Perkembangan Iptek di Iran dan Dunia (60)
-
perkembangan teknologi Iran
Para peneliti Institut Royan Iran berhasil memproduksi obat tetes mata dari Amniotic Membrane (AM) yang dapat memulihkan pertumbuhan sel-sel punca Limbal setelah transplantasi lingkaran sekeliling kornea. Peran sel-sel punca Limbal adalah meregenerasi sel-sel yang ada di kornea mata.
Pasien penderita kelemahan sel-sel punca Limbal, memiliki cadangan yang sedikit atau sama sekali tidak punya sel-sel punca. Masalah ini menyebabkan ketidakmampuan dalam meregenerasi kornea dan menciptakan kelemahan mendasar pada kornea dan pada akhirnya menciptakan kebutaan. Salah satu metode pengobatan penyakit ini adalah transplantasi sel-sel punca Limbal kepada para penderita.
Dalam proyek penelitian ini, para peneliti institut Royan berhasil menciptakan sebuah Amniotic Membrane (AM) untuk memulihkan hasil klinis transplantasi sel-sel Limbal setelah transplantasi potongan 1 dan 2 milimeter dari bagian Limbal mata yang sehat ke mata penderita kelemahan sel-sel punca Limbal dan menutupinya dengan lapisan tipis terbuat dari dinding wadah amniotik.
Para pasien setelah menjalani transplantasi, mengkonsumsi ekstrak Amniotic Membrane dalam bentuk obat tetes. Cacat atau kelemahan pada sel jaringan epitel di seluruh pasien berangsur pulih dua minggu setelah transplantasi. Selain itu pembuluh darah yang tercipta pada kornea pada pasien akan hilang 2-3 bulan pasca pemulihan setelah menerima transplantasi.
Hasil penelitian ini dimuat di jurnal ilmiah Ocular Surface. Penelitian ini dilakukan atas kerja sama institut Royan, Universitas Ilmu Kedokteran Syahid Behehsti Tehran dan Universitas Ilmu Kedokteran Shiraz, dengan Universitas Illinois, Amerika Serikat dan hasil penelitian dijual ke pasar oleh institut Royan.
Para peneliti Universitas Amir Kabir Tehran berhasil menciptakan hidrogen murni dengan bersandar pada bahan bakar bersih yang dapat digunakan dalam industri minyak, gas dan petrokimia serta industri logam.
Menurut peneliti, dalam proyek ini dipelajari bagaimana memproduksi hidrogen dan syngas atau synthesis gas dalam sebuah mikro reaktor untuk menurunkan pencemaran lingkungan, mengurangi konsumsi energi dibandingkan dengan metode-metode yang ada melalui model matematis dan di sisi lain, dalam penelitian ini digunakan juga metode baru siklus kimia.
Mampu memproduksi hidrogen murni dan bersandar pada bahan bakar bersih, menurunkan pelepasan dan tersimpannya CO2, memiliki kinerja mikro reaktor Fluidized Bed Biofilm Reactor, FBBR untuk mengungguli Moving Bed Biofilm Reactor, MBBR termasuk abrasi partikel, bisa digunakan untuk membuat reaktor dengan dimensi kecil (termasuk kemudahan untuk dibawa dan menurunkan ketahanan transfer panas dan massa), di antara karakteristik hidrogen murni ini.
Menurut keterangan pelaksana proyek, proyek penelitian semacam ini belum pernah dilakukan sebelumnya di dalam maupun di luar Iran, dan rancangan-rancangan program dalam penelitian ini sudah dikaji oleh para juri internasional dan hasilnya diterbitkan.
Menurunkan pencemaran lingkungan hidup, menurunkan penggunaan energi, penghematan volume reaktor, termasuk di antara kegunaan bersaing yang dihasilkan dalam penelitian ini.
Selain itu, produksi hidrogen dan syngas dapat digunakan sebagai bahan baku unit-unit produksi metanol, amonia, bahan bakar cair seperti bensin dari gas alami, juga menghidupkan bijih besi di industri logam.
Seorang ilmuwan keturunan Iran berhasil menciptakan sensor untuk mendeteksi bakteri di dalam perut. Dalam beberapa kali eksperimen yang dilakukannya, ilmuwan ini menyadari bahwa perut bekerja layaknya sebuah sistem kekebalan tubuh kedua.
Dibantu para peneliti Universitas RMIT Australia, ia melakukan uji coba sensor pertama yang setelah ditelan, langsung mengamati gas perut untuk mempelajari tingkat kesehatan organ tubuh ini. Uji coba-uji coba tersebut menunjukkan kemungkinan bahwa perut manusia punya sistem kekebalan sendiri yang melawan serangan dari luar.
Informasi-informasi yang diperoleh dari alat-alat kecil di dalam perut dikirim ke telepon genggam dan para peneliti berhasil mengamati proses pencernaan makanan secara nyata. Dari lima orang yang menderita gangguan perut dan menggunakan teknologi ini, mengaku sangat terbantu dengan adanya deteksi atas gangguan-gangguan tersebut.
