Perkembangan Iptek di Iran dan Dunia (106)
Aug 18, 2019 16:49 Asia/Jakarta
-
perkembangan teknologi Iran
The World Academy of Sciences (TWAS) mengumumkan pemenang TWAS Prize tahun 2019 di Konferensi Umum ke-28, Pertemuan Umum TWAS ke-14 di Trieste, Italia.
Bersama 13 pemenang lainnya, Dr. Hossein Baharvand, seorang profesor terkemuka Iran, pendiri dan direktur Royan Institute for Stem Cell Biology and Technology, memenangkan TWAS Prize di bidang biologi atas kontribusi fundamentalnya pada pemahaman tentang bagaimana pluripotensi dan diferensiasi terbangun dan terpelihara dalam sel induk.
TWAS Prize setiap tahun diberikan untuk 9 bidang studi yaitu, Ilmu Pertanian, Biologi, Kimia, Ilmu Bumi, Astronomi dan Antariksa, Ilmu Teknik, Matematika, Ilmu Kedokteran, Fisika, dan Ilmu Sosial. Para pemenang akan mempresentasikan penelitian mereka pada Pertemuan Umum TWAS ke-29, dan akan menerima hadiah.
Tahun 2019 ini, TWAS Prize diberikan kepada 13 pemenang, satu orang pemenang dari Iran, 4 orang dari Cina, 2 orang dari Taiwan, 3 orang dari Argentina, satu orang dari Malaysia, satu orang dari Nigeria dan seorang dari Afrika Selatan.
Setiap pemenang TWAS Prize akan menerima hadiah 15.000 dolar. TWAS didirikan pada tahun 1983 oleh sekelompok ilmuwan terkemuka dari sejumlah negara berkembang, dipimpin oleh Abdus Salam, fisikawan Pakistan, dan penerima hadiah Nobel.
Para peneliti University of Mohaghegh Ardabili (UMA), Iran dalam sebuah penelitian bekerjasama dengan para penliti Universitas Lille, Perancis, menemukan sebuah nanosensor murah dan cepat untuk mendeteksi keberadaan bakteri pada bahan makanan.
Kerusakan yang disebabkan oleh bakteri yang terdapat pada bahan makanan, selain membahayakan kesehatan orang yang mengkonsumsinya, juga merugikan perekonomian para produsen dan penjual.
Menurut salah satu asisten profesor di jurusan kimia Universitas Mohaghegh Ardabili, beberapa jenis mikroba terkadang menjadi penyebab penyebaran penyakit berbahaya di tengah masyarakat, dan menciptakan berbagai bencana besar di bidang ekonomi dan sosial secara nasional.
Oleh karena itu, upaya apapun yang mungkin dilakukan untuk mengembangkan nanosensor murah, sensitif dan cepat dalam rangka mengawasi keberadaan faktor-faktor penyebab penyakit pada bahan makanan, dapat memberikan bantuan besar bagi proses pengelolaan penyakit dan menurunkan tingkat keracunan makanan.
Dalam penelitian ini, para peneliti memanfaatkan sebuah strategi sederhana dan murah untuk menciptakan sebuah nanosensor, berbeda dengan metode-metode yang membutuhkan waktu lama dan mahal, metode yang digunakan dalam penelitian ini mampu mendeteksi secara akurat dan sangat cepat, faktor-faktor penyebab penyakit yang ada dalam bahan makanan.
Menurut para peneliti, dalam pembuatan nanosensor ini, digunakan sebuah lapisan tipis dari emas dan diletakkan di bawah lapisan kaca. Dalam metode ini digunakan juga lapisan silika untuk mendeteksi keberadaan bakteri.
Oleh karena itu, bentuk dan jumlah bakteri akan tampak di permukaan lapisan, dengan kata lain, lapisan memainkan peran model bakteri-bakteri. Model-model ini memiliki kemampuan menjebak dan membebaskan bakteri, dengan cara inilah bakteri-bakteri dapat dideteksi. Hasil penelitian tersebut dimuat dalam jurnal ilmiah Biosensors and Bioelectronics pada tahun 2019.
Para ilmuwan meyakini bahwa Cheetah bukanlah makhluk tercepat di dunia, tapi seekor semut yang dikenal dengan Dracula Ant (Mystrium camillae). Hewan ini dapat menggerakkan rahangnya di atas 90 meter perdetik (lebih dari 200 mph/mil perjam), 5.000 kali lebih cepat dari kedipan mata, sementara Cheetah memiliki kecepatan 104 kilometer perjam, oleh karena itu semut ini menjadi hewan tercepat di dunia.
Semut Drakula hidup di Afrika, Australia dan Asia Selatan, dan ketika semut menggerakan rahangnya, sebelum terbuka, maka akan tercipta sebuah kekuatan tekanan. Kekuatan tekanan yang diciptakan rahang semut itu sedemikian kuat sampai bisa melumpuhkan seekor kaki seribu.
Setelah mangsanya mati, semut-semut itu dapat menyeret mereka ke sarang untuk memberi makan anak-anaknya. Semut Drakula juga bisa melumpuhkan musuhnya dengan gigitan. Begitu kuatnya rahang semut dan rayap, seolah-olah memiliki pegas, karena itulah mereka bisa menciptakan gerakan tercepat di dunia.
Profesor biologi dan entomologi hewan di Universitas Illinois, Andrew Suarez, yang memimpin penelitian ini bersama Fredrick J. Larabee, seorang peneliti pascadoktoral di Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian, dan Adrian A. Smith, dari North Carolina Museum of Natural Sciences dan North Carolina State University, Raleigh, mengatakan bahwa Semut Drakula memiliki rahang yang tidak biasa. Rahang mereka bekerja layaknya sebuah jebakan tikus. Semut menggunakan gerakan ini untuk menyerang Artropoda lain.
Tahap pertama pengobatan kanker di sebagian besar kasus adalah operasi bedah untuk membersihkan jaringan yang terkena kanker. Akan tetapi di beberapa kasus, semua jaringan ini tidak hilang pasca operasi, dan sekarang teknologi nano mampu menyelesaikan masalah ini.
Jika beberapa lapisan tumor kanker masih tersisa di tubuh, ada kemungkinan kanker itu akan kembali. Teknologi nano mampu membersihkan total lapisan-lapisan tumor yang tersisa ini. Oleh karena itu, para peneliti menciptakan sebuah gel yang disemprotkan ke bagian yang terkena kanker saat operasi bedah dilakukan sehingga dapat mencegah timbulnya kembali kanker.
Para peneliti University College London, UCL yang menciptakan gel ini mengatakan, dengan menggunakan gel ini, kinerja sistem kekebalan tubuh dapat meningkat, dan kemungkinan kembalinya kanker dapat ditekan hingga ke level paling minimal.
Gel ini mengandung nanopartikel yang diproduksi dari kalsium karbonat, dan secara perlahan larut dalam jaringan manusia. Nanopartikel ini juga dipenuhi oleh antibodi yang menambahkan sejenis protein khusus bernama CD47 dan membantu sistem kekebalan tubuh untuk menyerang hanya jaringan yang terkena kanker, dan tidak mengganggu yang lainnya.
Saat ini gel tersebut sudah diujicobakan pada tikus, dan sukses. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan gel ini terhadap tikus dalam 50 kasus dapat mencegah tumbuhnya kembali tumor.[]
Tags