Jalan Menuju Cahaya 690
Surat al-Qashash ayat 9-13.
وَقَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ قُرَّةُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (9)
Dan berkatalah isteri Firaun, “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak.” Sedang mereka tiada menyadari. (28: 9)
Di acara sebelumnya dijelaskan bahwa Firaun dan istrinya tengah duduk dipinggir sungai Nil kemudian mereka melihat sebuah peti terapung di air. Firaun memerintahkan supaya peti tersebut diambil dan ketika dibuka, mereka menyaksikan bayi di dalamnya. Sesuai dengan instruksi Firaun, seluruh bayi Bani Israil harus dibunuh, maka pengawal bersiap-siap untuk membunuh bayi tersebut.
Di saat itu, Asiah, istri Firaun berkata, “Atas dasar apa kalian akan membunuh bayi ini? Bayi ini akan memberikan berkah bagi keluarga kami dan hati kami akan menjadi gembira saat memandang bayi ini. Kami tidak memiliki anak, maka kita dapat mengangkatnya sebagai anak dan membesarkannya seperti anak-anak kami sendiri serta di masa mendatang ia akan mewarisi singgasana kerajaan.”
Ucapan Asiah membuat Firaun tidak membunuh bayi tersebut dan ia menginstruksikan supaya sang bayi dibesarkan di istana. Sejatinya mereka tidak memahami takdir Ilahi, di mana Allah Swt menetapkan Firaun menjaga musuhnya sendiri dan seluruh konspirasi untuk membantai bayi Bani Israil dengan sendirinya terpatahkan.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Perempuan dapat mengubah jalannya sebuah sejarah atau nasib sebuah umat. Istri Firaun dengan sikapnya mencegah pembunuhan Musa telah menyelamatkan Bani Israil dari cengkeraman Firaun dan mengubah sejarah.
2. Hati manusia berada di tangan Allah. Jika Allah menghendaki maka sekeras apapun hati manusia dapat melunak. Seperti hati Firaun yang sekeras batu ketika memerintahkan pembantaian seluruh bayi Bani Israil, hanya sekejab menjadi lunak dan bersedia membesarkan Musa.
وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَى فَارِغًا إِنْ كَادَتْ لَتُبْدِي بِهِ لَوْلَا أَنْ رَبَطْنَا عَلَى قَلْبِهَا لِتَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (10) وَقَالَتْ لِأُخْتِهِ قُصِّيهِ فَبَصُرَتْ بِهِ عَنْ جُنُبٍ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (11)
Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). (28: 10)
Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan, “Ikutilah dia.” Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya. (28: 11)
Setelah menghanyutkan Musa di sungai Nil, hati ibunda Musa gundah dan senantiasa dicekam kekhawatiran. Hampir saja ia mengambil kembali peti yang berisi Musa dari sungan Nil. Namun Allah Swt yang memerintahkannya untuk meletakkan Musa di peti dan menghanyutkannya di sungai kemudian menguatkan hati ibu Musa, sehingga ia benar-benar yakin bahwa Musa pasti selamat dan di kemudian hari akan dikembalikan ke pangkuannya.
Kemudian ibunda Musa menjadi tenang dan memerintahkan putrinya untuk mengawasi peti yang berisi Musa, apa yang akan terjadi dengan peti tersebut. Apakah ada yang akan menyelamatkannya atau akan terus dibawa oleh arus sungai? Saudari Musa kemudian melaksanakan perintah ibunya dan mengikuti peti tersebut secara diam-diam. Ketika tentara mengambil peti, saudari Musa pun menyaksikannya, namun para prajurit Firaun tidak mengetahuinya. Jika tidak maka mereka akan mengetahui hubungan bayi tersebut dengan dirinya.
Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Menjaga rahasia merupakan karakteristik orang beriman dan membongkar rahasia adalah ciri mereka yang imannya lemah. Khususnya di hadapan musuh agama yang ingin mengorek rahasia para pejuang.
2. Tawakal kepada Allah bukan berarti duduk diam dan tidak melakukan langkah apapun serta tidak peduli pada setiap masalah. Ibu Musa meski bertawakal kepada Tuhan, namun ia tetap memerintahkan putrinya untuk mengawasi peti yang berisi Musa
وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِنْ قَبْلُ فَقَالَتْ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُونَهُ لَكُمْ وَهُمْ لَهُ نَاصِحُونَ (12) فَرَدَدْنَاهُ إِلَى أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (13)
Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu, maka berkatalah saudara Musa, “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?” (28: 12)
Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (28: 13)
Wajar jika seorang bayi selama beberapa jam jauh dari ibunya akan merasa lapar dan haus serta menangis. Firaun kemudian memerintahkan hambanya untuk mencari perempuan untuk menyusui Musa. Atas kehendak Allah, bayi tersebut tidak menyusu pada sembarang perempuan. Prajurit yang diperintah Firaun menjadi kebingungan dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.
Di saat prajurit Firaun kebingungan, saudari Musa tanpa menimbulkan kecurigaan mengajukan ibunya untuk mengasuh serta menyusui Musa. Prajurit Firaun kemudian menerima usulan tersebut dan tanpa mereka sadari, dengan tangan mereka sendiri, Musa diserahkan kepada ibunya. Musa kemudian berhenti menangis dan para prajurit sendiri merasa bahagia karena telah berhasil melaksanakan perintah Firaun.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Kita harus cerdik dihadapan musuh dan tanpa menimbulkan kecurigaan, kita dapat melanjutkan strategi kita. Dalam hal ini, saudari Musa tidak menyebutkan nama ibunya dan hanya mengatakan bahwa ada seorang wanita yang bersedia menyusui bayi yang ditemukan Firaun.
2. Kita harus percaya pada janji Ilahi baik yang berkaitan urusan duniawi atau akhirat. Dan jangan kita ukur perbuatan Ilahi dengan parameter materi.
3. Anak sumber ketenangan jiwa seorang ibu. Ibu yang menolak untuk melahirkan anak dan merasa tenang dengan tidak memiliki anak sejatinya jauh dari lezatnya bermain serta berdekatan dengan anak.