Kebijakan Unilateralisme dan Keterkucilan AS di Kancah Internasional (1)
https://parstoday.ir/id/radio/world-i59351-kebijakan_unilateralisme_dan_keterkucilan_as_di_kancah_internasional_(1)
Naiknya Donald Trump sebagai presiden Amerika pada 20 Januari 2017 dapat dicermati sebagai bangkitnya kembali kebijakan unilateralisme. Sebuah kebijakan yang di era Barack Obama semakin pudar mengingat pendekatannya yang bersedia berpartisipasi dengan para mitranya dalam menangani isu-isu internasional seperti isu nuklir Republik Islam Iran.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jun 28, 2018 06:17 Asia/Jakarta

Naiknya Donald Trump sebagai presiden Amerika pada 20 Januari 2017 dapat dicermati sebagai bangkitnya kembali kebijakan unilateralisme. Sebuah kebijakan yang di era Barack Obama semakin pudar mengingat pendekatannya yang bersedia berpartisipasi dengan para mitranya dalam menangani isu-isu internasional seperti isu nuklir Republik Islam Iran.

Obama juga menerapkan sanksi sepihak yang ia klaim sebagai sanksi melumpuhkan anti Iran bersama sekutu Eropanya. Sebaliknya Trump dengan slogan America First, selain memperioritaskan kepentingan dan ambisi Amerika, tentunya tanpa mengindahkan negara lain, meyakini bahwa pendekatan unilateralisme dan egosentris Washington akan membuat negara ini semakin berkuasa dan mengalahkan rival-rivalnya.

Jean Claude Jungker, Ketua Komisi Eropa di statemen terbarunya terkait kebijakan Amerika mengatakan, ide America First Trump akan membuat negara ini sendiri tanpa teman. Selain itu Turmp dalam menindaklanjuti kebijakannya menggunakan metode tak biasa. Menurut Marie Cecile Naves, peneliti asal Perancis, pendekatan Trump yang ingin mengakhiri era dunia multipolar bertumpu pada dominasi dan gertakan.

Pendekatan Trump di bidang orisinalitas AS dan kepentingannya membuat dirinya mengambil sikap yang bertentangan dengan konsensus masyarakat internasional dan bahkan sekutu Eropanya. Robert Malley, mantan anggota Dewan Keamanan Nasional Amerika mengatakan, "Unilateralisme Donald Trump membuat negara ini terkucil dan semakin nyata dengan keluarnya Washington dari JCPOA dan penerapan tarif pedagangan terhadap sekutu dekat Gedung Putih. Sementara itu Sekjen PBB Antonio Guterres meyakini bahwa saat ini multipolar sangat dibutuhkan.

Donald Trump

Melalui kebijakan unilateralisme dan rencana sepenuhnya despotik, Trump ingin memaksakan pendekatan dan berbagai ambisinya kepada mitra Eropa Washington. Trump berulang kali mencela Eropa karena dinilai tidak memberikan sahamnya yang layak di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan dengan keluar dari Perjanjian Iklim Paris, ia telah membuka peluang bagi kritik pedas pemimpin Eropa kepada dirinya.

Selain itu, keluarnya AS dari JCPOA yang diumumkan Trump pada 8 Mei 2018 sepenuhnya bertentangan dengan keinginan Uni Eropa dan trioka Eropa. Dalam hal ini Eropa menekankan untuk mempertahankan JCPOA. Dengan mengumumkan Amerika keluar dari JCPOA, Trump telah menempatkan tanggung jawab bersejarah di pundaknya sendiri dan menunjukkan bahwa Amerika tidak mampu memainkan peran sebuah kekuatan stabil dan berpengaruh di dunia.

Bruno Le Maire, Menteri Ekonomi Perancis seraya mengungkapkan penyesalannya atas keluarnya AS dari JCPOA menjelaskan, "Tidak dapat diterima sama sekali ketika Amerika ingin menjadi polisi ekonomi dunia." Menurut Eropa, langkah Trump ini yang mendapat penentangan seluruh penandatangan JCPOA sebuah kesalahan besar, karena telah membahayakan keamanan internasional baik dari sisi politik, militer dan bahkan ekonomi.

Namun begitu, friksi Trump tidak terbatas dengan sekutu Eropanya saja dan ketamakan serta tuntutan berlebihan presiden Amerika di sektor perdagangan dan proteksionismenya dengan menerapkan tarif tinggi telah mempengaruhi KTT G7 yang digelar baru-baru ini di Kanada. Di KTT ini kita menyaksikan perdebatan antara Trump dari satu sisi dan pemimpin Eropa serta perdana menteri Kanada dari satu sisi.

Bahkan sejumlah pengamat saat ini cenderung menggunakan istilah kelompok 6+1 ketimbang G7. Hal ini menunjukkan adanya friksi mendasar di tubuh kelompok ini dan masa depannya yang tak jelas. Kanselir Jerman, Angela Merkel yang tercatat sebagai negara terpenting Eropa dan anggota kunci blok Barat sampai saat ini beberapa kali mengkritik kebijakan Trump dan memperingatkan bahwa pendekatan Washington akan berujung pada keterkucilan AS, bukannya membuat negara ini semakin kuat.

