Tujuh Tahun Krisis Suriah
Urgensi masalah krisis Suriah bisa dikaji dari tiga level; domestik, regional dan trans-regional. Di tingkat domestik, Suriah secara geografis berbatasan dengan Lebanon, Palestina pendudukan, Turki dan Irak. Dari aspek ini, Suriah merupakan negara yang strategis, terutama bagi Israel.
Pertama, siapa yang berkuasa di Suriah tentu saja akan menentukan pola hubungan negara ini dengan pihak-pihak tetangganya yang memiliki kepentingan masing-masing. Berbeda dengan kebijakan sebagian negara Arab semacam Yordania yang bersikap kompromis dengan Israel, arah politik Bashar Assad yang menolak menjalin hubungan secara terbuka maupun tertutup dengan rezim Zionis menjadi masalah besar bagi Tel Aviv, terutama dari aspek kepentingan keamanannya. Masalah ini menjadi salah satu faktor pemicu munculnya konflik di Suriah.
Kedua, struktur populasi penduduk Suriah yang sebagian besar adalah Sunni menyumbang faktor kemunculan krisis Suriah. Riak kecil ketidakpuasan segelintir kalangan oposisi Bashar Assad menjadi sumbu yang bertemu dengan bensin yang dipersiapkan oleh kekuatan adidaya global, terutama AS, dan negara-negara Arab bersama Turki menjadi penyulut krisis yang belum berhenti hingga kini. Padahal sebelumnya sesama penganut mazhab, bahkan agama di Suriah, hidup harmonis selama bertahun-tahun.
Kepentingan kelompok oposisi di Suriah bertemu dengan kepentingan pihak asing. Mencuatnya isu sektarian yang dimainkan Arab Saudi dan Turki bersama sejumlah negara Arab lainnya di Suriah menjalankan politik identitas yang diplot Barat demi kepentingannya masing-masing. Tidak heran, jika isu yang diusung untuk merekrut milisi teroris yang diterjunkan di Suriah adalah menggunakan narasi sektarian berbentuk konflik mazhab.
Di level regional, Suriah sangat penting ditinjau dari perimbangan kekuatan kawasan. Timur Tengah secara politik dibagi menjadi dua arus besar antara blok gerakan kompromis dan penentang yang menguat pasca meletusnya gerakan protes rakyat di negara-negara Arab pada tahun 2011, dan jatuhnya dua diktator dalam waktu hanya dua bulan.
Gelombang protes bangsa-bangsa Arab ini menyebar di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang mengindikasikan terjadinya perimbangan kekuatan baru mengarah semakin menguatnya gerakan muqawama di kawasan.
Menghadapi fenomena ini, barisan blok kompromis yang dipimpin Arab Saudi dengan dukungan AS, Inggris dan Perancis, dengan berbagai cara berupaya menghalangi terwujudnya perimbangan kekuatan baru. Salah satunya dengan mengarahkan gelombang protes rakyat bangsa-bangsa Arab ini menuju pihak yang selama ini dipandang berseberangan dengan kepentingannya.
Pertemuan kepentingan Saudi dan negara-negara Arab yang merasa terancam dengan imbas gelombang protes rakyat kawasan; kepentingan ekonomi Turki; juga skenario Timur Tengah baru AS dan negara-negara Barat; dan kepentingan rezim Zionis membuahkan sebuah koalisi bersama mereka untuk menumbangkan Bashar Assad dan mengantinya dengan pemerintahan boneka yang selaras dengan kepentingan mereka.
Tapi hingga kini, target mereka membentur dinding, karena Assad didukung barisan muqawama yang melibatkan gerakan perlawanan Hizbullah dan Iran. Republik Islam Iran mendukung pemerintahan sah Suriah yang didukung mayoritas rakyat negara Arab itu.
Ada perbedaan signifikan antara pemicu konflik di Suriah dengan beberapa negara Arab lainnya yang dilanda gelombang protes rakyat. Di Tunisia, faktor domestik sangat kental, meskipun faktor asing juga tidak bisa dikesampingkan. Tapi sebaliknya terjadi di Suriah, faktor asing lebih dominan dari pada faktor domestik. Faktanya, kelompok oposisi bersenjata yang terjun di Suriah untuk memerangi Assad dan pemerintahannya, sebagian besar adalah milisi teroris asing yang datang dari berbagai negara dunia, dan hanya sedikit yang murni dari Suriah sendiri.
