Kilas Balik Krisis Suriah pada 2017
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i49935-kilas_balik_krisis_suriah_pada_2017
Transformasi di Suriah pada tahun 2017 banyak dipengaruhi oleh tergerusnya kelompok teroris Takfiri Daesh pasca pembebasan kota Bukamal sebagai pangkalan terakhir Daesh di negara ini dan juga dimulainya hitungan mundur untuk kekalahan total kelompok teroris ini. Keberhasilan Suriah ini menimbulkan tsunami politik dan dampaknya pasca kekalahan Daesh di Suriah.
(last modified 2026-02-23T09:56:34+00:00 )
Jan 16, 2018 18:37 Asia/Jakarta

Transformasi di Suriah pada tahun 2017 banyak dipengaruhi oleh tergerusnya kelompok teroris Takfiri Daesh pasca pembebasan kota Bukamal sebagai pangkalan terakhir Daesh di negara ini dan juga dimulainya hitungan mundur untuk kekalahan total kelompok teroris ini. Keberhasilan Suriah ini menimbulkan tsunami politik dan dampaknya pasca kekalahan Daesh di Suriah.

Termasuk di antara dampak tersebut, keretakan pada barisan oposisi pemerintah Suriah khususnya oposisi yang berada di bawah pengaruh Arab Saudi. Krisis di Suriah telah dimulai sejak 2011 dengan invasi besar-besaran terhadap kelompok teroris yang didukung Saudi, Amerika Serikat dan sekutunya untuk mengubah perimbangan regional demi mengamankan rezim Zionis. Namun berkat bantuan poros muqawama [resistensi] dalam beberapa bulan terakhir, pasukan Suriah berhasil mendaratkan pukulan telah kepada para teroris.

Tidak diragukan lagi, perlawanan heroik rakyat di kawasan, khususnya rakyat Irak dan Suriah, telah membuat wilayah tersebut menyaksikan perubahan serius. Kemenangan determinan Suriah dan Irak di hadapan teroris, khususnya Daesh, telah mempercepat transformasi di Timur Tengah menuju pembentukan Timur Tengah yang berporos pada Muqawama, sesuai dengan kehendak rakyat di kawasan serta memotong tangan kekuatan-kekuatan imperialis.

Fakta-fakta ini, tidak menunjukkan apapun kecuali terlewatkannya krisis terorisme dan makar tatanan baru di kawasan ini, melalui pulihnya stabilitas dan pengpusan para pemain transregional termasuk Amerika Serikat.

Singkatnya, kemenangan berharga militer Suriah dan pasukan relawan rakyat di Suriah telah menciptakan prospek yang jelas dalam menangani terorisme dan persiapan negara ini untuk melangkah pada periode pasca Daesh dan rekonstruksi. Sejalan dengan hal ini, Suriah telah menyelenggarakan pameran internasional tahun lalu untuk fokus pada reskonstruksi. Pelaksanaan pameran tersebut menunjukkan kemampuan Suriah dalam menjaga keamanan wilayahnya.

Dalam hal ini, penasihat politik dan media Presiden Suriah, Bethina Shaaban, mengatakan, "Pesan Pameran Internasional Damaskus dan sambutan baik dari dalam maupun luar negeri, adalah berakhirnya perang, kekalahan terorisme dan awal jalan untuk rekonstruksi Suriah. Damascus International Fair adalah tonggak sejarah dalam menunjukkan tekad rakyat Suriah mengambil langkah besar dalam pembangunan ekonomi dan politik."

Kemenangan pasukan Suriah

Pameran Damascus International Fair kelima digelar selama 10 hari. Pameran ini diselenggarakan dengan partisipasi perusahaan sektor publik dan swasta dari 43 negara, termasuk Republik Islam Iran. Keberhasilan penyelenggaraan Damascus International Fair mewakili kesuksesan Suriah di arena internasional dan ekonomi seiring dengan meningkatnya keberhasilan di medan pertempuran melawan para teroris.

Pameran internasional Damaskus merupakan bukti jelas bahwa rakyat Suriah memiliki visi soal rekonstruksi sebagai salah satu fokus utama pasca perang. Namun, kehadiran berbagai perusahaan internasional pada pameran Damaskus ini mencerminkan gagalnya langkah AS untuk mengisolasi Suriah melalui sanksi. Transformasi menunjukkan transisi Suriah dari krisis kronis hingga berakhirnya krisis dan pembangunan, yaitu tentang manajemen sistem yang berlaku di Suriah dan penerapan keputusan yang proporsional sesuai waktu dan tempat.

Transformasi di Suriah menjelaskan bahwa inisiatif di bidang operasional, politik dan ekonomi berada di bawah pemerintahan berdaulat di negara ini. Manajemen dan program kerja pihak berwenang Suriah dan orang-orang juga mengindikasikan bahwa mereka benar-benar akan mempercepat proses pemulihan pasca krisis dan pemulihan ekonomi dan mempercepat proses reformasi di negara tersebut, menyusul terbendungnya gerakan para teroris dan perusuh.

