Target Saudi, AS dan Israel di Perang Yaman
https://parstoday.ir/id/radio/world-i52273-target_saudi_as_dan_israel_di_perang_yaman
Agresi militer Arab Saudi ke Yaman dimulai Maret 2015. Serangan militer yang disebut Colin Powell, mantan menteri luar negeri Amerika Serikat akan selesai dalam waktu singkat itu, ternyata setelah berlalu sekitar tiga tahun tidak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
(last modified 2026-03-03T12:22:08+00:00 )
Feb 25, 2018 15:03 Asia/Jakarta

Agresi militer Arab Saudi ke Yaman dimulai Maret 2015. Serangan militer yang disebut Colin Powell, mantan menteri luar negeri Amerika Serikat akan selesai dalam waktu singkat itu, ternyata setelah berlalu sekitar tiga tahun tidak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Pada tahun 2014, Colin Powell secara resmi mengumumkan, kita tidak semestinya mempercayai janji-janji Saudi, Salman dan putranya kepada kami berkata, perang Yaman, tidak akan berlangsung lebih dari 10 hari dan pasukan Saudi akan masuk ke Sanaa di hari ketujuh. Washington keliru telah memberikan lampu hijau kepada Saudi untuk menyerang Yaman. Saudi terlalu membesar-besarkan kekuatannya dan menipu Amerika.

Statemen Powell secara tegas menyatakan bahwa Saudi melancarkan perang terhadap Yaman dengan izin Amerika dan dalam perang ini Saudi mendapat dukungan langsung dari Amerika. Pertanyaannya adalah, apa faktor penyebab perang ini, dan mengapa Saudi didukung Amerika dan rezim Zionis Israel, sekutu terpenting Amerika di Timur Tengah.

Colin Powell

Tidak diragukan, pemicu utama perang Saudi terhadap Yaman adalah ketidakpuasan rezim Al Saud atas transformasi politik Yaman. Saudi, sebagaimana diyakini banyak pakar hubungan internasional, berusaha keras menggagalkan revolusi rakyat Yaman tahun 2011 dan berhasil meraih keinginannya setelah menggelar pemilu sandiwara dengan kandidat tunggal yang berujung dengan naiknya Abd Rabbuh Mansour Hadi, wakil Ali Abdullah Saleh.

Akan tetapi kegagalan Mansour Hadi selama pemerintahannya, membangkitkan kembali semangat revolusi di Yaman pada musim panas 2014 yang menghasilkan kesepakatan antara pemerintah Mansour Hadi dan Ansarullah pada September 2014.

Tingkat intervensi rezim Al Saud dalam urusan internal Yaman pasca kesepakatan tersebut semakin besar, dan kematian Raja Abdullah serta naiknya Salman bin Abdulaziz, Januari 2015 disusul pengangkatan putranya, Mohammed bin Salman menjadi menteri pertahanan Saudi, telah mengubah bentuk intervensi Saudi di Yaman.

Mohammed bin Salman sejak hari pertama ayahnya diangkat menjadi raja secara praktis memegang kendali seluruh urusan di Saudi dan mendukung pengunduran diri Mansour Hadi pada 22 Januari 2015, tepat sehari sebelumnya ayahnya diangkat menjadi Raja Saudi.

Ambisi menguasai tampuk kekuasaan tertinggi di Saudi, mendorong Mohammed bin Salman memanfaatkan agresi militer ke Yaman untuk mengesankan dirinya sebagai "pahlawan". Dalih perang Yaman ini adalah mengembalikan kekuasaan Abd Mansour Hadi dan mengumumkan bahwa upaya Ansarullah merebut kekuasaan di Yaman melanggar hukum.

Benjamin Netanyahu dan Mohammed bin Salman

Oleh karena itu, bukan saja ketidakpuasan atas transformasi politik Yaman yang berujung dengan keberhasilan Ansarullah, tapi keinginan Mohammed bin Salman untuk unjuk kekuasaan di hadapan publik dalam negeri dan internasional, juga menjadi faktor kunci pemicu pecahnya perang Yaman, perang yang diramalkan Colin Powell hanya akan berlangsung 10 hari.

Ketidakpuasan atas transformasi politik Yaman ini ditunjukkan bukan saja oleh Amerika, tapi juga Israel. Perang Saudi terhadap Yaman bukan saja terjadi atas lampu hijau Amerika dan restu Israel, dalam perang ini, Riyadh juga mendapat dukungan Washington dan Tel Aviv.

Sehubungan dengan hal ini, Farah Najjar, jurnalis TV Aljazeera, November 2017 dalam analisanya berjudul "Mengapa Amerika tidak akan Pernah Angkat Kaki dari Yaman" menulis, Amerika memberikan bantuan logistik dan senjata kepada Saudi dan sekutu-sekutunya dalam perang Yaman.

Chris Murphy, senator Demokrat terkait berlarut-larutnya perang Saudi terhadap Yaman mengatakan, pemboman pembangkit listrik di Yaman tidak mungkin dilakukan tanpa bantuan Amerika.

