Tujuan Kunjungan MBS ke AS (2-habis)
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i55190-tujuan_kunjungan_mbs_ke_as_(2_habis)
Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS) selama turnya ke Washington, berusaha membujuk para pejabat AS untuk membatalkan Undang-undang Keadilan Melawan Sponsor Terorisme (JASTA), tetapi aksi ini gagal. UU JASTA disahkan oleh Kongres pada September 2016 sehingga memungkinkan pengadilan AS untuk mencabut imunitas hukum terhadap pemerintah asing atau pemerintah yang diguga terlibat dalam serangan terorisme di wilayah Amerika.
(last modified 2026-04-24T16:42:03+00:00 )
Apr 17, 2018 01:41 Asia/Jakarta

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS) selama turnya ke Washington, berusaha membujuk para pejabat AS untuk membatalkan Undang-undang Keadilan Melawan Sponsor Terorisme (JASTA), tetapi aksi ini gagal. UU JASTA disahkan oleh Kongres pada September 2016 sehingga memungkinkan pengadilan AS untuk mencabut imunitas hukum terhadap pemerintah asing atau pemerintah yang diguga terlibat dalam serangan terorisme di wilayah Amerika.

Meskipun JASTA tidak menyinggung serangan 11 September atau pemerintah Arab Saudi, namun tujuan utama para penyusun undang-undang ini adalah untuk membuka ruang bagi penuntutan hukum terhadap para pejabat Saudi, yang terlibat dalam serangan itu. Surat kabar al-Mesryoon dalam sebuah analisa menyebut UU itu sebagai tusukan belati dari belakang bagi Arab Saudi.

Seorang hakim Amerika bahkan menolak upaya Arab Saudi untuk menghindari tuntutan hukum yang diajukan oleh keluarga korban 11 September di bawah UU JASTA. Hakim Distrik Manhattan AS, George Daniels dalam sebuah putusan menegaskan bahwa tuntutan hukum terhadap Saudi harus diteruskan untuk memperoleh ganti rugi miliaran dolar bagi keluarga korban.

Dengan demikian, MBS gagal mencapai salah satu tujuan utamanya selama perjalanannya ke Washington. Di sini muncul pertanyaan, apakah AS juga meloloskan undang-undang serupa untuk rezim Zionis? Arab Saudi khususnya di era kekuasaan Raja Salman dan putranya, menyumbangkan ratusan miliar dolar untuk AS, tetapi sejauh ini, terlepas dari keselarasan Washington dengan Riyadh, tidak ada pencapaian lain yang dinikmati Riyadh dari sikap royalnya kepada Trump.

Mohammed bin Salman dan Donald Trump

Tidak dapat disangkal bahwa Arab Saudi adalah sebuah negara penting di Dunia Islam dan Timur Tengah. Donald Trump – yang dikenal tidak sopan dan kasar bahkan terhadap anggota kabinetnya – juga memperlakukan Mohammed bin Salman dengan rendah, dan perilaku berbau hinaan ini bahkan diumbar di depan media.

Direktur Brookings's Intelligence Project, Bruce Riedel menulis, "Ketika menerima kunjungan pangeran Arab Saudi pada 10 Maret, Trump menunjukkan poster tentang rencana penjualan senjata AS ke Saudi. Dia berbicara tentang betapa kayanya negara Arab Saudi dan mengeluhkan minimnya pembelian senjata Amerika oleh mereka. Pangeran tampaknya tidak nyaman dengan ini dan Trump kemudian berkata ini seperti membeli kacang bagi Anda, sambil mengangkat poster yang menunjukkan transaksi yang diinginkan oleh Washington."

Situs televisi CNN menulis, "Dalam pertemuan Trump dengan MBS, ketika Trump mengangkat poster kedua di hadapan MBS dan berbicara tentang nilai kontrak, MBS jelas terlihat tidak senang. Tujuan MBS melakukan tur ke Washington untuk melakukan manuver pada isu-isu seperti, perannya dalam mereformasi Arab Saudi dan mengubah negaranya menjadi sekutu yang lebih baik bagi Amerika."

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Jawad Zarif dalam sebuah tweet juga, menyinggung penghinaan putra mahkota Arab Saudi oleh presiden AS. Dia menulis, "Beberapa orang bersemangat untuk memerah, dan yang lain bahkan lebih senang karena diperah."

Arab Saudi di mata Donald Trump dalam satu tahun terakhir tidak pernah layak menjadi sekutu, dan dia hanya mengejar kekayaan pemerintah Saudi. Dalam hal ini, surat kabar Yedioth Ahronoth Israel mengatakan kepentingan ekonomi Washington berada dalam hubungan dengan Riyadh dan negara Arab ini telah menjadi konsumen utama senjata buatan AS, di mana mereka menghabiskan miliaran dolar untuk membeli perlengkapan militer dari Washington.

Bahkan dalam konferensi pers bersama dengan presiden Estonia, Latvia dan Lithuania, Trump mengatakan, "Saudi harus membayar biaya untuk mempertahankan kehadiran AS di Suriah." Hal ini sebagai tanggapan atas permintaan putra mahkota Saudi agar AS tidak keluar dari Suriah.

