Feb 10, 2018 13:14 Asia/Jakarta

Surat al-Qashash ayat 5-8.

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ (5) وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُمْ مَا كَانُوا يَحْذَرُونَ (6)

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). (28: 5)

Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Firaun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu. (28: 6)

Sebelumnya telah disinggung bahwa Nabi Musa as diperintahkan untuk menemui Firaun dan mencegahnya dari berbuat kezaliman terhadap Bani Israil. Sebab, ia telah menghinakan Bani Israil dan menjadikan mereka sebagai budak. Dengan berbagai alasan, laki-laki Bani Israil dibunuh dan perempuan mereka dijadikan budak.

Ayat tersebut menyatakan bahwa Firaun mengira ia akan selalu menjadi penguasa dan mampu berbuat apa saja di muka bumi. Ia lupa bahwa Allah Swt berkehandak untuk membinasakan orang-orang zalim di dunia ini dan mengangkat orang-orang tertindas sebagai penguasa atas mereka. Firaun dan menterinya, Haman selalu diliputi rasa takut jika Bani Israil akan menggulingkan pemerintahan mereka. Oleh karena itu, Bani Israil ditindas dan diperlakukan represif dan laki-laki mereka dibunuh.

Namun, perkara yang selama ini ditakuti Firaun dan pengikutnya justru menimpa mereka berkat kehendak Allah Swt. Bani Israil di bawah pimpinan Nabi Musa as berhasil mengalahkan Firaun dan mereka akhirnya mewariskan istana-istana yang megah dan harta yang berlimpah. Kehendak Tuhan tentu saja bukan tanpa alasan dan logika.

Jika sebuah bangsa benar-benar ingin terbebas dari rezim tirani dan melakukan sesuatu di jalan itu, maka Allah Swt akan membantu mereka dan menjadikan mereka menang atas orang-orang zalim. Ini adalah sebuah sunnah Ilahi di sepanjang sejarah, di mana nasib setiap umat ditentukan oleh amal perbuatan mereka dan selama umat tersebut belum berkehendak, maka perubahan tidak akan terjadi pada nasib mereka.

Menurut sejumlah riwayat, Imam Mahdi as dari keturunan Rasulullah Saw akan muncul pada akhir zaman untuk mengalahkan orang-orang zalim dan mengantarkan kaum tertindas ke tampuk kekuasaan, sehingga keadilan tegak di wilayah timur dan barat bumi.

Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Kehendak dan iradah Allah Swt menetapkan kehancuran untuk rezim-rezim tirani dan mengantarkan kaum lemah ke kursi kekuasaan.

2. Pemerintahan despotik sengaja memperlemah manusia-manusia unggulan sehingga mereka dapat menguasai sebuah bangsa.

3. Masa depan dunia adalah milik orang-orang tertindas dan kaum lemah dan ini adalah sebuah kabar gembira dari Allah Swt sehingga mereka berusaha dan berjuang untuk meraihnya.

4. Kekuatan-kekuatan arogan selain akan merasakan kepedihan azab akhirat, juga memperoleh murka Tuhan di dunia ini dan mereka terhina di tangan orang-orang Mukmin.

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ (7) فَالْتَقَطَهُ آَلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ (8)

Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (28: 7)

Maka dipungutlah ia oleh keluarga Firaun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Firaun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. (28: 8)

Ayat tersebut mengisahkan tentang kelahiran Nabi Musa as dan peristiwa-peristiwa yang terjadi setelahnya, sebuah contoh tentang sunnah Ilahi untuk memenangkan orang-orang tertindas terhadap para penguasa arogan.

Para penyihir sebelumnya memberitahu kepada Firaun bahwa tahun ini akan lahir seorang bayi di tengah Bani Israil, di mana ia akan menghancurkan kekuasaanmu di masa depan. Oleh sebab itu, Firaun memerintahkan untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari Bani Israil dan jangan memberi ampun kepada seorang pun. Ketika Musa lahir ke dunia, Allah Swt memberi ilham kepada ibunya agar memberi susu kepada bayi itu dan letakkanlah ia di sebuah peti dan kemudian jatuhkanlah ia ke sungai, Tuhan akan menjaganya. Ibunda Musa juga melaksanakan apa yang didengarnya, tapi ia tetap dalam kesedihan dan kekhawatiran tentang nasib anaknya.

Dari sisi lain, Firaun dan istrinya melihat sebuah peti melintas di hadapan mereka ketika sedang duduk-duduk di pinggir Sungai Nil. Firaun memerintahkan agar mengangkat peti tersebut dari sungai. Ketika peti itu dibuka, mereka dikejutkan dengan penampakan seorang bayi yang tampan. Dari satu sisi, Firaun telah memberi perintah agar menghabisi semua bayi Bani Israil dan jelas bayi itu adalah anak keturunan Bani Israil yang sengaja dijatuhkan ke sungai agar tidak dibunuh. Dari sisi lain, Firaun tidak memiliki anak dan istrinya, Asiah ingin mengambil bayi tersebut sebagai anaknya.

Kehendak Allah Swt telah membuat ibunda Musa rela untuk menjatuhkan bayinya ke sungai dan istri Firaun juga menjadi sangat cinta kepada anak tersebut sehingga ia tidak dibunuh. Dengan begitu, Musa dibesarkan di rumah musuhnya dengan rasa aman dan jauh dari bahaya sehingga di masa mendatang ia bangkit menumbangkan pemerintahan zalim Firaun.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Di semua kebuntuan, Allah Swt adalah sebaik-baiknya pelindung dan penunjuk jalan orang-orang Mukmin. Dia akan menunjukkan jalan untuk keluar dari semua masalah.

2. Turunnya pertolongan ghaib tidak bertentangan dengan pemafaatan sarana materi. Kita harus berusaha dengan memperhatikan sarana yang kita miliki sekaligus bertawakkal kepada Allah Swt. (Ibunda Musa memberi susu kepada anaknya, menghanyutkannya ke sungai, dan bertawakal kepada Tuhan)

3. Meskipun kita tidak memahami hikmah dan falsafah di balik sebagian besar dari perintah Ilahi, tapi kita tidak boleh lalai dalam melaksanakan perintah-Nya. Karena perintah Ilahi secara pasti mengandung rahasia dan tidak ada perintah Tuhan tanpa hikmah. (Hikmah Ilahi kadang akan diketahui dengan cepat seperti, perintah-Nya untuk menjatuhkan Musa ke sungai).