Suriah juga sangat penting ditinjau dari level trans-regional, sebab melibatkan persaingan pengaruh antara Rusia dan AS. Rusia mendukung pemerintahan Assad yang bertempur memerangi teroris. Moskow memainkan peran signifikan dalam penumpasan teroris dan pembebasan Aleppo. Di sisi lain, dukungan dua kekuatan besar, AS dan Rusia terhadap kubu yang bersengketa di Suriah menjadikan konflik di negara Arab itu terus berlanjut hingga memasuki tahun ketujuh.
Dari ketiga level ini, terbukti krisis Suriah berbeda dengan krisis-krisis lain yang menimpa negara-negara Arab yang dilanda protes rakyatnya. Gejolak internal Suriah berkobar menjadi konflik besar karena kedatangan para teroris yang didukung negara-negara Arab, Barat dan Turki. Dengan demikian, faktor eksternal lebih dominan mewarnai konflik Suriah.
Lalu timbul pertanyaan, mengapa Assad masih tetap didukung oleh kubu muqawama untuk berkuasa di Suriah hingga kini. Alasan utamanya, selama teroris masih bercokol di Suriah, maka kehadiran Assad penting untuk mengisi kekosongan kekuasaan. Pasalnya, kelompok oposisi yang nyatanya sebagian besar adalah milisi teroris asing dari berbagai negara dunia sedang mengincar kevakuman kekuasaan di Suriah.
Pertanyaan lain yang mengemuka adalah mengapa negara-negara asing seperti Arab Saudi, Turki, AS dan negara-negara Barat lainnya terlibat dalam konflik di Suriah. Faktanya, negara-negara ini menjadi pemain yang menyulut konflik semakin berkobar di Suriah.
Teoritikus keamanan regional, Barry Buzan berkayakinan bahwa keamanan di Timur Tengah adalah sebuah teka-teki. Menurutnya, persahabatan satu aktor dengan aktor lain di Timur Tengah pasti akan mengarah pada permusuhan dengan aktor ketiga. Konflik Suriah adalah arena kompetisi, tumpang tindih kepentingan, dan gesekan antarkekuatan regional. Turki mendekat dengan Arab Saudi dan menjauhi Iran, karena merasa memiliki kepentingan bersama di Suriah meski bersifat sementara.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran pakar hubungan internasional, Stephen Walt yang memandang terbentuknya koalisi internasional bukan disebabkan oleh perimbangan kekuatan, tapi oleh perimbangan ancaman. Menurut Walt, negara-negara dunia membentuk koalisi dengan sesamanya sebagai reaksi terhadap ancaman terhadap mereka. Dasar pijakannya, kekuatan sebuah negara akan menjadi ancaman bagi negara lain.
Tingkat pengaruh keamanan setiap bentuk pemerintahan di Suriah akan mempengaruhi reaksi dari aktor-aktor regional yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kekuatan-kekuatan regional berupaya memainkan peran langsung dalam perundingan mengenai masa depan dan formasi sistem politik di Suriah.
Kemungkinan terbentuknya pemerintahan otonomi Kurdistan Suriah akan mempengaruhi seluruh kawasan dari Turki, Yaman hingga Libya. Reaksi terhadap masalah ini memunculkan solidaritas dan koalisi baru, dan pada saat yang sama akan melahirkan musuh-musuh baru pula.
Arab Saudi yang mengamini skenario “Timur Tengah Baru” versi Wahington meyakini pemerintahan Assad tidak sejalan dengan kepentingannya di kawasan, karena bertentangan dengan politik regional Riyadh yang mengukuhkan dirinya sebagai pemain kunci di kawasan. Kepentingan yang sama juga dikukuhkan Turki yang merapat dengan rezim Al Saud.
Sejatinya, yang harus dipertimbangkan oleh kekuatan-kekuatan regional adalah ketika tidak tercapai kesepakatan di antara mereka mengenai masalah Suriah, maka krisis Suriah yang dihasilkan dari “penjumlahan kosong-kosong” sebagian kekuatan regional, terutama Arab Saudi dan Turki akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri. Pada saat yang sama korban di Suriah terus berjatuhan ketika konflik terus berlanjut.
Sejatinya, tidak ada pemain regional yang diuntungkan dari konflik ini, bahkan aktor-aktor di kawasan sendiri, kecuali AS dan negara-negara barat yang mengail di air keruh dalam konflik Suriah dengan mengeruk keuntungan kepentingan ekonomi politik dan geopolitiknya.(PH)