15 Orang Tewas Akibat Tabrakan Perahu Cepat Migran
https://parstoday.ir/id/news/daily_news-i185012-15_orang_tewas_akibat_tabrakan_perahu_cepat_migran
Pars Today - Sedikitnya 15 orang tewas akibat tabrakan antara sebuah perahu cepat yang mengangkut migran dan kapal penjaga pantai di perairan Yunani.
(last modified 2026-02-04T04:19:40+00:00 )
Feb 04, 2026 11:13 Asia/Jakarta
  • Kapal yang ditumpangi imigran terbalik (dok)
    Kapal yang ditumpangi imigran terbalik (dok)

Pars Today - Sedikitnya 15 orang tewas akibat tabrakan antara sebuah perahu cepat yang mengangkut migran dan kapal penjaga pantai di perairan Yunani.

Menurut laporan IRNA hari Rabu (04/02/2026) yang mengutip Sky News, otoritas penjaga pantai Yunani menyatakan bahwa jenazah 11 pria dan tiga perempuan ditemukan di laut di dekat Pulau Chios, di wilayah timur Laut Aegea, sementara satu perempuan lainnya meninggal dunia di rumah sakit.

Operasi pencarian dan penyelamatan di kawasan itu masih berlangsung dengan melibatkan kapal patroli, penyelam, dan satu unit helikopter.

Penjaga pantai Yunani mengumumkan bahwa 25 migran, termasuk 11 anak-anak, berhasil diselamatkan dari perahu itu dan bersama dua petugas penjaga pantai yang terluka dalam insiden pada Selasa (03/02) itu, telah dilarikan ke sebuah rumah sakit di Chios.

Otoritas penjaga pantai menyatakan bahwa hingga kini belum diketahui secara pasti berapa jumlah orang yang berada di dalam perahu cepat tersebut.

Penyebab pasti terjadinya kecelakaan ini juga masih belum dapat dipastikan.

Michalis Giannakos, Ketua Serikat Pekerja Rumah Sakit Pemerintah Yunani mengatakan bahwa para tenaga medis di rumah sakit Chios tengah bersiap menghadapi kemungkinan lonjakan jumlah korban luka.

Perlu diketahui, pada tahun 2023 ratusan orang meninggal dunia akibat tenggelamnya sebuah kapal penangkap ikan yang mengangkut migran dari Afrika dan Timur Tengah di perairan Yunani.

Berdasarkan laporan Badan Migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari 33 ribu migran meninggal dunia atau dilaporkan hilang di Laut Mediterania antara tahun 2014 hingga akhir 2025, yang menjadikan kawasan itu sebagai jalur migrasi paling mematikan di dunia.(sl)