Putera Mahkota Modern, Diktator Tradisional (1)
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i63394-putera_mahkota_modern_diktator_tradisional_(1)
Pembunuhan seorang jurnalis kritis, Jamal Khashoggi di konsulat Arab Saudi di Istanbul menjadi berita utama media regional dan internasional. Masalah ini semakin menguak wajah sebenarnya dari rezim Al Saud, terutama setelah naiknya Mohammed bin Salman sebagai putera mahkota Arab Saudi.
(last modified 2025-11-30T07:49:40+00:00 )
Okt 24, 2018 16:13 Asia/Jakarta
  • putera mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman
    putera mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman

Pembunuhan seorang jurnalis kritis, Jamal Khashoggi di konsulat Arab Saudi di Istanbul menjadi berita utama media regional dan internasional. Masalah ini semakin menguak wajah sebenarnya dari rezim Al Saud, terutama setelah naiknya Mohammed bin Salman sebagai putera mahkota Arab Saudi.

Salman bin Abdul Aziz dinobatkan sebagai raja Arab Saudi pada Januari 2015 menggantikan Abdullah yang meninggal dunia. Dua tahun kemudian, Mohammed bin Salman menempati posisi Putera Mahkota Arab Saudi yang mengubah tradisi politik yang berlaku di negara Arab itu.

Raja Salman bin Abdul Aziz dan puteranya, Mohammed bin Salman

Selama menjabat sebagai putera mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman melakukan berbagai berbagai terobosan besar, sekaligus masalah besar bagi Arab Saudi dan dunia. Dalam waktu hanya 45 bulan, begitu banyak masalah internasional lahir gara-gara sepak terjang tanpa perhitungan matang Mohammed bin Salman. Akibatnya banyak kalangan di dalam negeri Arab Saudi sendiri yang menghendaki putera Salman bin Abdul Aziz ini dihilangkan dari struktur kekuasaan rezim Al Saud.

James Rotenberg dalam analisisnya yang dimuat di koran New York Times mengangkat sosok sebenarnya dari Putera Mahkota Arab Saudi. Ia menyinggung apresiasi media barat terhadap langkah Mohammed bin Salman yang dianggap melakukan modernisasi dan menempatkannya sebagai figur pemimpin muda Arab yang modern. Tapi kasus terbunuhnya Khashoggi telah merusak citra tersebut.

Penulis terkemuka AS, Nicholas Kristof mmengatakan, "Mohammed bin Salman adalah putera mahkota yang gila. Sebab ia membunuh seorang jurnalis, menyandera seorang perdana menteri, menyebabkan jutaan anak kelaparan. Oleh karena karena itu ia tidak layak untuk disambut dalam sebuah acara, bahkan tempatnya yang layak hanya dipenjara,".

Mesin perang yang disulut Arab Saudi di Yaman sejak Maret 2015 terjadi atas instruksi langsung Mohammed bin Salman. Hingga kini belum ada indikasi akan usai.  Berlanjutnya perang berdarah ini menimbulkan penderitaan berkepanjangan bagi orang-orang Yaman, terutama perempuan dan anak-anak.

Itulah sebabnya para pemimpin dunia seperti Sekjen PBB, Antonio Guterres menilai kondisi yang terjadi di Yaman sebagai tragedi kemanusiaan terbesar saat ini di dunia.

korban kejahatan Arab Saudi di Yaman

Tahun lalu, UNICEF dalam sebuah laporan menyatakan, sekitar 3,3 juta orang, termasuk 2,2 juta anak-anak di seluruh Yaman menderita gizi buruk akut.

Mereka termasuk hampir setengah juta anak di bawah usia lima tahun dengan malnutrisi akut. Fenomena ini sebagai akibat dari perang dan krisis ekonomi, yang telah mempengaruhi bidang kesehatan di Yaman selama satu dekade lalu.

Menurut UNICEF, infrastruktur kesehatan yang porak-poranda akibat agresi, menyebabkan anak-anak Yaman menderita gizi buruk dan meninggal dunia. Sekitar tujuh persen dari anak-anak meninggal sebelum usia lima tahun akibat dari kehancuran infrastruktur kesehatan publik Yaman.

Sebelum ini, Kementerian Kesehatan Yaman menyuarakan kekhawatiran atas merebaknya berbagai penyakit menular di kota-kota seluruh Yaman. Wakil Menteri Kesehatan Yaman, Abdul Salam al-Madani mengumumkan bahwa 415 fasilitas kesehatan dan sanitasi di Yaman telah hancur akibat serangan jet tempur Arab Saudi, dan 70 persen kapasitas sektor kesehatan tidak dapat digunakan.

anak Yaman kekurangan gizi dan sakit

Ketua Komite Komite Palang Merah Internasional (ICRC), Alexander Fit, mengatakan, sekitar 2.000 warga Yaman meninggal dalam enam bulan terakhir karena diare akut dan kekurangan air minum.

