Misi AS Membawa Arab Saudi ke Afghanistan
-
Pangeran Mohammed bin Salman mengatakan, Arab Saudi adalah sekutu tertua AS di Timur Tengah.
Utusan Khusus AS untuk Afghanistan, Zalmay Khalilzad memulai misinya untuk mendorong Taliban bergabung dalam proses perdamaian. Dia telah melakukan kunjungan ke beberapa negara termasuk Arab Saudi dan Afghanistan.
Washington tampaknya telah mengesampingkan kebijakan anti-Islamabad dan sedang merintis kerjasama trilateral (Amerika, Saudi, dan Pakistan) untuk mengakhiri krisis Afghanistan dengan tetap mempertimbangkan kepentingan dan tujuan Paman Sam.
Khalilzad – sebagai mantan duta besar AS untuk Afghanistan dan etnis Pashtun – sudah akrab dengan perkembangan Afghanistan dan mengetahui kepentingan yang diincar Pakistan dan Saudi di negara itu. Pakistan mengejar beberapa tujuan seperti, mengubah garis perbatasan internasional Durand dengan Afghanistan dan mendorong Taliban dilibatkan dalam pemerintahan Kabul.
"Ada perbedaan strategis antara Afghanistan dan Pakistan, terutama mengenai garis perbatasan Durand. Pakistan tidak ingin mengurangi ketegangan dan konflik di Afghanistan selama Kabul belum memenuhi permintaan mereka. Pengaruh India di Afghanistan juga membuat Pakistan khawatir," ungkap pengamat politik di Afghanistan, Sediq Kharki.
Khalilzad juga ingin membawa Arab Saudi ke Afghanistan dan menjadikan Riyadh sebagai sebuah pemain regional aktif, yang akan bergerak sejalan dengan kepentingan Washington.
Lalu, mengapa Arab Saudi ingin meningkatkan pengaruhnya di Afghanistan?
Riyadh sangat agresif dalam menyebarkan paham Wahabi dan budayanya di negara-negara lain termasuk Afghanistan. Babak baru infiltrasi Arab Saudi di Afghanistan dimulai dengan pembangunan universitas terbesar di Provinsi Nangarhar. Proyek ini diperkirakan menelan biaya sekitar 500 juta dolar. Pada 2014 lalu, Saudi juga menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan konstruksi untuk membangun universitas Islam di Kabul.
Banyak pengamat politik di Afghanistan menganggap pembangunan pusat akademis ini sebagai kamuflase untuk mendukung gerakan ekstrim di negara tersebut dan kawasan. Tujuan lain Saudi memperluas infiltrasinya di Afghanistan adalah meningkatkan kekuatan regionalnya dan melawan pengaruh Republik Islam Iran.
Dengan mendukung kelompok-kelompok seperti Partai Islam Hekmatyar, para penguasa Al Saud beranggapan bahwa mereka dapat menghentikan kehadiran Iran dalam perimbangan regional.
Setelah mengangkat isu mengenai hubungan Iran dan Rusia dengan Taliban, Saudi merasa bahwa mereka telah kehilangan anak asuhnya itu dan sekarang mencari jalan lain untuk memperluas pengaruhnya di Afghanistan. Salah satu cara efektif menampilkan dirinya sebagai pihak yang akan membantu mengakhiri krisis Afghanistan.
"Arab Saudi memandang Afghanistan dari segi sektarian. Para penguasa Al Saud tidak akan peduli dengan penderitaan rakyat Afghanistan, karena negara itu pendukung Taliban dan kelompok-kelompok ekstrim lain di Afghanistan. Jadi, rezim Al Saud tidak akan pernah membantu proses perdamaian Afghanistan," ujar seorang pengamat politik Afghanistan, Reza Parsa.
