Lima Tahun Perang, Kegagalan Koalisi Saudi di Balik Perlawanan Rakyat Yaman
-
Mohammed bin Salman dan kejahatan kemanusiaan di Yaman
Perang yang digelar rezim Saudi terhadap negara Arab miskin Yaman telah memasuki tahun kelima. Perang berlanjut sekalipun sudah ada beberapa putaran pembicaraan damai, termasuk perjanjian Stockholm, Swedia, sementara setiap harinya orang-orang Yaman dibunuh oleh para agresor Saudi dengan senjata terlarang.
Koalisi Saudi pada 26 Maret 2015, dengan dukungan lampu hijau Amerika Serikat, memulai perang terhadap Yaman untuk mengembalikan para pendukungnya ke kekuasaan lagi, tetapi gagal ke arah ini. Di balik bayang-bayang perang, koalisi agresif Saudi telah membukukan bencana terbesar dan kejahatan anti-kemanusiaan di Yaman.
Perang Yaman didukung oleh rezim AS, Israel, dan Inggris, dimana rezim Saudi hanya sebagai alat bagi Amerika untuk menyukseskan tujuan-tujuan mereka. Meskipun mendapat dukungan penuh Amerika Serikat untuk koalisi Saudi dalam perang Yaman, rezim Saudi dan pendukungnya menghadapi jalan buntu berkat perlawanan gigih para pejuang Yaman.
Sekaitan dengan hal ini, Abdul Malik al-Houthi, Sekretaris Jenderal Gerakan Ansarullah Yaman pada 25 Maret 2019, bertepatan dengan tahun keempat perlawanan bangsa Yaman terhadap perang luas koalisi Saudi di Yaman, menyebut Amerika Serikat, Inggris dan rezim Zionis berada di belakang skenario perang Yaman. Abdul Malik al-Houthi mengatakan, "Arab Saudi dan Uni Emirat Arab adalah instrumen eksekutif dari skenario ini." Sekjen Gerakan Ansarullah Yaman menyatakan, "Terlepas dari kenyataan bahwa koalisi Saudi mendapat dukungan kekuatan dan politik internasional, tapi ia gagal karena perlawanan rakyat Yaman."
Situasi saat ini di Yaman menguntungkan perlawanan rakyat Yaman, sekalipun semua rakyat Yamang menghadapi segala masalah akibat perang yang digelar koalisi Saudi. Empat tahun setelah perang Yaman yang tidak seimbang, Gerakan Ansarullah, sekutu-sekutunya, dan rakyat resisten Yaman adalah pemenang utama medan perang dan masa depan adalah milik semua rakyat Yaman.
Rakyat Yaman di medan perang dan arena politik menunjukkan bahwa mereka menginginkan berakhirnya perang tetapi masih waspada terhadap konspirasi. Partisipasi Ansarullah Yaman dalam berbagai proses perdamaian menunjukkan keseriusan gerakan rakyat ini untuk mengakhiri perang di Yaman. Perkembangan lapangan dan perang selama empat tahun terakhir telah membuktikan bahwa krisis Yaman tidak memiliki solusi militer.
Satu-satunya perkiraan perang berusia empat tahun Saudi di Yaman adalah penghancuran infrastruktur vital negara ini, krisis kemanusiaan terburuk di dunia, epidemi kolera dan pembunuhan harian rakyat Yaman, terutama wanita dan anak-anak.
Keterlibatan serius gerakan Ansrullah Yaman dalam pembicaraan damai, termasuk pembicaraan Swedia, untuk mengakhiri krisis kemanusiaan di Yaman. Ansarullah Yaman dalam kesepakatan Stockholm setuju untuk menyerahkan kendali atas kota strategis al-Hudaydah di Yaman barat kepada pasukan lokal kota itu di bawah pengawasan PBB untuk membuka jalan bagi penyelesaian krisis Yaman.
Dalam kerangka ini, gencatan senjata yang disepakati di Swedia antara delegasi dari Sanaa dan delegasi Riyadh dimulai di kota al-Hudaydah pada 18 Desember 2018, tetapi belum diimplementasikan akibat sabotase koalisi Saudi. Pada saat yang sama dengan gencatan senjata dimulai di al-Hudaydah, koalisi Saudi menunjukkan kelanjutan dari serangan terhadap daerah pemukiman di Yaman dan tidak menginginkan diakhirinya perang dan mengejar tujuan lain.
Dalam nada yang sama, Mahdi al-Mashat, Ketua Dewan Tinggi Politik Yaman pada ulang tahun keempat perang Yaman menekankan, "Jika koalisi agresor Saudi memutuskan untuk menutup semua pilar perdamaian, opsi tersulit akan menunggu mereka." Mahdi al-Mashat mengatakan bahwa Yaman belum menggunakan alternatif menyakitkan terhadap koalisi agresor Saudi sehingga prospek perdamaian tetap ada.
