Tolak Wajib Militer, Yahudi Ultra-Ortodoks Kepung Pusat Perekrutan Israel
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i198636-tolak_wajib_militer_yahudi_ultra_ortodoks_kepung_pusat_perekrutan_israel
Pars Today - Gelombang demonstrasi kaum Yahudi ultra-Ortodoks (Haredi) yang menolak kebijakan wajib militer kembali bergolak di beberapa wilayah Israel pada Rabu (14/10/2026) malam waktu setempat.
(last modified 2026-10-15T03:50:28+00:00 )
Okt 15, 2026 10:48 Asia/Jakarta
  • sekelompok massa demonstran Haredi
    sekelompok massa demonstran Haredi

Pars Today - Gelombang demonstrasi kaum Yahudi ultra-Ortodoks (Haredi) yang menolak kebijakan wajib militer kembali bergolak di beberapa wilayah Israel pada Rabu (14/10/2026) malam waktu setempat.

Berdasarkan laporan Channel 12 Israel yang dikutip oleh jaringan Al-Hodhod via IRNA, Kamis, 15 Oktober 2026, sekelompok massa demonstran Haredi nekat menggeruduk dan mencoba menerobos masuk ke sebuah gedung biro militer di kota Bnei Brak. Fasilitas tersebut merupakan salah satu unit penanggung jawab proses integrasi dan perekrutan kaum Haredi ke dalam jajaran Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

Aksi nekat ini memicu bentrokan fisik di lapangan dan menjadi puncak dari rangkaian protes keras kaum Haredi terhadap kebijakan penyerapan paksa komunitas mereka ke dalam institusi militer.

Secara doktrin, kelompok Yahudi Haredi memegang teguh keyakinan mendingan memperdalam kitab suci di sekolah keagamaan (Yeshiva) daripada memegang senjata. Alasan teologis inilah yang membuat mereka terus melancarkan perlawanan gigih terhadap setiap upaya perekrutan yang diinisiasi oleh otoritas militer Israel.

Dalam beberapa bulan terakhir, isu pencabutan hak istimewa berupa pembebasan wajib militer bagi kaum Haredi telah menjelma menjadi salah satu krisis domestik terbesar yang mengguncang internal Israel.

Eskalasi pembelahan sosial dan politik ini terjadi di tengah situasi pelik yang dihadapi IDF. Akibat perang yang berlarut-larut di berbagai front pertempuran, militer Israel kini mengalami krisis akut kekurangan personel tempur. Guna menambal celah tersebut, para pejabat militer bersikeras menggunakan jalur koersif, termasuk melakukan penangkapan dan memberikan tekanan hukum, guna menyeret para siswa Yeshiva ke barak militer.

Menanggapi tindakan keras aparat, para demonstran menggemakan seruan "Lebih Baik Mati daripada Wajib Militer". Mereka menegaskan akan terus menggalang aksi pembangkangan sipil secara masif dan memblokir jalur-jalur transportasi utama kota sampai pemerintah menghentikan penangkapan pemuda Haredi serta membatalkan undang-undang wajib militer tersebut.(Sail)