Apr 25, 2016 15:06 Asia/Jakarta

Hari ini, Sabtu tanggal 26 Maret 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 16 Jumadil Tsani 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 7 Farvardin 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Ibnu Humam Al-Iskafi, Ahli Hadis Wafat

1101 tahun yan glalu, tanggal 16 Jumadil Tsani 336 Hq, Ibnu Humam al-Iskafi meninggal dunia di Baghdad, Irak dan dimakamkan di pekuburan Quraisy.

Ibnu Humam lahir pada 258 Hq dan dalam pendidikan agamanya beliau belajar kepada ayahnya, Ahmad bin Idris al-Qummi dan Abdullah bin Ja’far al-Hamidi. Di masanya, Ibnu Humam merupakan sejarawan terbesar Baghdad dan karya tulisnya seperti al-Anwar fi at-Tarikh al-Aimmah.

Ibnu Darraj Qastalli Wafat

1016 tahun yang lalu, tanggal 16 Jumadil Tsani tahun 421 Hq, Ibnu Darraj Qastalli, penyair dan penulis terkenal Andalusia meninggal dunia.

Ibnu Darraj dilahirkan pada tahun 347 Hq. Dia memiliki peran dalam mengembangkan syair Arab di akhir abad ke-4 dan awal abad ke-5 Hijriah.

Dia memperlihatkan aliran baru dalam syair Arab dan syair-syairnya selain bernlai sastra tinggi, juga menjadi sumber terpercaya mengenai kejadian-kejadian di Spanyol pada masa itu.

Kazem Zadeh Iranshahr, Penulis Kontemporer Iran Wafat

54 tahun yang lalu, tanggal 7 Farvardin 1340 HS, Kazem Zadeh Iranshahr meninggal dunia di Swiss dalam usia 78 tahun dan dimakamkan di sana.

Hossein Zadeh Iranshahr Tabrizi lahir di kota Tabriz pada 1262 HS dan menyelesaikan pendidikan dasarnya di kota kelahirannya. Untuk beberapa waktu ia pergi ke Kaukasus dan memilih Istanbul untuk melanjutkan pendidikannya. Kazem Zadeh bergabung dengan warga Iran pencari kebebasan yang tinggal di Istanbul dan bersama mereka membentuk Asosiasi Persaudaraan Iran.

Dari Turki, Kazem Zadeh lalu pergi ke Mekah dan setelah itu menuju Eropa. Ia melanjutkan pendidikannya di Paris dan belajar jurnalistik. Selama di Paris, ia bersama Allamah Mohammad Qazvini mendirikan Asosiasi Sastra dan Sains Iran dan setelah beberapa waktu ia mengajar bahasa dan sastra Persia di Universitas Cambridge, Inggris.

Kazem Zadeh pada 1301 HS mempublikasikan majalah Iranshahr di Istanbul selama empat tahun dan Kementerian Kebudayaan Iran mengangkatnya sebagai pemimpin mahasiswa Iran di Turki.

Setelah tinggal selama 19 tahun di Jerman, Kazem Zadeh memutuskan untuk pergi ke Swiss dan di sana membentuk sebuah aliran Irfan Bathini yang memiliki banyak pengikut. Selain bahasa Persia, ia menguasai bahasa Perancis, Inggris, Jerman dan Arab dan banyak menggubah syair. Ia menulis banyak karya seperti Dar Jostejou-ye Khoushbakhti, Rah-e Now, Tajalliyat-e Rouh-e Irani dan lain-lain.

Bangladesh Memisahkan Diri

 

45 tahun yang lalu, tanggal 26 Maret 1971, menyusul pergolakan politik dalam skala besar, Pakistan timur yang kini bernama Bangladesh memisahkan diri dari Pakistan dan mengumumkan kemerdekaannya.

Sebelumnya, tahun 1947, Pakistan memisahkan diri dari India. Namun kebijakan diskriminatif yang dijalankan oleh pemerintah pusat di Islamabad terhadap warga suku Bangla yang merupakan 98 persen dari seluruh penduduk di wilayah Pakistan Timur melahirkan ketidakpuasan umum. Sebelumnya warga Pakistan Timur mengajukan tuntutan otonomi untuk wilayah mereka. Tetapi lambat laun tuntutan itu berubah menjadi gerakan pemisahan diri dari Pakistan.

 

Untuk memadamkan pergolakan rakyat tentara Pakistan menduduki kota Dakka. Pasukan India campur tangan dengan memihak warga Pakistan Timur, akhirnya, pasukan Pakistan terpaksa meninggalkan kota Dakka dan Pakistan Timur memproklamasikan kemerdekaan dengan mengubah nama menjadi Bangladesh.

Najiburrahman pemimpin Pakistan Timur menjadi presiden pertama Bangladesh. Tetapi tak lama, Najiburrahman terbunuh dalam sebuah kudeta. Bangladesh dengan luas wilayah 144 ribu kilometer persegi terletak di timur laut anak benua India dan bertetangga dengan India dan Myanmar.

Sekjen PBB Mengutuk Penggunaan Senjata Kimia

28 tahun yang lalu, tanggal 7 Farvardin 1367 Hs, Sekjen PBB mengutuk penggunaan senjata kimia yang digunakan rezim Saddam.

Sekalipun Irak di masa rezim Saddam banyak menggunakan senjata kimia dan Dewan Keamanan PBB di tahun-tahun berikutnya tidak mereaksi hal ini, Javier Perez de Cuellar, Sekjen PBB waktu itu akhirnya mengambil inisiatif mengeluarkan pernyataan mengutuk pemerintah Irak.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada 7 Farvardin 1367 Hs (28 Maret 1988), Sekjen PBB menyatakan penyesalannya dan menyebut memiliki banyak bukti terkait penggunaan senjata kimia di hari-hari terakhir perang Iran-Irak yang digunakan oleh rezim Saddam. Menurutnya, penggunaan senjata kimia telah merenggut banyak korban dari warga kedua negara.

Di bagian lain dari pernyataannya, Sekjen PBB secara transparan mengecam penggunaan senjata kimia dalam kondisi dan alasan apapun.

Pernyataan ini sangat penting dan jarang terjadi di PBB. Keberanian de Cuellar ini pada saat yang sama menunjukkan dirinya bersikap netral dan tidak berpihak, sehingga berhasil mempertahankan hubungannya dengan dua negara yang konflik selama 8 tahun. Sikap ini sangat berpengaruh dalam membatasi pelanggaran HAM selama masa perang dan membantu segera diakhirinya perang.