Amerika memberikan informasi-informasi akurat tentang target yang harus diserang jet-jet tempur Saudi. Selain itu, jet-jet tempur Amerika yang terbang di langit Yaman juga menyuplai bahan bakar untuk jet-jet tempur Saudi sehingga bisa terbang lebih lama dan menyerang target lebih banyak.  

Terdapat sejumlah alasan mengapa Amerika mendukung Saudi menyerang Yaman. Salah satunya yang terpenting adalah politik sektarianisme Amerika dan Israel di Timur Tengah termasuk Yaman.

Pada kenyataannya, Amerika dan Israel sejalan dengan Saudi, menganggap berkuasanya Ansarullah, kelompok Syiah Yaman, telah meningkatkan pengaruh Iran yang dalam istilah Barat disebut sebagai fenomena terbentuknya Hizbullah baru, dan kali ini terjadi di dekat perbatasan Saudi.

Oleh karena itu, Amerika dan Israel berusaha sekuat tenaga mencegah masuknya Ansarullah dalam struktur kekuasaan Yaman dengan cara apapun termasuk perang. Farah Najjar, jurnalis Aljazeera percaya bahwa alasan utama dukungan Amerika atas Saudi di perang Yaman adalah memerangi kelompok Houthi yang dianggapnya sekutu Iran.

Luciano Zaccara, dosen di Universitas Qatar meyakini alasan utama dukungan Amerika atas Saudi dalam perang Yaman terkait dengan koalisi strategis jangka panjang Amerika dan Saudi. Selain itu, dengan alasan mencegah pengaruh regional Iran, Amerika membantu Saudi memerangi Yaman.

Alasan lain yang mendorong Amerika dan Israel membantu Saudi menyerang Yaman, terkait dengan geopolitik Yaman. Yaman bertetangga dengan Saudi dan negara itu dianggap sebagai "pekarangan kosong" Saudi.

Terbentuknya struktur politik tidak menguntungkan yang di dalamnya sekutu-sekutu Saudi dan Amerika tidak punya kekuatan, menyebabkan Yaman semakin independen terutama dalam kebijakan luar negeri dan hal inilah yang menjadi pemicu utama permusuhan segitiga Riyadh, Washington dan Tel Aviv.

Selat Bab El Mandeb

Selat Bab El Mandeb adalah bagian wilayah Yaman dan merupakan salah satu alasan mengapa negara ini dianggap penting bagi kekuatan-kekuatan regional dan transregional. Setiap hari lebih dari tiga juta barel minyak yang dipasarkan lewat Selat Bab El Mandeb.

Pentingnya energi sedemikian tinggi bagi Saudi sebagai produsen terbesar minyak dunia, juga bagi Amerika dan Israel, sehingga mereka tak segan melancarkan perang terhadap Yaman dengan maksud untuk mencegah kemungkinan direbutnya kontrol Bab El Mandeb oleh pemain lain.

Oleh karena itu, kepentingan energi secara umum dan minyak secara khusus harus ditambahkan dalam faktor pemicu dukungan AS dan Israel terhadap Saudi dalam mengagresi Yaman.

Amerika memandang perang Yaman dalam bingkai kepentingan ekonomi. Salah satu sumber pendapatan terbesar AS adalah penjualan senjata khususnya ke negara-negara Arab, Pesisir Teluk Persia. Sebagian besar senjata yang digunakan Saudi dalam perang Yaman juga buatan Amerika Serikat.

Majalah Amerika, Foreign Policy, Desember 2015 dalam salah satu laporannya terkait krisis Yaman terang-terangan menyebut Amerika sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pembunuhan warga sipil Yaman dalam agresi militer koalisi Saudi ke negara itu.

Menurut majalah AS itu, agresi militer Saudi ke Yaman tidak mungkin dilakukan tanpa dukungan angkatan udara Amerika Serikat, termasuk pesawat-pesawat penyalur bahan bakar dan senjata serta amunisi perang negara ini, terutama bom-bom terlarang, seperti bom klaster. Realitasnya, Yaman sekarang sudah berubah menjadi laboratorium uji coba pabrik-pabrik senjata Amerika dan Eropa.

Menjelang tiga tahun perang Yaman, data resmi menunjukkan, lebih dari 10.000 warga Yaman tewas dan lebih dari 40.000 orang terluka, sementara sekitar tiga juta lainnya mengungsi. Lebih dari 80 persen infrastruktur Yaman hancur. Wabah penyakit yang merupakan akibat langsung dari perang ini ditambah Difteri, terus mengintai nyawa warga Yaman.

Organisasi-organisasi internasional berulangkali mengumumkan, krisis Yaman adalah krisis terburuk di dunia dalam beberapa dekade terakhir. Krisis Yaman adalah bencana kemanusiaan. Jelas sekali, Saudi telah melakukan kejahatan perang, kejahatan kemanusiaan dan merusak perdamaian di Yaman dengan bantuan Amerika dan Israel.