Lintasan Sejarah 27 Maret 2016
Hari ini, Ahad tanggal 27 Maret 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 17 Jumadil Tsani 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 8 Farvardin 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Kelahiran Fahrenheit
330 tahun yang lalu, tanggal 27 Maret tahun 1686, Gabriel Daniel Fahrenheit kimiawan terkenal Jerman terlahir ke dunia. Fahrenheit yang asli warga kota pelabuhan Danzig memulai penelitiannya sejak usia dini. Akhirnya, pada tahun 1714, Fahrenheit berhasil menciptakan termometer merkuriyang berfungsi mengukur suhu udara.
Ilmuan ini juga menciptakan system pengukur suhu udara yang kemudian diberi nama Fahrenheit. Berdasarkan sistem ini, air membeku pada suhu 32 derajat dan mendidih pada suhu 212 derajat Fahrenheit.
Fahrenheit meninggal dunia pada tahun 1736.
Alfred Victor lahir ke Dunia
219 tahun yang lalu, tanggal 27 Maret tahun 1797, Alfred Victor de Vigny, penyair dan penulis Perancis lahir ke dunia. Di usia muda, ia bergabung dalam jajaran militer sampai mencapai pangkat letnan. De Vigny adalah penyair yang menganut gaya filosofis. Keyakinannya terkait filsafat ia tuangkan dalam syair-syairnya.
Alfred de Vigny meninggalkan banyak karya di antaranya, '5 Maret', 'Puisi Lama dan Baru' serta 'Nasib'.
Alfred de Vigny meninggal dunia tahun 1863.
Kelahiran Penemu Sinar X
171 tahun yang lalu, tanggal 27 Maret tahun 1845, Wilhelm Conrad Rontgen, matematikawan dan ahli Fisika terkenal Jerman lahir ke dunia. Rontgen banyak melakukan kajian dan penelitian yang berhubungan dengan sinar.
Akhirnya pada tahun 1895, saat melakukan sebuah penelitian di laboratoriumnya, secara tak sengaja ia menemukan sebuah sinar yang dapat menembus berbagai benda yang tak ditembus oleh cahaya biasa. Karena misterius, sinar ini diberinama Sinar X.
Pada tahun 1901, Rontgen menerima hadiah Nobel untuk Fisika. Wilhelm Conrad Rontgen meninggal pada tahun 1923 di Munich, Jerman.
Rakyat Bangkit Melawan Shah Pahlevi di Arbain Syuhada Tabriz
38 tahun yang lalu, tanggal 8 Farvardin 1357 Hs, rakyat Tabriz bangkit melawan rezim Pahlevi.
Menyusul publikasi tulisan yang menghina Imam Khomeini ra di surat kabar Ettelaat pada 17 Dey 1356 Hs dan munculnya Kebangkitan 19 Dey di kota Qom, akhirnya warga Iran di seluruh penjuru negeri mulai melakukan demonstrasi menentang rezim Shah Pahlevi. Aksi demo ulama dan rakyat Qom mendukung Imam Khomeini ra, pemimpin mereka yang diasingkan dan protes mereka atas kelancangan terhadap ulama besar ini berujung pada aksi kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan rezim Shah. Represi itu mengakibatkan jatuhnya banyak korban; baik yang syahid maupun yang cedera.
Mendekati peringatan 40 hari syuhada 19 Dey di Qom, kota Tabriz pada 29 Bahman 1356 menyelenggarakan peringatan yang diikuti secara luas oleh rakyat kota ini. Tapi peringatan ini dirusak oleh serangan yang dilakukan oleh aparat keamanan rezim Shah dengan senjata lengkap dan terjadilah tragedi kemanusiaan yang lebih buruk dari yang terjadi di Qom. Beberapa waktu berlalu dan ketika mendekati peringatan 40 hari tragedi tersebut, rakyat Iran di penjuru negeri melakukan aksi unjuk rasa. Sementara rakyat Tabriz sendiri melakukan aksinya pada 8 Farvardin 1357 Hs.
Protes yang dilakukan rakyat semakin meluas. Ayatullah Sadouqi mengajak para pedagang menutup pasar dan bergabung dengan masyarakat di masjid Jami Yazd. Pertemuan akbar ini dimulai dengan pidato dan dilanjutkan dengan aksi turun ke jalan. Namun seperti yang sudah-sudah, aparat keamanan dengan senjata lengkap menyerang warga dan banyak korban berguguran. Peringatan Arbain Syuhada Tabriz juga dilakukan di kota-kota seperti Ahvaz dan Jahrom. Di dua kota ini, militer Shah juga melakukan serangan membabi-buta.
Peristiwa ini membuat pergerakan Revolusi Islam semakin cepat yang berujung pada kemenangannya pada 22 Bahman 1357 Hs.
Muhaddis Mirza Hossein Nouri Wafat
117 tahun yang lalu, tanggal 17 Jumadil Tsani 1320 Hq, Mirza Hossein Nouri meninggal dunia di usia 66 tahun dan dikebumikan di Najaf, Irak.
Mirza Hossein bin Muhammad Taqi bin Muhammad Ali Nouri Mazandarani yang lebih dikenal dengan Mirza Hossein Nouri lahir di kota Nour, Mazandaran pada 1254 Hq. Mirza Nouri merupakan ahli hadis, faqih, mufassir dan penyair. Beliau pernah menuntut ilmu kepada Sayid Mahdi Qazvini. Mirza Hossein Nouri juga belajar kepada guru-guru besar untuk memperdalam hadis seperti Agha Bozourgh Tehrani, Sheikh Abbas Qommi, Muhammad Husein Kasyif al-Ghitha dan Sayid Syarafuddin Amili.
Mirza Nouri sangat berperan menyebarkan prinsip-prinsip mazhab syiah dan hadis-hadis para Imam as. Beliau juga dikenal dengan keutamaannya dalam beribadah dan ketakwaan.
Sebagian dari karya beliau adalah Ma'alim al-Shabar, Jannah al-Ma'wa dan Nafas al-Rahman fi Fadhail Salman. Mirza Nouri memiliki perpustakaan yang lengkap dan sulit dicari bandingannya di Iran dan Irak dari sisi kuantitas dan kualitas. Tetapi koleksi perpustakaannya ini tercerai berai sepeninggal beliau.
Mirza Nouri merupakan ayah dari istri Syahid Sheikh Fadhlullah Nouri, seorang ulama pejuang di masa Revolusi Konstitusi dan kebanyakan dari buku-buku berharga beliau berada pada anak-anak Sheikh Fadhlullah Nouri. Kemudian sebagian dari buku-buku ini dibeli oleh Ayatullah Boroujerdi dan diletakkan di perpustakaan beliau di Najaf, Irak.