UNICEF dalam laporan yang berjudul "Jika Tidak Berada di Sekolah" menyebutkan 1,8 juta anak Yaman, dan 1,1 juta perempuan termasuk perempuan yang hamil menderita gizi buruk. Jumlah tersebut naik 128 persen dibandingkan akhir tahun 2104.

Sekitar enam bulan dari agresi koalisi Arab yang dipimpin rezim Al Saud terhadap Yaman, terjadi peristiwa berdarah lainnya di Arab Saudi ketika umat Islam sedang menunaikan ibadah haji. Pada 24 September 2015 terjadi tragedi berdarah di Mina yang menenwaskan 3.000 orang, yang kebanyakan adalah peziarah Iran.

Koran Lebanon, Al-Diyar  melaporkan, penyebab terjadinya tragedi Mina yang sesungguhnya karena konvoi rombongan putera raja Salman, sekaligus wakil Putera Mahkota, Muhammad bin Salman bin Abdul Aziz penyebab kepanikan luar biasa jutaan jama’ah haji, dan membuat mereka berdesak-desakan.

Rombongan tersebut, yang dikawal 200 tentara dan 150 polisi,memerintahkan jemaah haji untuk pindah arah karena kehadiran sang putera raja. Konvoi putera mahkota menerobos masuk di antara para peziarah yang sedang bergerak maju untuk ritual melempar jumrah. Rombongan kembali meninggalkan lokasi dengan mengambil arah berlawanan dengan arus jamaah haji.

Tragedi Mina

Rombongan Muhammed menyebabkan jemaah haji semakin berdesakan dan kepanikan luar biasa diantara para jama’ah haji manakala sebagian jamaah harus putar balik ke titik awal hingga bergerak ke arah yang berlawanan sehingga menyebabkan jamaah desak-desakan. Inilah awal kejadian mematikan di Mina, Mekah.

Kejahatan Mohammed bin Salman tidak berhenti sampai di sana. Bin Salman yang saat itu berkedudukan sebagai wakil putera mahkota mengawasi langsung pelaksanaan eksekusi mati Sheikh Nimr. Bahkan ia juga ikut menyiksa ulama Arab Saudi itu.

Sheikh Nimr ditangkap oleh aparat keamanan rezim Al Saud pada Juli 2012 menyusul protes luas penduduk Qatif, di timur Arab Saudi pada Februari 2011. Pengadilan Pidana Arab Saudi menjatuhkan vonis hukuman mati terhadap Sheikh Nimr pada 15 Oktober 2015 atas tuduhan palsu mengancam keamanan nasional.

Sheikh Nimr Baqir Al-Nimr

Pangeran berusia relatif menjadi orang yang paling berpengaruh terhadap pemutusan hubungan diplomatic Arab Saudi dan Qatar. Meskipun friksi antara Arab Saudi dan Qatar telah berlangsung sejak 5 Juni, atau dua pekan sebelum Muhammad bin Salman menjabat sebagai putera mahkota. Tapi setelah menjabat sebagai orang nomor dua di Arab Saudi, friksi Riyadh dengan Doha semakin tinggi.

Muhammad bin Salman memandang negara Arab kecil seperti Qatar, dari atas ke bawah yang bisa didikte oleh Riyadh. Arab Saudi yang diikuti tiga negara Arab, Bahrain, Uni Emirat Arab dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar dan melancarkan boikot terhadap Doha dengan dalih mendukung terorisme dan menjalin hubungan dengan Iran. Tapi perlawanan yang dilakukan Qatar di mata analis politik sebagai kekalahan bagi Riyadh.

Qatar vs Arab Saudi

Salah satu dampak dari dari friksi antara Arab Saudi dan Qatar adalah melemahnya Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC). Sebab pertemuan puncak organisasi ini yang berlangsung Desember 2017 tidak dihadiri oleh raja Arab Saudi, Emir Uni Emirat Arab dan Bahrain, dan hanya berlangsung 15 menit saja. Para analis politik menilai kerja sama dewan kerja sama Teluk Persia tidak akan kembali seperti sebelumnya.

Sejatinya, keberhasilan Doha menghadapi sanksi Riyadh dan sekutunya adalah kekalahan lain dari rangkaian kekalahan beruntun Mohammed bin Salman dalam mewujudkan ambisinya menjadi "Pahlawan" bagi Arab Saudi dan layak menempati posisi raja.

Unjuk rasa tuntut transparansi kasus Jamal  Khashoggi

Tapi fakta-fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya; di dalam negeri dibenci, di luar negeri dimusuhi. Agenda reformasi yang diusungnya dilihat di permukaan seperti mengusung modernisasi, tapi jika dikaji lebih dalam justru sebaliknya. Kasus pembunuhan Khashoggi menunjukkan wajah asli putera mahkota modern ini; Diktator tradisional sejati !(PH)