Baru-baru ini para peneliti menamai perut sebagai otak kedua manusia dan sejumlah bukti menunjukkan organ tubuh manusia ini juga bekerja layaknya sistem kekebalan tubuh kedua.
Menurut Dr. Kouroush Kalantarzadeh penemu sensor ini, sebelum alat ini ditemukan, untuk mengamati aktivitas perut harus memeriksa sampel feses, menguji cobanya atau mengambil sampel melalui operasi bedah dan menganalisa bakteri-bakteri perut. Akan tetapi dengan ditemukannya alat ini, aktivitas perut dapat diamati secara nyata. Kapsul ini mengamati mikroba-mikroba perut secara tidak agresif.
Dengan mengukur tingkat gas yang terlepas di dalam perut dalam berbagai keadaan, para peneliti menyadari bahwa organ tubuh ini melakukan oksidasi terhadap beberapa jenis senyawa tubuh sehingga menimbulkan efek yang sangat menegangkan bagi tubuh manusia. Oksidasi jika terjadi berulang-ulang akan berujung dengan penuaan, kanker dan penyakit jantung.
Oleh karena itu senyawa yang mengandung anti-oksidan akan membuka jalan untuk mencegah penyakit-penyakit ini, tapi tubuh manusia membutuhkan proses oksidasi dalam tingkat yang seimbang.
Proses ini menarik elektron setiap sel dan melucutinya. Di sisi lain sel darah putih dalam proses oksidasi bisa membunuh sel-sel bakteri. Sensor-sensor baru juga menunjukkan, perut melakukan proses oksidasi.
Para peneliti ini saat uji coba memahami bahwa perut melakukan proses oksidasi untuk mengalahkan senyawa-senyawa asing. Dengan kata lain perut mengetahui apa saja yang melebihi batas dari apapun yang tersisa di dalam perut dan tidak mereaksi proses pencernaan lazim. Ini adalah bentuk lain dari sistem kekebalan yang sampai sekarang belum diketahui.
Para pakar kedokteran lingkungan Universitas Duke, Amerika berhasil menciptakan otot rangka tubuh manusia yang bisa bergerak dengan menggunakan sel induk pluripoten diinduksi atau Sel iPS. Para peneliti berhasil menciptakan sel-sel otot hanya dengan bantuan sel-sel yang diambil dari goresan kecil di kulit manusia.
Selanjutnya, sel-sel punca ini diletakkan di bawah perawatan molekul PAX-7 yang memberikan sinyal ke sel-sel untuk berubah menjadi otot. Sel-sel ini sebagaimana juga dapat berkembangbiak, menghasilkan karakteristik-karakteristik yang mirip dengan sel-sel punca otot dewasa.
Setelah dua hingga empat minggu ditanam di ruang tiga dimensi, sel-sel otot yang dihasilkan dari proses ini membentuk diferensiasi serat-serat otot yang mampu melakukan kontraksi dan mereaksi masuknya saraf jaringan otot alami di hadapan penggerak semacam getaran-geteran elektronik dan sinyal-sinyal biokimia. Serat-serat otot ini setelah ditransplantasi ke tubuh tikus, bertahan hidup lebih dari tiga minggu dan punya kinerja, dan bergabung dengan jaringan otot yang ada.
Otot ini meski mirip dengan otot alami, tapi tidak kuat. Akan tetapi di masa depan dapat berubah menjadi otot yang kuat dan memiliki kinerja. Para peneliti berharap hasil-hasil kajian ini di masa depan dapat digunakan untuk mengobati penderita Distrofi otot Duchenne yang mengalami gangguan otot.
Sebuah kolaborasi komputasional telah berhasil menemukan bilangan prima terbesar yang kita ketahui. Panjangnya bahkan mencapai 23 juta digit, satu juta digit lebih panjang dari rekor sebelumnya.
Penemuan angka terbesar yang hanya dapat dibagi dengan dirinya sendiri dan satu ini sangat menghebohkan dunia matematika. Sebab, bilangan prima semakin sulit dicari dan membutuhkan kolaborasi program komputer yang rumit.
Diberi nama M77232917, bilangan prima tersebut ditemukan oleh komputer milik Jonathan Pace, seorang insinyur listrik yang telah mencari bilangan prima besar selama 14 tahun setelah bergabung dalam proyek pencari bilangan prima Mersenne besar yang bernama Great Internet Mersenne Prime Search (GIMPS).
Pace juga adalah seorang karyawan perusahaan FedEx, Amerika berusia 51 tahun. Ia akan mendapatkan hadiah 3.000 dolar untuk penemuannya tersebut. Temuan ini pun menjadi bilangan prima Mersenne ke-50 yang ditemukan dalam sejarah dan ke-16 yang ditemukan oleh GIMPS.
Angka ini terdiri dari 23.249.425 digit, yang jika dicetak dengan angka satu milimeter akan sepanjang lebih dari 1.500 bus. Angka itu hampir satu juta digit lebih panjang dari bilangan prima terpanjang di dunia sebelumnya, yang ditemukan pada Januari 2016.[]