Okt 14, 2018 06:55 Asia/Jakarta
  • teknologi nano
    teknologi nano

Penelitian terkait pertumbuhan kuantitas produksi ilmu pengetahuan terhadap 25 negara terunggul di bidang ini menunjukkan bahwa Republik Islam Iran mengalami pertumbuhan produksi ilmu pengetahuan yang paling tinggi pada tahun 2016.

Menurut laporan Islamic World Science Citation Center, ISC, lembaga pemeringkat sains Dunia Islam, Dr. Mohammad Javad Dehghani, Direktur ISC mengatakan, penelitian terkait pertumbuhan kuantitas produksi ilmu pengetahuan dari 25 negara terunggul di bidang ini menurut standar ISI (Information Sciences Institute) menunjukkan bahwa kuantitas produksi ilmu pengetahuan Iran di tahun 2016 dibandingkan tahun 2015 mengalami pertumbuhan sekitar 12 persen.

Pada tahun 2015, Republik Islam Iran mencatatkan 37.975 dokumen di situs ISI dan di tahun 2016 bertambah menjadi 42.503 dokumen. Di tahun 2016 kuantitas produksi ilmu pengetahuan dunia mencapai 2.452.055 dokumen dan jika dibandingkan dengan tahun 2015, harus dikatakan kuantitas produksi ilmu pengetahuan tahun 2016 belum tercatat sempurna.

Komparasi seluruh kuantitas produksi ilmu pengetahuan dunia dalam dua tahun ini menunjukkan, jika kuantitas produksi ilmu pengetahuan dunia di tahun 2016 mengalami peningkatan empat persen, maka kita akan mencapai batas kuantitas yang tercatat di tahun 2015. Meski demikian, kuantitas produksi ilmu pengetahuan Iran di tahun 2016 dibandingkan tahun 2015 meningkat sebesar 12 persen.

Baru-baru ini seorang ilmuwan keturunan Iran di Inggris juga berhasil merancang sebuah aplikasi telepon genggam yang mampu mendeteksi apakah seorang pasien membutuhkan pelayanan gawat darurat atau tidak. Proses diagnosa itu berlangsung hanya dalam waktu dua menit. Dr. Ali Parsa, penemu aplikasi ini bekerja untuk perusahaan Babylon Health di Inggris.

Ia percaya program semacam ini dapat membantu dokter untuk memusatkan perhatian pada pengobatan pasien dan tidak diperlukan lagi waktu yang lama untuk melakukan diagnosa dan pemeriksaan tanda-tanda khusus. Parsa berharap, gagasan pertama chatbots miliknya itu dapat dioperasikan dalam NHS 111 (saluran telepon untuk meminta bantuan medis darurat di Inggris dan Skotlandia).

Cara kerja aplikasi ini sangat mudah, ia mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pasien tentang tanda-tanda penyakitnya, setelah itu dijawab, ia akan mengajukan pertanyaan lebih banyak sampai kondisi pasien dapat dievaluasi dengan benar.

Diproduksinya program aplikasi telepon seluler semacam ini menjadi pertanda kemajuan teknologi yang dengan cepat mendahului peran dokter, dan hasilnya, pengobatan dan perawatan pasien akan berlangsung jauh lebih cepat dari sebelumnya.

Aplikasi yang masih terus dikembangkan itu dinilai mampu mendeteksi gangguan pencernaan pada seseorang dan secara tidak langsung menggantikan peran dokter. Di sisi lain, aplikasi ini terus diuji agar dapat mendeteksi gangguan-gangguan kesehatan yang lain pada badan manusia.

teknologi informasi

Sehubungan dengan hal ini, Parsa mengatakan, kami sudah mengumpulkan sekitar 300 juta tema, pengetahuan dan informasi, dan tidak ada satupun otak manusia yang mampu melakukan hal ini. Jumlah informasi ini adalah yang terbanyak terkait pelayanan medis klinis yang berhasil dikumpulkan dalam sebuah sistem komputer.

Dalam masa uji coba enam bulan, aplikasi besutan Dr. Parsa itu sudah digunakan untuk melayani lebih dari satu juta orang di London, Barnet, Camden, Anfield dan Islington.  

Di sisi lain, para peneliti Iran bekerja sama dengan salah satu universitas di Kanada, berhasil memproduksi laboratorium Nanosensor yang mampu mendeteksi kerusakan daging dan dapat digunakan dalam proses pengemasan otomatis bahan makanan.