Arab Saudi juga ingin mengembangkan hubungan ekonomi dan investasi dengan Afghanistan di berbagai sektor termasuk pertambangan. Dalam beberapa tahun terakhir, salah satu instrumen Saudi untuk meningkatkan pengaruhnya di negara lain adalah menggunakan tuas ekonomi.
Dengan memperhatikan kebutuhan Kabul pada investasi asing, para penguasa Saudi akan mengejar tujuan jangka panjang dengan melakukan investasi di berbagai sektor ekonomi. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa Riyadh dalam jangka panjang akan memanfaatkan investasi ini untuk menekan pemerintah Kabul agar memenuhi permintaan mereka.
Beberapa pengamat politik dan keamanan regional percaya bahwa Arab Saudi sedang bekerja dalam konteks definisi baru Amerika tentang Afghanistan. Selama kunjungan Presiden Donald Trump ke Riyadh pada 2017 lalu, para penguasa Saudi sepertinya telah mencapai kesepakatan dengannya untuk memainkan peran efektif yang sejalan dengan kepentingan AS di Afghanistan. Kepentingan ini termasuk membentuk rivalitas baru di Afghanistan, yang bisa menyulut konflik sektarian dan perang saudara.
Di samping motivasi Al Saud untuk memperkuat pengaruh di Afghanistan, Khalilzad juga mencoba memanfaatkan ambisi Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman sehingga bagian penting dari biaya perang Afghanistan akan dibayar oleh Riyadh.
Di sini, Trump akan menunjukkan keahliannya sebagai pebisnis. Dia akan bertransaksi dengan Riyadh mengenai perang Afghanistan dan meminta negara itu untuk membayar biaya dengan imbalan membuka pintu bagi Arab Saudi untuk memainkan peran di kawasan, terutama dalam masalah Afghanistan.
Situs Afghan Paper dalam sebuah analisa baru-baru ini tentang upaya AS memperkuat posisi Saudi di Afghanistan menulis, "Tugas Arab Saudi adalah mendukung kelompok-kelompok ekstrimis untuk membuka ruang kehadiran AS di kawasan. Media-media Barat juga memperkenalkan Muslim sebagai teroris dan perusak tatanan global, di mana penyebab asli masalah ini adalah rezim Al Saudi."
Pendekatan baru AS di dunia menunjukkan bahwa mereka sedang membentuk aliansi regional yang sejalan dengan kepentingan Washington untuk melawan negara-negara lain penentang hegemoni AS. Di sini, Khalilzad harus membangun kerjasama antara Pakistan, Arab Saudi, dan Amerika di Afghanistan. Dengan cara ini, mereka bisa memberikan tekanan pada Iran dan Rusia di masa depan.
Meski Pakistan selalu berusaha untuk mempertahankan hubungan persahabatannya dengan Iran, namun Saudi di bawah dukungan AS, siap untuk merusak keamanan regional dengan menggunakan tangan beberapa gerakan politik dan militer di Afghanistan.
Situs Euronews dalam sebuah laporan tentang kebijakan AS di Afghanistan menyatakan bahwa strategi pemerintahan Trump menambah pasukan di Afghanistan kian membuat Washington putus asa dalam mencapai kesuksesan di negara itu. Untuk itu, AS akan memanfaatkan Saudi untuk mengubah strateginya di Afghanistan."
Tujuan Amerika adalah memperluas kekerasan dan ekstrimisme di Afghanistan dan kawasan. Arab Saudi akan menjadi pilihan yang tepat untuk menyukseskan tujuan ini, karena Riyadh selalu mengejar misi penyebaran paham Wahabi, yang bersandar pada sektarianisme, kekerasan, dan pada akhirnya terorisme.
AS tidak hanya membangun pangkalan militer terbesar di Afghanistan, tetapi juga menggunakan negara itu sebagai terminal transit para ekstrimis ke wilayah Asia Tengah dan Kaukasus. Dalam pandangan Washington, ajaran Wahabi dapat memainkan peran sentral untuk memajukan kepentingan AS di kawasan. (RM)