Mimpi Raja Salman di Arab Saudi
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i23182-mimpi_raja_salman_di_arab_saudi
Raja Salman, salah satu dari putra Abdulaziz Al Saud mulai memimpin kerajaan di Arab Saudi setelah kematian Raja Abdullah pada Januari 2015. Tidak lama setelah naik takhta, Raja Salman melakukan serangkaian reformasi penting dalam struktur kekuasaan Dinasti Saudi. Di antara langkah penting itu adalah pengangkatan Muhammad bin Salman, putra sang raja sebagai wakil putra mahkota dan menteri pertahanan Arab Saudi.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 15, 2016 09:01 Asia/Jakarta

Raja Salman, salah satu dari putra Abdulaziz Al Saud mulai memimpin kerajaan di Arab Saudi setelah kematian Raja Abdullah pada Januari 2015. Tidak lama setelah naik takhta, Raja Salman melakukan serangkaian reformasi penting dalam struktur kekuasaan Dinasti Saudi. Di antara langkah penting itu adalah pengangkatan Muhammad bin Salman, putra sang raja sebagai wakil putra mahkota dan menteri pertahanan Arab Saudi.

Meskipun sebelum Raja Salman berkuasa, sejumlah anak keturunan Al Saud sudah menduduki sejumlah jabatan penting di kerajaan, namun Muhammad bin Salman adalah cucu pertama yang menjabat posisi penting wakil putra mahkota di tengah kehadiran anak-anak lain Abdulaziz. Dengan kata lain, jika Muhammad bin Nayef, Putra Mahkota Saudi yang sekarang meninggal dunia, maka Muhammad bin Salman otomatis akan menggantikan posisinya dan ia hanya tinggal selangkah lagi untuk duduk di takhta Kerajaan Saudi.

Padahal sebagian anak-anak Abdulaziz sampai sekarang masih hidup dan berdasarkan surat wasiatnya, kekuasaan di kerajaan harus diwariskan dari saudara ke saudara, artinya selama anak-anak Abdulaziz masih hidup, kekuasaan tidak boleh jatuh ke tangan cucu. Saat ini di antara para cucu Abdulaziz juga terdapat orang-orang yang lebih berpengalaman dan jauh lebih layak dibandingkan Muhammad bin Salman.

Muhammad bin Salman sudah melakukan gerilya yang lebih intens setelah hampir 20 bulan dari ayahnya bertakhta. Selain menyandang gelar wakil putra mahkota dan menteri pertahanan Arab Saudi, Muhammad bin Salman juga memimpin dewan ekonomi dan pelaksana Visi Arab Saudi 2030. Dia juga memainkan peran penting ketika Saudi meluncurkan perang terhadap Yaman dan ia termasuk salah satu pihak yang membuat keputusan tentang agresi itu.

Pada tahun 2016, Muhammad bin Salman mulai mengintensifkan kunjungan ke luar negeri sehingga ia lebih banyak mendapat sorotan media dan mengumpulkan pengalaman untuk melobi sekutu-sekutu Al Saud di Barat khususnya Amerika Serikat sehingga membuatnya semakin dekat dengan singgasana. Jelas bahwa salah satu jalur penting untuk mencapai gerbang Istana Kerajaan Saudi adalah menarik dukungan Gedung Putih.

Dia telah melakukan perjalanan ke sejumlah negara selama tiga bulan terakhir. Di antara perjalanan itu adalah; kunjungan Muhammad bin Salman ke Islamabad untuk bertemu perdana menteri Pakistan, ke Beijing untuk bertatap muka dengan perdana menteri Cina, ke Tokyo untuk berdialog dengan perdana menteri Jepang, perjalanan ke Cina sebagai ketua degelasi Saudi pada KTT G20, ke New York untuk bertemu Sekjen PBB Ban Ki-moon, pertemuannya dengan Presiden Barack Obama di Gedung Putih dan para pejabat Amerika lainnya, dan kunjungannya ke Qatar untuk bertemu Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani.

Selama KTT G20 di Cina, Muhammad bin Salman juga melakukan pembicaraan dengan para pejabat dari sebagian negara yang hadir di sana. Ia bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di sela-sela KTT G20. Dalam kunjungannya ke Cina, Muhammad bin Salman menandatangani 15 kesepakatan dan nota kesepahaman bilateral. Selama berada di Jepang, ia menandatangani tujuh nota kesepahaman di bidang pertahanan, ekonomi, budaya, dan informasi.

Para analis dan bahkan sejumlah pejabat negara lain percaya bahwa Muhammad bin Salman sudah membulatkan tekadnya untuk menduduki taktha kerajaan dengan melihat jadwal perjalanannya ke luar negeri. Sebagai contoh, seorang whistle-blower Arab Saudi, Mujtahid mengabarkan upaya Muhammad bin Salman untuk membubarkan dewan tinggi ulama kerajaan, dan mengatakan bahwa bin Salman bahkan bersikap melecehkan para anggota dewan itu.

Bruce Riedel, mantan perwira intelijen nasional AS dan pakar masalah Timur Tengah, mengatakan bahwa para pejabat Washington secara resmi mengundang Muhammad bin Salman untuk mengunjungi AS, karena ia dalam waktu dekat akan menjadi raja Saudi. Perjalanan ini dirancang untuk membuat dia menjadi sekutu nomor satu AS di Arab dan mendorong Muhammad bin Nayef keluar dari arena kompetisi. "Ini adalah kesempatan untuk memperkenalkan dia," kata Riedel.