Gagalnya deteksi kerusakan bahan makanan khususnya produk olahan daging di kebanyakan kasus menjadi sebab munculnya keracunan makanan dan kasus-kasus akut lainnya, bahkan sampai mengakibatkan kematian.

Oleh karena itu, pengetahuan atas kualitas makanan yang akan dikonsumsi dan secara khusus identifikasi kerusakan produk olahan daging, dapat memainkan peran signifikan dalam menurunkan dampak mengkonsumsi olahan produk ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, maraknya penggunaan mesin pengemasan otomatis menarik perhatian besar dalam rangka evaluasi prasyarat penyimpanan dan kualitas fisik, kimia dan mikroba bahan makanan.  

Dr. Hamed Golmohammadi Ghane, pelaksana proyek, selain menjelaskan tentang proses kerusakan produk olahan daging, terkait tujuan dilakukannya proyek ini mengatakan, proses kerusakan produk olahan daging kebanyakan diserta oleh produksi senyawa nitrogen semisal Ammonia dan senyawa kimia lainnya seperti berbagai jenis zat asam, Alkohol, Ester, Keton dan Aldehida.

Dalam proyek ini juga berhasil diproduksi sebuah Nanokomposit Biokompatibel transparan yang mengandung Nanopartikel perak yang bereaksi atas senyawa kimia bebas dari daging yang rusak dan berubah warna.

nano

Penggunaan Nanosensor semacam ini dalam proses pengemasan otomatis dapat menunjukkan kemungkinan rusaknya produk olahan daging sebelum dipasarkan, sehingga masyarakat dapat menikmati produk-produk yang lebih baik dan berkualitas. Selain itu dampak dan penyakit-penyakit yang muncul akibat mengkonsumsi daging rusak, dapat ditekan secara signifikan.

Dalam proyek ini, Nanopartikel perak plasmon diletakkan pada sebuah media Nanocellulose bakteri yang sudah distabilkan dan digunakan sebagai sebuah Nanosensor untuk mendeteksi uap Ammonia yang dilepaskan dari daging merah dan ikan selama proses pembusukan. Dengan menggunakan teknologi Nano, juga terbuka kemungkinan untuk memproduksi lapisan-lapisan yang super tipis, fleksibel dan transparan.

Kerja kolektif ini dilakukan oleh para peneliti Iran di lembaga riset teknologi produksi Jahad Keshavarzi, Universitas Khozestan dan Universitas Politeknik Montreal, Kanada. Hasil proyek tersebut selain digunakan dalam proses pengepakan produk-produk olahan daging, juga di bidang kedokteran.

Sementara itu, berdasarkan hasil sebuah penelitian baru, gerakan shalat lima waktu yang dilakukan Muslim dapat menyembuhkan sakit pinggang sebagaimana dilakukan oleh senam yoga dan olahraga kesehatan lainnya. Para peneliti di Universitas Binghamton, New York menemukan fakta bahwa gerakan shalat yang dilakukan secara teratur dapat menjadi metode efektif dan murah untuk mengobati sakit punggung dan pinggang.

Menurut hasil penelitian ini, kondisi tubuh seorang Muslim ketika melakukan shalat yang meliputi gerakan berlutut dan meletakkan dahi di atas tanah, jika dilakukan secara teratur, dapat memberikan dampak positif yang luar biasa dalam menurunkan rasa sakit.

Dr. Mohammad Khasavaneh terkait hal ini mengatakan, gerakan shalat mirip dengan yoga atau olahraga kesehatan lainnya yang dapat menurunkan sakit punggung. Penelitian sebelumnya membuktikan adanya hubungan yang kuat antara shalat dengan sikap hati-hati dalam menjaga pola hidup sehat.

Dalam penelitian itu, tim riset menggunakan model laki-laki dan perempuan dari berbagai agama dan bangsa. Orang-orang yang diteliti menunjukkan bahwa sudut lutut yang mengarah ke bawah saat melaksanakan gerakan shalat, berhubungan dengan penurunan rasa sakit.

Menurut Dr. Khasavaneh, gerakan sujud dapat meningkatkan peregangan sendi. Oleh karena itu bagi para penderita sakit punggung dianjurkan agar lebih banyak melakukan posisi sujud ini. []