Tekanan Perang, Saudi Sibuk Cari Pinjaman 8 Miliar Dolar
-
Aramco Arab Saudi
Pars Today – Berdasarkan apa yang dilaporkan oleh Bloomberg, Arab Saudi sedang mengkaji untuk menerima pinjaman 8 miliar dolar sementara perang telah menekan ekonomi dan keuangan negara ini.
Menurut laporan IRNA, Bloomberg Senin (31/8) menulis bahwa Arab Saudi, sementara meningkatkan upaya-upayanya untuk mendiversifikasi sumber-sumber keuangan di tengah konsekuensi-konsekuensi ekonomi perang melawan Iran, sedang dalam negosiasi awal untuk mengumpulkan setidaknya 8 miliar dolar dari pinjaman baru.
Media ini mengutip sumber-sumber yang mengetahui menyatakan bahwa Pusat Manajemen Utang Nasional Arab Saudi yang merupakan bagian dari Kementerian Keuangan Arab Saudi, telah mulai berkonsultasi dengan bank-bank tentang sebuah kesepakatan potensial.
Beberapa dari orang-orang ini mengatakan bahwa perusahaan minyak besar Saudi Aramco juga sedang melakukan negosiasi serupa dengan bank-bank. Menurut orang-orang ini, kedua kesepakatan potensial berada dalam tahap awal dan mungkin pada akhirnya tidak terwujud.
Tindakan-tindakan Arab Saudi terjadi sementara negara ini dan negara-negara lain di kawasan Teluk Persia menghadapi konsekuensi-konsekuensi ekonomi dari perang regional. Perang yang dipaksakan oleh Amerika dan rezim Zionis terus mengganggu perdagangan melalui Selat Hormuz, meningkatkan biaya-biaya impor, dan menekan rantai-rantai pasokan.
Agresi terhadap Iran dan masuknya Arab Saudi ke dalam perang dengan Yaman, telah mempersulit langkah-langkah Riyadh untuk menghindari Selat Hormuz dengan mengalihkan asal ekspor minyak dari pantai baratnya. Sementara itu, ekonomi pada kuartal kedua tahun ini mengalami kontraksi paling parah sejak pandemi Covid dan perkembangan-regional menyebabkan penurunan hampir 25 persen di sektor minyak.
Menurut tulisan Bloomberg, perang melawan Iran juga telah meningkatkan harga minyak dan sampai batas tertentu membantu keuangan Arab Saudi. Minyak mentah Brent tahun ini rata-rata sekitar 87 dolar per barel yang telah membantu mengurangi tekanan pada keuangan negara ini akibat perang. Meskipun demikian, Riyadh pada kuartal kedua tahun ini mengalami defisit anggaran sebesar 34,3 miliar riyal (9,1 miliar dolar). (MF)