Ketua Dewan Tinggi Politik Yaman menyoroti alasan mengapa perjanjian Stockholm tidak dilaksanakan. Ia menyinggung keras kepala pihak Arab Saudi dan usaha mereka mengangkat masalah di luar perjanjian. Menurutnya, "Salah satu persyaratan dari Amerika Serikat, Inggris dan, khususnya, Arab Saudi untuk membagi kawasan adalah bahwa perang Yaman jangan dihentikan sekarang dan pelanggaran luas gencatan senjata menjadi bukti klaim ini.
Kelanjutan serangan koalisi Saudi ke Yaman dilakukan di balik bayang-bayang kebungkaman masyarakat internasional bukan saja merugikan masyarakat dan hak primer untuk hidup di Yaman. Angka-angka yang dilaporkan untuk tahun kelima perang Yaman menunjukkan kedalaman bencana di negara Arab yang miskin ini.
Yahya al-Houthi, Menteri Pendidikan Yaman pada 25 Maret 2019 mengatakan, "Akibat serangan koalisi agresor Saudi ke Yaman selama empat tahun terakhir, 3.526 pusat pendidikan di 22 provinsi Yaman mengalami kerusakan dan 660 pusat pendidikan telah ditutup dan merugikan 1.465 pusat pendidikan lainnya.
Selain penghancuran pusat-pusat pendidikan, situasi kesehatan di Yaman juga kritis dan bencana. Dalam nada yang sama, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan pada hari Senin, 25 Maret 2019 mengatakan, "Dari awal tahun ini hingga Maret, ratusan dugaan kasus kolera telah diamati di seluruh Yaman dan 109 orang meninggal karena telah terserang penyakit ini. Yaman telah dua kali menyaksikan wabah kolera dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai akibat dari wabah itu, satu juta orang yang diduga menderita kolera telah diidentifikasi dan sekitar tiga ribu orang telah meninggal sebagai akibatnya.
Yousef al-Haderi, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Yaman di akhir tahun keempat perang koalisi Saudi mengatakan, "12.000 orang tewas dan 26.000 terluka. Sementara itu, menurut juru bicara Kementerian Kesehatan Yaman, 32.000 orang meninggal karena mereka tidak bisa keluar dari negara itu untuk mendapatkan perawatan. Dengan kata lain, setidaknya 44.000 orang Yaman terbunuh secara langsung dan tidak langsung setelah perang koalisi. Dari statistik, 6.361 orang yang terbunuh dalam perang terdiri dari wanita dan anak-anak.
Juga, selama empat tahun perang yang gagal terhadap rakyat Yaman, perang ini memasuki tahun kelima, dimana menurut organisasi internasional, lebih dari 24 juta orang Yaman membutuhkan bantuan, lebih dari 15 juta kekurangan gizi, dan jutaan anak berisiko kelaparan.
Bersikeras untuk melanjutkan perang Yaman, terlepas dari semua masalah kemanusiannya, kembali ke posisi strategis negara Arab ini, yang terlepas dari berbagai kesepakatan politik, tapi koalisi Arab Saudi dan para pendukungnya tidak memiliki niat serius untuk mengakhiri perang mematikan ini. Posisi strategis Yaman sangat penting karena menghadap ke Tanduk Afrika dan pantai Afrika Timur melalui perbatasan laut selatan dan barat Yaman. Selain itu, letak Yaman yang menguasai selat strategis Bab el-Mandab memberikan posisi sangat penting untuk menjamin keamanan energi dan transit barang di dunia.
Karena posisi strategis Yaman ini, ada upaya untuk menjaga rasa tidak aman di negara ini tetap berlanjut oleh musuh dan tentara bayaran mereka di Yaman. Dalam nada yang sama, Dhaifullah al-Shami, Menteri Informasi dan Juru Bicara Pemerintah Penyelamat Nasional Yaman mengatakan, "Penciptaan rasa tidak aman dan destabilisasi di Yaman adalah tujuan strategis musuh-musuh Yaman, tetapi kewaspadaan dan perlawanan bangsa, tentara, pasukan keamanan, pemerintah dan lembaga yang berafiliasi dengan pemerintah Yaman telah menciptakan penghalang yang kuat terhadap musuh-musuh dan rencana ekspansi dan jahat mereka."
Mengacu pada peran sentral rakyat dalam menstabilkan keamanan dan stabilitas di Yaman, Dhaifullah al-Shami menyatakan, "Setiap warga negara adalah pasukan keamanan. Sekarang dengan kesadaran dan budaya rakyat yang konstan, kondisi seperti itu telah diwujudkan dalam masyarakat Yaman dan elemen-elemennya. Penjahat lain tetap berada di masyarakat Yaman dan tidak memiliki tempat di antara masyarakat."