Des 27, 2018 15:53 Asia/Jakarta
  • perkembangan iptek
    perkembangan iptek

Berdasarkan laporan The Nature Index tanggal 24 Januari 2018, Republik Islam Iran dalam satu dekade terakhir dengan pertumbuhan 22 persen pertahun dibandingkan negara dunia lain, menjadi negara yang mengalami kemajuan terpesat di bidang sains dan teknik.

Menurut Islamic World Science Citation Database, ISC, produksi ilmu pengetahuan di Iran yang dicatat oleh situs Web of Science, WOS menunjukkan, makalah ilmiah Iran yang tercatat pada tahun 1978 sekitar 500 makalah dan tingkat partisipasi dalam produksi ilmu pengetahuan dunia sebesar 0,095 persen dan berada di peringkat ke 43 dunia, namun pada tahun 2017 tingkat partisipasi Iran dalam produksi ilmu pengetahuan dunia menjadi sekitar 1,9 persen dan berada di peringkat 16 dunia.

Oleh karena itu, produksi ilmu pengetahuan dan jumlah makalah ilmiah yang tercatat di era pasca kemenangan Revolusi Islam Iran bertambah lebih dari 90 kali lipat dan partisipasi Iran di level internasional dalam produksi ilmu pengetahuan selama era ini bertambah 20 kali lipat.

Berdasarkan data resmi, rata-rata pertumbuhan total makalah ilmiah tahunan di bidang sains dan teknik dekade terakhir bertambah 6 persen, akan tetapi Republik Islam Iran dengan pertumbuhan 22 persen, termasuk negara yang mengalami kemajuan ilmu pengetahuan terpesat dibanding negara-negara dunia lain.

Setelah Iran ada Cina dan India dengan pertumbuhan 14 persen di posisi kedua. Kemudian disusul Brazil, Korea Selatan, Australia, Spanyol, Italia, Rusia dan Kanada yang masing-masing mendudui posisi berikutnya.

The Nature Index adalah lembaga yang melacak makalah-makalah ilmiah terbaik hasil penelitian institusi atau negara dunia dan memperbarui datanya setiap bulan. Data di situs ini setiap bulan di perbaiki dan diperbarui, dan setiap orang dapat mengaksesnya secara gratis.

Menurut ISC, Iran melakukan investasi serius di bidang teknologi strategis seperti sel punca, energi terbarukan, bioteknologi, teknologi mikroelektronika, dirgantara, teknologi nano, pengobatan khas Iran, tanaman obat, dan hari ini nama Iran dikenal di banyak cabang ilmu pengetahuan strategis di antara negara-negara unggul dunia.

Berdasarkan hasil terbaru yang diumumkan oleh situs ISI Essential Science Indicators, Dr. Ramin Heshmat, salah satu staf pengajar Pusat Riset Endokrin dan Matabolisme, Universitas Ilmu Kedokteran Tehran, dan Alireza Torabi, asisten dosen di Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Tehran masuk daftar satu persen ilmuwan terbaik dunia.

Situs ISI Essential Science Indicators berdasarkan aktivitas 10 tahun terakhir para ilmuwan dari berbagai universitas dunia, mempublikasikan sebuah daftar nama ilmuwan-ilmuwan terbaik. Situs ini memperbarui datanya setiap dua bulan sekali berdasarkan perkembangan terkini di jaringan ilmu pengetahuan internasional.

ISC

Tolok ukur pemilihan ilmuwan terbaik adalah jumlah rujukan terhadap produk ilmiah mereka di jurusan dan 22 bidang studi yang menjadi objek penilaian situs ini. Menurut tolok ukur tersebut, para peneliti yang berdasarkan makalah-makalahnya memiliki tingkat rujukan tertinggi, diurutkan lalu satu persen terbaik dari mereka di berbagai bidang, dipilih dan diumumkan.

Para peneliti di Science Park (taman sains) Pardis Iran berhasil mendesain dan membuat obor plasma (plasma torch) untuk pemusnahan limbah kilang minyak. Dengan menggunakan obor plasma ini terbuka kemungkinan produksi energi dari limbah-limbah dengan metode plasma, pemusnahan limbah kimia dan limbah rumah sakit berbahaya, dan penelitian untuk memproduksi listrik dengan metode MHD.

Produk ini dapat digunakan di kantor-kantor institusi pemerintahan, rumah sakit, perusahaan-perusahaan farmasi, badan energi atom dan industri yang menghasilkan limbah seperti industri peleburan logam (metalurgi).

Produksi hot plasma dengan suhu antara 3.000 hingga 20.000 derajat celsius, kemampuan maksimal 80 kilowatt, usia elektroda 150 jam secara terus menerus dan kemampuan produksi air plasma (plasma udara), Argon, nitrogen, termasuk di antara kegunaan alat ini.

Proses pemusnahan limbah kimia dan limbah rumah sakit dengan menggunakan teknologi obor plasma dapat memenuhi salah satu kebutuhan mendasar Iran untuk menghilangkan bahaya yang bersumber dari limbah-limbah ini dan memberikan pengaruh signifikan dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup di negara ini.

Untuk pertama kalinya di dunia, 5 orang anak akhirnya memiliki telinga dengan bantuan sebuah metode baru. Para peneliti Cina dalam eksperimen baru mereka berhasil menciptakan telinga palsu untuk anak-anak penderita gangguan Microtia.

Pada para penderita Microtia, daun telinga seseorang tidak tumbuh normal dan ia akan mengalami gangguan pendengaran. Biasanya anak-anak yang terkena gangguan Microtia akan dibuatkan telinga palsu yang terkadang terbuat dari tulang rawan (kartilago) tulang rusuk manusia.

Oleh karena itu para peneliti di Universitas Jiao Tong, Shanghai, Cina dengan metode baru dan lebih sederhana, menciptakan telinga palsu untuk para penderita gangguan ini.

Proses pembuatan telinga palsu dengan menggunakan metode ini, pertama dilakukan sebuah CT Scan dari telinga sehat seorang anak, kemudian dibuat format tiga dimensinya dan para peneliti membuat telinga palsu itu dengan memperhatikan cetakan yang memiliki lubang-lubang kecil.

Cetakan ini dipenuhi sebuah senyawa yang dapat diserap tubuh. Lebih dari itu, sampel kecil dari sel-sel telinga seseorang yang tidak tumbuh dengan sempurna dituangkan ke lubang-lubang kecil pada cetakan.

Dalam waktu 12 minggu sel-sel mengalami pertumbuhan dan muncul dalam bentuk cetakan, dan senyawa lain terserap di badan. Foto tahap-tahap pertumbuhan telinga anak menunjukkan bahwa metode ini luar biasa efektif.

Selain itu, dalam metode ini, sebuah tissue extender (faktor yang memperluas jangkauan jaringan sel) diletakkan di bawah kulit telinga yang tumbuh tidak sempurna. Dengan metode ini, kulit bagian tubuh ini akan tertarik.

Sampai sekarang masih belum jelas seberapa lama masa pengobatan berlangsung, namun para pasien harus berada di bawah pengawasan para penliti selama 5 tahun.

Menurut para peneliti, dengan metode ini telinga palsu untuk 4 orang lain juga dibuat, tapi bentuk organ tubuh yang tumbuh, tidak sempurna. Penemuan baru penelitian ini dimuat dalam EbioMedicine.[]