Lintasan Sejarah 24 September 2018
-
24 September 2018
Hari ini, Senin tanggal 24 September 2018 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 14 Muharam 1439 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 2 Mehr 1397 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Husain bin Hajjaj Bagdadi Lahir
1109 tahun yang lalu, tanggal 14 Muharam 330 HQ, Husain bin Hajjaj Bagdadi, seorang cendekiawan dan sastrawan Iran terkenal, terlahir ke dunia.
Bagdadi sangat mahir dalam menciptakan syair-syair indah yang bernilai tinggi sampai-sampai sejarawan seperti Ibnu Khalikan menjulukinya sebagai "Guru Kedua" di bidang syair.
Syair-syair ciptaan Bagdadi sebagian besarnya merupakan puji-pujian terhadap Rasulullah dan Ahlul Baitnya as serta tentang kezaliman para penguasa zaman itu.
Guinea Merdeka
44 tahun yang lalu, tanggal 24 September 1974, Guinea Bissau meraih kemerdekaannya dari Portugis.
Pangeran Henry dari Portugis mendarat di Guinea Bissau pada tahun 1446 dan sejak saat itu, Portugis menjajah negara ini hingga abad ke-20. Selama masa penjajahan Portugis, wilayah ini diberi nama Guinea Portugis.
Pada abad ke-17 dan ke-18, negara ini menjadi kawasan perdagangan budak oleh bangsa Eropa. Sejak pertengahan dekade ke 1960, kebangkitan rakyat negara ini dalam melawan penjajah semakin meningkat. Pada tahun 1970, pengontrolan dua pertiga wilayah Guinea Bissau berada di tangan para pejuang kemerdekaan. Akhirnya, Portugis pada tahun 1974 mengakui kemerdekaan Guinea Bissau.
Guinea Bissau memiliki luas wilayah lebih dari 36 ribu kilometer persegi dan berbatasan dengan Guinea dan Senegal.
Rumah Imam Khomeini di Najaf Dikepung
40 tahun yang lalu, tanggal 2 Mehr 1357 HS, pasukan keamanan rezim Baath Irak yang bekerjasama dengan Rezim Shah Pahlevi Iran, mengepung rumah Imam Khomeini di Najaf.
Rezim Baath memerintahkan kepada Imam Khomeini agar tidak melakukan wawancara dengan wartawan, mengeluarkan pernyataan, dan mengkritik pemerintahan Iran. Namun, Imam Khomeini dalam menjawab perintah ini menyatakan, "Di manapun saya berada, saya akan menjalankan kewajiban syariat."
Tak lama kemudian, pemerintah Irak memaksa Imam Khomeini meninggalkan negeri itu. Imam Khomeini kemudian pindah ke Paris dan sejak itulah gerakan Revolusi Islam semakin menggema ke seluruh dunia. Pada tahun 1979, revolusi Islam Iran mencapai kemenangannya.