Iran Ambil Tindakan Hukum terhadap 46 Pejabat AS
Sekretaris Jenderal Komisi HAM Mahkamah Agung Iran Ali Bagheri Kani mengatakan, pemerintahan Barat dengan melanggar semua perjanjian internasional, telah menjatuhkan sanksi terhadap sektor obat-obatan dan makanan.
Bagheri Kani menyampaikan hal itu di sela-sela kunjungannya ke Iran EB Patients Association di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran, Rabu (30/9/2020).
Epidermolisis Bulosa (EB) adalah jenis penyakit keturunan yang membuat kulit menjadi rapuh dan mudah melepuh. Penderita EB dikenal sebagai "anak-anak kupu-kupu" karena kulit mereka serapuh sayap kupu-kupu sehingga pasien EB perlu perawatan khusus, bahkan gesekan ringan atau benjolan menyebabkan lepuh parah pada kulit yang sangat menyakitkan.
"Pemerintah Eropa dengan kedok membela HAM, tidak segan-segan untuk melakukan kejahatan apapun dengan menyanksi sektor obat-obatan termasuk obat untuk pasien EB," ungkap Bagheri Kani.
Menurutnya, dalam perang ekonomi, pemerintahan Eropa juga menargetkan anak-anak yang sakit dan tertindas.
"Bangsa-bangsa merdeka tidak akan pernah berhenti memperjuangkan cita-citanya,” tegasnya.
Bagheri Kani menuturkan bahwa beberapa negara atas nama HAM telah memulai bisnis, dan musuh harus dipermalukan dengan mendokumentasikan dan menyajikan kejahatan ini kepada dunia.
Komisi HAM Mahkamah Agung Iran berjanji bahwa pemerintah akan menuntut 46 pejabat AS yang berada di balik sanksi farmasi ini. Bagheri Kani juga mengecam terorisme kesehatan Washington dengan mengatakan bahwa mereka yang berada di balik sanksi ini lebih kejam daripada teroris Daesh (ISIS).
Sebelumnya, Direktur Iran EB Patients Association, Hamid Reza Hashemi Golayegani mengatakan jumlah pasien EB di Iran mencapai 750 orang.
"Akses terhadap perban khusus untuk pasien EB telah ditutup setelah AS secara sepihak keluar dari perjanjian nuklir. Infeksi akibat luka lepuhan telah menyebabkan 15 pasien meninggal dunia," ujarnya.
Sanksi maksimal yang diberlakukan kembali oleh Amerika Serikat terhadap ekonomi Republik Islam Iran ternyata juga telah menghambat pengiriman obat-obatan dan peralatan perawatan yang diperlukan untuk pasien EB.
AS menarik diri dari perjanjian nuklir JCPOA (Rencana Aksi Komprehensif Bersama) pada Mei 2018 dan menerapkan kembali berbagai sanksi ekonomi terhadap Iran.
Ketua LSM Iran yang membantu pasien EB, Hujjatul Islam Sayid Hamid Reza Hashemi Golayegani dalam konferensi pers pada 31 Oktober 2019 mengatakan, pasokan obat-obatan dan perban adalah kebutuhan utama pasien EB di Iran yang sulit didapat sejak penerapan kembali sanksi AS terhadap negara ini Iran pada Mei 2018.
"Sebagai contoh, perban ukuran A4 untuk pasien EB menghabiskan biaya hingga dua juta tomans ($ 166) untuk setiap pasien. Itu pun juga tidak bisa dibeli. Perban seperti itu dibuat oleh banyak negara tetapi yang terbaik dibuat di Swedia," imbuhnya.
Perusahaan-perusahaan Eropa menolak untuk melakukan bisnis dengan Iran karena takut atas sanksi Amerika. Mereka menghentikan perdagangan barang-barang kemanusiaan, seperti makanan, obat-obatan dan peralatan medis.
Sejak pemulihan sanksi AS terhadap Iran, perusahaan produk medis Swedia Molnlycke Health Care telah berhenti memasok perban Mepilex yang dipercaya di seluruh dunia untuk mengobati berbagai luka kronis dan akut, termasuk pada pasien EB.
Penderita EB dikenal sebagai "anak-anak kupu-kupu" karena kulit mereka serapuh sayap kupu-kupu sehingga pasien EB perlu perawatan khusus, bahkan gesekan ringan atau benjolan menyebabkan lepuh parah pada kulit yang sangat menyakitkan.
Mereka sering mengalami kesulitan dengan kegiatan sehari-hari seperti berjalan, makan dan bahkan bernapas, tetapi tanpa perban pelindung yang tepat, penderitaan mereka akan semakin bertambah dan memilukan. (RA)