Komentar itu menunjukkan bahwa Muhammad bin Salman melakukan konsultasi dengan Gedung Putih dan meminta restu untuk menjadi raja Saudi. Ia mengetahui bahwa selain prosedur baku di Kerajaan Saudi untuk menuju singgasana, ada jalan lain yang perlu ditempuh yaitu menarik dukungan AS.

Meskipun Muhammad bin Salman memiliki peluang besar untuk menggantikan posisi ayahnya di Riyadh, namun dapat dikatakan bahwa kecil kemungkinan ia akan menggengam kekuasaan dengan berbagai alasan. Ia benar-benar sedang memimpikan takhta Kerajaan Saudi, sementara menurut tradisi keluarga Al Saud, kekuasaan akan berpindah dari saudara ke saudara yang lain dan jika Muhammad bin Nayef, Putra Mahkota yang sekarang meninggal dunia, maka masih ada anak-anak Abdulaziz yang mengincar kekuasaan.

Sejauh ini enam orang putra Abdulaziz sudah memimpin kerajaan pasca kematiannya yaitu, Saud, Faisal, Khaled, Fahd, Abdullah, dan Salman, Raja Saudi saat ini. Jika kekuasaan anak-anak Abdulaziz berakhir karena faktor usia dan penyakit, maka tetap masih ada para cucunya yang lebih layak untuk mewarisi kerajaan dibanding Muhammad bin Salman.

Mereka adalah orang-orang yang menduduki sejumlah posisi penting pada masa kekuasaan Raja Abdullah dan kemudian disingkirkan setelah Salman berkuasa. Di antaranya adalah Mutaib bin Abdullah, putra Raja Abdullah dan Bandar bin Sultan, putra Sultan bin Abdulaziz, mereka tidak akan begitu mudah merelakan kekuasaan jatuh ke tangan Muhammad bin Salman dan bahkan ada potensi munculnya pertikaian internal di tengah keluarga kerajaan.

Dari segi usia, Muhammad bin Salman juga belum berumur 40 tahun dan usianya masih kurang dari 35 tahun. Sementara di tengah para cucu Abdulaziz, ada orang-orang yang bahkan memiliki usia jauh di atas menteri pertahanan Saudi yang sekarang dan juga punya pengalaman panjang menata urusan kerajaan. Sampai sekarang belum ada sejarah transisi kekuasaan dari ayah ke anak di Saudi, dan jika Raja Salman benar-benar menyerahkan tahkta kepada putranya, maka ini adalah yang pertama terjadi pasca kematian bin Abdulaziz. Ini akan menjadi bid’ah baru pelimpahan kekuasaan di Kerajaan Saudi.

Bid'ah ini akan bermakna berakhirnya era kekuasaan anak-anak Abdulaziz dan dimulainya masa kekuasaan anak-anak Salman. Dengan kata lain, kekuasaan Muhammad bin Salman menandakan dimulainya era baru di Arab Saudi setelah sekitar satu abad dari munculnya keluarga Saudi di wilayah itu. Oleh karena itu, jalur Muhammad bin Salman untuk menuju takhta akan semakin berliku dan berpotensi menimbulkan gejolak internal.

Isu lain adalah keberadaan dua kubu penting Al Shammari dan Al Sudairi dalam struktur kekuasaan Arab Saudi, di mana kedua pihak terlibat persaingan ketat untuk memperebutkan kekuasaan. Raja Fahd, mantan Raja Arab Saudi berasal dari Keluarga Al Sudairi, sementara Raja Abdullah berasal dari Keluarga Al Shammari, dan Raja Salman yang berkuasa saat ini juga berasal dari Keluarga Al Sudairi. Dari enam raja Arab Saudi yang berkuasa pasca kematian Abdulaziz, tiga di antaranya berasal dari Keluarga Al Sudairi yaitu Faisal, Fahd, dan Salman. Sekarang jika kekuasaan kembali jatuh ke tangan Keluarga Al Sudairi, maka para anggota Keluarga Al Shammari yang sudah dilucuti dari jabatan penting oleh Raja Salman, tidak akan mudah menerima bid'ah ini dan akan menolak kepemimpinan Muhammad bin Salman, yang masih terbilang kurang pengalaman dan masih muda. Perkara ini dapat mendorong perang kekuasaan baru di keluarga Al Saud.

Para analis percaya bahwa para pesaing Muhammad bin Salman akan mengangkat dampak regional dan internasional agresinya ke Yaman bagi Arab Saudi. Serangan ke Yaman dilakukan dengan perintah langsung Muhammad bin Salman dan ia memainkan peran utama dalam agresi ini. Akan tetapi, perang itu belum membawa hasil seperti yang diharapkan oleh ayah dan anak yaitu Raja Salman dan Muhammad.

Muhammad bin Salman beranggapan bahwa Yaman akan mudah ditaklukkan dan berakhir dengan kemenangan di pihak Saudi dan kemudian menjadikannya sebagai "pahlawan nasional." Akan tetapi, perang Yaman tampak semakin rumit dan Arab Saudi mulai terjebak di dalamnya.