru dari keagungan ilahi di alam semesta ini semakin jelas.

3. Allah senantiasa mengawasi setiap perbuatan manusia dengan pengawasan permanen dan kontinyu.