Seorang pengamat, Davoud Hermidas-Bavand juga menganalisis kunjungan putra mahkota ke Washington dengan mengatakan, Amerika terus memanfaatkan Saudi sebagai instrumen. Menurutnya, kebutuhan Saudi kepada AS tidak terbatas pada masalah dukungan internasional, tetapi beberapa kasus seperti Yaman, Suriah, Irak, Iran, dan bahkan Lebanon, adalah persoalan yang telah menciptakan banyak tantangan bagi putra mahkota dan struktur politik Al Saud, yang akhirnya mendorong mereka untuk merapat ke Amerika.

Mohammed bin Salman dan Donald Trump

"Kontrak senjata miliaran dolar antara Arab Saudi dengan AS lebih dikarenakan kebutuhan Riyadh kepada Washington, dan Saudi dengan kontrak miliaran dolar ini berusaha mempertahankan Timur Tengah sebagai poros kebijakan Amerika," ujar Hermidas-Bavand.

Mohammed bin Salman dengan ambisinya, telah mendiskreditkan Arab Saudi dengan mengobarkan perang di kawasan dan memperbesar ketergantungan negaranya kepada Amerika. Di Washington, MBS secara resmi mengakui keberadaan rezim Zionis Israel. Jadi, salah satu tujuan utama Israel telah terpenuhi selama tur MBS ke Negeri Paman Sam, dan rezim Zionis telah diakui oleh Arab Saudi, salah satu negara Muslim yang paling penting.

MBS mengakui bahwa Riyadh memiliki banyak kesamaan kepentingan dengan Tel Aviv dan jika kompromi tercipta, ini akan memberikan banyak keuntungan bagi Israel sendiri dan negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC), juga negara Arab lain seperti Mesir dan Yordania.

Seorang diplomat Israel di Inggris, Eilat Ratzon mengatakan, "Statemen putra mahkota Arab Saudi menunjukkan bahwa negara itu mendukung kebijakan Israel di Timur Tengah." Koran Yedioth Ahronot dalam menanggapi komentar MBS menulis, "Sebelum ini, mustahil untuk membangun hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Israel dalam konteks 'Aksi Arab untuk Perdamaian,' tetapi hari ini kondisi telah berubah dengan tampilnya MBS."

Pernyataan Mohammed bin Salman mendapat reaksi keras di Dunia Arab. Para pengguna medsos Arab menyebut pengakuan Israel oleh MBS sebagai harga yang harus dibayar olehnya untuk menjadi penguasa masa depan Arab Saudi dan ini adalah sebuah kehinaan. Menurut mereka, MBS telah melakukan semua hal yang diperlukan bagi lenyapnya kerajaan Al Saud.

Beberapa analis menganggap keputusan putra mahkota Saudi mengakui Israel sebagai salah satu syarat Donald Trump untuk menyetujui kepemimpinan MBS di Arab Saudi. Analis senior Mesir, Wael Kandil mengatakan dalam sebuah kritik terhadap keputusan ini bahwa putra mahkota Saudi berbicara "Arab" dan "berpikir Ibrani." Seorang penulis Palestina di Jalur Gaza, Yasser al-Zaatreh menuturkan, "Zionis tidak berhak atas bagian Palestina manapun. Mereka adalah penjajah yang datang dari belahan lain dunia untuk menduduki negara lain dan mengusir penduduknya. Berbicara seperti itu tentang "hak" benar-benar omong kosong."

Mohammed bin Salman dan Donald Trump

Juru bicara Jihad Islam Palestina, Daoud Shahab menilai statemen Mohammed bin Salman yang mengakui eksistensi rezim Zionis, sebagai sikap ahistoris. Dia menegaskan, tidak diragukan lagi, tujuan Arab Saudi mendukung rezim Zionis yang harus binasa ini, demi memuaskan AS.

Keputusan putra mahkota Saudi mengakui Israel untuk memperoleh dukungan Gedung Putih bagi takhta kerajaan. Padahal, sampai paruh pertama abad ke-21, membela cita-cita Palestina masih menjadi salah satu sumber legitimasi bagi penguasa Arab, termasuk penguasa Saudi, Dengan langkah ini, MBS memperlihatkan bahwa Saudi sedang kehilangan posisi regionalnya. Peristiwa yang terjadi selama kunjungan MBS ke AS menunjukkan bahwa ia bersedia menerima "penghinaan" bagi Arab Saudi demi takhta kerajaan.

Saat ini, MBS sedang melakukan kunjungan resmi ke Paris untuk bertemu rekan-rekannya di negara itu. Dengan demikian, ia telah melakukan tur ke tiga negara Inggris, AS, dan Perancis dalam periode satu bulan. Putra Mahkota pergi ke London sebelum terbang ke Washington. Diperkirakan bahwa MBS juga akan memborong senjata buatan Perancis demi memperoleh dukungan Istana Elysee bagi penobatannya sebagai raja Arab Saudi.