Jalan Menuju Cahaya 691
Surat al-Qashash ayat 14-17
وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى آَتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (14)
Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (28: 14)
Ayat ini mengisyaratkan penggalan lain dari kisah kehidupan Nabi Musa. “Ketika Musa mencapai usia muda, Allah Swt mengokohkan kemampuan berpikir, akal dan anugerah Ilahi lainnya serta memberinya ilmu pengetahuan dan wawasan sehingga mampu memahami hakikat dan memilah antara batil dan kebenaran.” Patut dicatat bahwa puncak kekuatan, kemampuan dan stabilitas manusia sepanjang hidupnya adalah di usia muda.
Anugerah Ilahi kepada Musa disebabkan oleh kesucian dan kelayakannya. Menurut ayat ini, orang-orang baik akan mampu meraih anugerah Ilahi, kecuali wahyu dan kenabian yang kemudian diberikan kepada Musa, sehingga ia mencapai derajat kenabian.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Masa muda adalah masa yang paling baik di kehidupan manusia. Karena di masa tersebut, pertumbuhan fisik dibarengi dengan pertumbuhan akal serta peluang bagi kesempurnaan manusia terbuka lebar.
2. Berbuat baik kepada orang lain akan membuka kesempatan bagi seseorang untuk meraih anugera khusus Ilahi.
وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَى حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ قَالَ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ (15)
Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Firaun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata, “Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya setan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).” (28: 15)
Selama masa mudanya, Nabi Musa hidup di istana Firaun dan mendapat fasilitas hidup yang layak seperti anggota istana lainnya. Tak hanya itu, Musa pun mendapat pelatihan militer. Suatu hari Musa keluar dari istana untuk berjalan-jalan. Di sebuah jalan ia menyaksikan dua orang tengah bertengkar. Perkelahian mereka bahkan sampai pada tahap kematian. Satu dari Bani Israil dan lainnya dari suku Mesir. Sementara itu, warga Bani Israil yang melihat Musa dan mengenalnya sebagai sesama kaum, akhirnya meminta bantuan kepada Musa. Di sisi lain, Musa yang menyaksikan kaumnya berada di pihak yang tertindas, tanpa ragu-ragu menolongnya. Ia memukul warga Mesir dan lawannya langsung jatuh dan mati.
Musa sendiri tidak menyangka bahwa pukulannya sangat kuat dan akan menyebabkan lawannya meninggal. Musa tidak berniat membunuh lawannya. Apa yang ia lakukan sekedar membela orang yang teraniaya. Namun demikian warga Mesir tersebut ternyata tidak kuat menerima pukulan Musa dan meninggal. Saat itu Musa menyadari sebab pertengkaran kedua orang tersebut dan berkata, sumber pertikaian dan permusuhan adalah setan yang menciptakan pertengkaran di antara umat manusia. Sejatinya setan adalah musuh manusia dan menyesatkan manusia sehingga mereka saling bermusuhan, atau bahkan saling membunuh.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Meski Musa tumbuh dan besar di lingkungan istana Firaun, namun ia adalah sosok pelindung orang-orang yang terzalimi. Sementara itu, Asiah, istri Firaun yang hidup di istana Firaun, namun ia beriman kepada ajaran Musa dan meninggal di jalan keimanan.
2. Para nabi adalah sosok jantan, pelindung kaum tertindas dan anti kezaliman. Mereka siap bangkit melawan penguasa zalim demi membela orang-orang yang teraniaya.
3. Setan pemicu pertikaian di tengah umat manusia. Oleh karena itu, kita harus mampu meredam amarah dan jangan biarkan setan menguasai kita.
قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (16) قَالَ رَبِّ بِمَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَلَنْ أَكُونَ ظَهِيرًا لِلْمُجْرِمِينَ (17)
Musa mendoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.” Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (28: 16)
Musa berkata, “Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.” (28 :17)
Oleh karena itu, ia memohon kepada Tuhan untuk diampuni jika lalai dalam menjalankan tugasnya dan seluruh akibat dari perbuatannya untuk dihilangkan serta diselamatkan dari kekejaman Firaun. Allah Swt pun kemudian mengabulkan doa Musa dan ia diselamatkan dari kaum Mesir (Qibti). Saat itu, Musa berjanji kepada Allah selamanya tidak akan membela orang jahat sebagai ungkapan syukur atas kasih sayang Ilahi yang ia terima dan tidak akan membela penguasa lalim. Oleh karena itu, Musa tidak kembali ke istana Firaun dan memutuh hubungannya dengan mereka.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Saat menyelamatkan orang mukmin dari tangan kaum zalim, diperlukan sikap hati-hati dan waspada. Harus diupayakan untuk meminimalkan ancaman dan tidak ada bahaya yang tidak dinginkan.
2. Setiap kesalahan, meski itu tidak disengaja memiliki sejumlah pengaruh.
3. Rasa syukur tulang punggung kekuatan, penolong orang zalim dan mencegah untuk bekerjasama dengan orang zalim atau penjahat.