Merkel juga menyebut Trump menghendaki isolasionisme dan mengungkapkan, pemikiran Trump yang ingin menjadikan Amerika di posisi puncak akan menciptakan bahaya yang malah akan membuat posisi dan kekuatan pengaruh Washington di dunia menurun. Amerika yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak menganggap penting pihak lain tidak memiliki peluang untuk menjadi kekuatan adi daya.

Pendekatan orisinalitas AS Trump dan kepentingannya mendorong eskalasi unilateralisme Washington dan pengambilan sikap yang bertentangan dengan konsensus global. Menurut Ruhollah Suri, pengamat hubungan internasional, sikap AS mengabaikan kepentingan global malah semakin memperkuat potensi terbentuknya sebuah sistem multipolar.

Donald Trump

Friksi antara Merkel dan Trump mencakup berbagai isu seperti kesepakatan iklim Paris hingga pendekatan berbeda mengenai perdagangan dunia, masa depan NATO dan JCPOA. Partai Sosialis Perancis di akhir Mei 2018 saat merespon keluarnya AS dari kesepakatan nuklir menyatakan bahwa langkah Trump ini mengindikasikan diplomasi "Menarik Simpati" Washington tidak lagi efektif bagi Eropa.

Partai Sosialis Perancis ini di statemennya menilai keluarnya Washington dari JCPOA dan Perjanjian Iklim Paris serta kesepakatan perdagangan sebagai indikasi kegagalan diplomasi ini. Metode dan perilaku Trump serta secara global pemerintah Amerika terhadap Eropa menunjukkan bahwa mereka tidak pernah menganggap penting pandangan mitra Eropanya dan tanpa mempertimbangan kepentingan trans-atlantik, Gedung Putih hanya mengambil keputusan sesuai dengan kepentingan dan ambisi pribadinya.

Sementara itu, bukan hanya mitra Eropa AS saja yang tidak puas dengan pendekatan dan perilaku Trump. Dua rival utama AS, satu di bidang politik dan militer yakni Rusia dan lainnya di bidang perdagangan dan ekonomi yakni Cina juga mengkritik tajam kebijakan Trump menyikapi berbagai isu khususnya isu internasional.

Unilateralisme Amerika yang sampai saat ini menganggap dirinya sebagai satu-satunya kekuatan adi daya dunia dan berdasarkan impian ini Gedung Putih mengambil keputusan terkait isu global termasuk kritikan utama yang dilontarkan Rusia selama beberapa tahun terakhir. Rusia berulang kali menentang langkah unilateralisme Barat khususnya Amerika di berbagai isu internasional.

Menurut pandangan Moskow, kecenderungan Amerika ini telah merusak misi utama Dewan Keamanan dan menyebarkan kekacauan di tingkat internasional. Presiden Rusia Vladimir Putin menekankan hal ini bahwa sistem unipolar global pimpinan AS tidak dapat diterima Moskow dan negaranya tidak akan pernah menerima sistem seperti ini. Moskow sejak lama menentukan kebijakan luar negerinya untuk menciptakan sistem multipolar di dunia.

Di antara kasus yang disepakati baik Eropa, Rusia dan Cina adalah isu JCPOA. Yuri Ushakov, Penasihat Presiden Rusia bidang luar negeri mengatakan, pandangan kritis para pemimpin Rusia, Perancis dan Jerman terkait langkah Amerika keluar dari JCPOA membuat mereka semakin dekat. Pengumuman pandangan Moskow terkait peran JCPOA mendekatkan Rusia dengan Eropa adalah pandangan kedua pihak akan pentingnya mempertahankan kesepakatan nuklir dan penolakan pendekatan hegemoni serta unilateralisme Amerika di tingkat global.

Rusia dan Cina sejak lama menempatkan pembentukan sistem multipolar di dunia dalam kebijakan luar negerinya. Dalam hal ini, Rusia mulai aktif meningkatkan interaksinya di bidang internasional khususnya dengan kekuatan ekonomi baru dunia seperti Cina. Menurut perspektif Moskow, interaksi penuh Rusia dan Cina menjadi teladan bagi hubungan antar bangsa di abad 21.

Donald Trump

Menurut Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, Moskow dan Beijing baik dari sisi hubungan bilateral dan juga dari sisi hubungan multilateral memiliki kerja sama di berbagai bentuk seperti Uni Ekonomi Eurosia, Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif, BRIC dan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO). Baik Cina maupun Rusia, mengingat transformasi global di sektor ekonomi dan politik meyakini bahwa organisasi internasional baru harus menggantikan organisasi lama yang telah kehilangan pengaruhnya.

Tentunya pendekatan Rusia terkait sistem global baru yang bertumpu pada sistem multipolar dan pembentukan kekuatan ekonomi baru serta pengaruh politik di dunia bukan yang dikehendaki Amerika. Oleh karena itu, AS senantiasa berusaha mencegah terealisasinya tujuan Rusia tersebut. Mengingat penentangan Trump atas pendekatan dan langkah yang disetujui masyarakat internasional, seperti Perjanjian Iklim Paris, JCPOA dan penentangan atas kebijakan tarif Trump, maka sedikit demi sedikit terbentuk barisan internasional anti presiden Amerika.

Selain itu, di dalam negeri penentangan di antara petinggi Kongres juga semakin intens. Perilaku dan penentangan ini semakin membuat AS dan Trump terkucil di tingkat internasional.