Poin lain yang perlu dipertimbangkan dalam krisis Suriah adalah peran perundingan politik yang digelar guna membantu menyelesaikan krisis negara tersebut. Putaran baru perundingan Astana telah digelar tahun lalu, dengan visi yang semakin terfokus pada proses konstruktif, dan para analis juga menilai positif perkembangan tersebut. Dalam kondisi ini, elit politik telah menilai perundingan Astana sebagai transformasi sangat penting bagi perdamaian dan solusi politik untuk Suriah.

Para peserta pada perundingan Astana sedang membahas pembentukan Komite Rekonsiliasi Nasional untuk menyelesaikan krisis Suriah. Pada prosesnya, Rusia, Turki dan Iran menandatangani sebuah dokumen soal zona-zona de-eskalasi konflik di Suriah serta ketentuannya, yang merupakan titik balik dalam upaya untuk memecahkan krisis Suriah.

Perundingan Astana

Pada perundingan Astana dibahas rencana reduksi ketegangan telah diusulkan sebagai rencana komprehensif tanpa pertimbangan politis guna. Kunci dialog Astana harus dilihat pada kriteria dan seluruh elemennya. Menariknya perundingan Astana adalah pertemuan pertama yang diselenggarakan dengan inisiatif regional tanpa partisipasi pihak Eropa atau peran langsung AS.

Perundingan Astana digelar bertujuan memperkokoh gencatan senjata yang telah diberlakukan di Suriah dan mempersiapkan ruang dialog serius guna perdamaian permanen antara pemerintah dan kelompok oposisi sebagai dasar solusi politik krisis Suriah.

Ini membuat dialog Astana menjadi langkah efektif menyelesaikan krisis politik di Suriah. Trasnformasi politik Suriah semakin meningkat setelah kekalahan Daesh dan kelompok-kelompok teroris Takfiri lainnya di negara ini. Digelarnya banyak konferensi internasional dan regional terkait Suriah merefleksikan perkembangan tersebut. Banyak insan pers yang skeptis soal keberhasilan babak baru perundingan tersebut, menyusul langkah dari sejumlah peserta dalam perundingan Jenewa, yang merupakan sponsor teroris di kawasan.

Para pendukung teroris berusaha mengubah perundingan Jenewa menjadi panggung di mana mereka dapat mencapai tujuan mereka di Suriah, yang gagal mereka raih melalui dukungan terhadap para teroris. Mereka secara berkesinambungan berusaha menciptakan kondisi melalui intrik politik guna mencapai tujuan mereka melalui kanal politik. Dalam kondisi seperti itu, mereka berusaha menciptakan ruang gerak baru bagi aktivitas teroris di Suriah dengan mengupayakan peran mereka di arena politik negara tersebut.

Ini menunjukkan bahwa dimensi pergerakan para pendukung teroris telah meluas untuk membenturkan Suriah pada gelombang friksi baru pada era pasca Daesh. Hal ini dapat dirunut pada upaya mereka dalam konferensi Jenewa. Konferensi Jenewa berlanjut sementara Iran, Rusia dan Turki, dalam kerangka Grup Astana, mampu mengambil langkah signifikan menuju solusi politik dan penyelenggaraan Kongres Nasional Suriah.

Namun pemerintah Barat sebagai pendukung lawan pemerintah Suriah dalam situasi saat ini sedang mencari pintu keluar untuk melarikan diri dan mengetas antek-antek mereka, yaitu para teroris dari medan perang ke arena politik. Upaya tersebut membuat perundingan Jenewa menjadi sebuah pertemuan tidak berarti.

Sementara itu, putaran kedelapan perundingan Astana, telah lama berlangsung positif. Proses dialog Astana bergulir atas inisiatif Republik Islam Iran, Rusia dan Turki, dan proses ini berada di luar kendali langsung Amerika Serikat.

Perundingan damai Suriah di Astana sedang menempuh jalurnya yan gbenar dan dengan mengandalkan pada tekad rakyat akan terus berjalan sukses. Prospek perundingan Astana juga positif dan diterima oleh pemerintah Suriah serta bahwa proses politik untuk menyelesaikan krisis Suriah sedang dilakukan bersamaan dengan pertempuran serius melawan terorisme.

Tandingan perundingan  Astana adalah perundingan Jenewa, yang dipimpin oleh Staffan De Mistura, perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Suriah. Perundingan Jenewa, seperti dialog Astana, telah melalui delapan putaran, namun tidak pernah berhasil mencapai kejelasan. Dengan kata lain, perundingan Jenewa telah berubah menjadi panggun permainan politik PBB dan para pendukung oposisi Suriah di luar negeri. Dalam hal ini, Menteri Luar Negeri Suriah Faisal al-Miqdad, terkait putaran kedelapan perundingan Jenewa mengatakan, "Arab Saudi telah membentuk sebuah aliansi untuk oposisi, dan Staffan De Mistura juga memainkan peran sebagai saksi palsu."