Perkembangan Iptek di Iran dan Dunia (74)
-
perkembangan teknologi Iran
Untuk pertama kalinya Republik Islam Iran dari sisi kuantitas produksi karya ilmiah pada tahun 2017 menduduki peringkat pertama di antara negara-negara Muslim. Data ini diperoleh dari pemeringkatan SCImago untuk tahun 2017.
Meskipun di situs pemeringkatan Scopus terkait produksi karya ilmiah, Iran di antara negara-negara Muslim dunia menduduki peringkat pertama, namun di situs Web of Science, WOS dalam beberapa tahun terakhir Turki berada di urutan pertama negara Muslim dengan jumlah karya ilmiah terbanyak dan Iran di posisi kedua, tapi di tahun 2017 Iran berhasil mengubah posisi dan bertengger di urutan pertama.
Saat ini di antara negara-negara dunia dengan jumlah karya ilmiah terbanyak di tahun 2017 menurut versi WOS dan Scopus, Iran berada di peringkat ke-16.
Menurut keterangan Islamic World Science Citation Database (ISC), berdasarkan rencana 10 tahun bidang ilmu pengetahuan dan teknologi negara-negara Muslim yang disepakati pada tahun 2017 oleh para pemimpin negara dan menteri iptek negara-negara Muslim di Kazakhstan, tingkat produksi sains negara-negara Muslim dalam 10 tahun mendatang akan ditambah dua kali lipat.
Saat ini sumbangan negara-negara Muslim dalam produksi karya ilmiah dunia sekitar 8 persen dan dalam 10 tahun ke depan harus ditingkatkan menjadi 16 persen.
Di bidang diplomasi dan kerja sama ilmu pengetahuan di antara negara-negara dunia, Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Jerman, Cina, Kanada dan Australia adalah 7 negara yang paling banyak menjalin kerja sama ilmu pengetahuan dengan negara-negara Muslim dalam rentang waktu antara tahun 2013-2017.
Begitu juga jurnal ilmiah Geopersia yang dipublikasikan oleh Fakultas Geologi cabang Pardis, Universitas Tehran, dimuat dalam situs terkemuka internasional, WOS. Jurnal ilmiah Geopersia yang dimuat dalam situs WOS adalah edisi tahun 2015-2017.
Sekelompok insinyur mekanik di Institut Politeknik Worcester, WPI di Massachusetts, Amerika Serikat yang dipimpin seorang ilmuwan keturunan Iran berhasil merancang sistem pendingin motor listrik baru yang sama sekali tidak menggunakan Moving Parts.
Dengan memperhatikan perencanaan serius Badan Penerbangan dan Antariksa, Amerika, NASA untuk mengirim astronot ke planet Mars, upaya menciptakan kondisi dingin di lingkungan sekitar para astronot menjadi hal yang sangat urgen.
Sistem Elektrokinetika yang sukses diuji coba di Stasiun Luar Angkasa Internasional, ISS menggunakan beberapa jenis cairan yang mengandung muatan listrik untuk mendinginkan lingkungan sekitar.
Cairan-cairan ini melewati pipa-pipa tipis sehinga menjauhkan suhu panas tanpa menciptakan kebisingan atau getaran ke daerah sekitar astronot berada.
Suhu panas merupakan ancaman terbesar dalam perjalanan ke luar angkasa dan selalu menciptakan masalah bagi para astronot.
Suhu di ruang angkasa sangat dingin, tapi ketika pesawat luar angkasa terpapar cahaya matahari, secara tiba-tiba dan dengan cepat akan menjadi sangat panas dan suhunya mendekati titik didih.
Kecuali jika permukaan pesawat luar angkasa memiliki kemampuan meredam panas.
Selain itu, semua sistem listrik, elektronik, mekanik, bahkan tubuh astronot sendiri menghasilkan panas, dan aktivitas semua peralatan itu pada kondisi vakum, dapat menyebabkan hilangnya udara untuk mengalihkan atau mengubah suhu panas, sehingga berkumpulnya hawa panas ini dapat menciptakan masalah.
Menurut peneliti keturunan Iran yang terlibat dalam proyek penelitian itu, Jamal Yaqoubi, sistem ini berhasil diuji coba di Stasiun Luar Angkasa Internasional, ISS pada tahun 2017 dan rencananya hingga tahun 2021 sampel yang lebih rumit dan canggih akan dibuat dengan biaya 10 juta dolar.
Dengan ditemukannya penemuan baru oleh para peneliti Swedia di KTH Royal Institute of Technology terbuka harapan dalam waktu dekat ini, penggunaan sekrup dan pelat logam yang cukup mengganggu dalam menyambungkan bagian-bagian tulang cedera manusia, dapat dihindari.
Penggunaan berbagai jenis perekat oleh dokter gigi untuk menyembuhkan gigi yang rusak banyak dilakukan, akan tetapi setelah operasi bedah tulang yang cedera selesai, biasanya digunakan pelat logam dan sekrup untuk menyambungkan tulang satu dengan yang lainnya.
Penemuan baru para ilmuwan Swedia dapat menghentikan kebiasaan ini. Mereka memproduksi sejenis perekat alami yang sesuai dengan tubuh manusia sehingga tulang-tulang yang basah dapat disambungkan dengan kekuatan tinggi.
Seluruh proses penyambungan tulang cedera dengan cara ini hanya memakan waktu lima menit.
Perekat ini diletakkan di atas sebuah serat khusus dan disambungkan ke tulang-tulang yang cedera, sehingga pada akhirnya bagian-bagian tulang yang patah saling tersambung dengan baik.
Kekuatan perekat ini 55 persen lebih kuat dari perekat biasa yang digunakan dokter gigi.
Dewasa ini, metode tersebut masih digunakan secara uji coba dan sebuah perusahaan baru Swedia bernama Biomedical Bonding AB (BMB) sedang berupaya agar produk ini bisa dipasarkan dalam waktu dekat.
Para peneliti Jepang sekarang sedang menguji coba sebuah alat yang memungkinkan seseorang mengetes sampel urinnya sendiri untuk mendeteksi penyakit kanker.
Perusahaan Jepang, Hitachi mungkin merupakan perusahaan yang pertama kali di dunia yang menciptakan alat tes kanker paling mudah.
Perusahaan ini menemukan metode yang bisa mendeteksi penyakit kanker hanya dengan meneliti dan menganalisa sampel urin seseorang.
Metode ini sangat berguna terutama untuk mendeteksi penyakit kanker dada dan kanker usus besar. Menurut keterangan humas Hitachi, metode ini sudah diuji coba terhadap 250 sampel.
Setelah nanti mendapat izin dan pengesahan, metode tersebut akan sangat berguna untuk mendeteksi kanker pada anak-anak.
Dengan bantuan metode ini, setiap orang bisa mendeteksi sendiri keberadaan kanker pada dirinya di tahap awal.[]