Menggali Potensi Cina-ASEAN di Muara Yangtze
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i25720-menggali_potensi_cina_asean_di_muara_yangtze
Oleh: Aditya E.S. Wicaksono Hujan tak henti-hentinya mengguyur Provinsi Jiangsu di Cina ketika Topan Haima mendarat di Filipina pada awal pekan keempat bulan Oktober.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Nov 14, 2016 09:03 Asia/Jakarta
  • ASEAN Economic Community
    ASEAN Economic Community

Oleh: Aditya E.S. Wicaksono Hujan tak henti-hentinya mengguyur Provinsi Jiangsu di Cina ketika Topan Haima mendarat di Filipina pada awal pekan keempat bulan Oktober.

Meski demikian, lamanya hujan dan kelabunya langit tidak mencairkan semangat 15 jurnalis dari negara-negara anggota ASEAN untuk menyaksikan pesatnya perubahan wajah kota-kota mega (mega cities) di wilayah delta Sungai Yangtze,

 

Dalam kunjungan media bertemakan Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 yang diadakan oleh Cina Report dan ASEAN-Cina Centre itu, mereka berkumpul di Shanghai, pusat bisnis yang tersohor di Cina.

 

Namun panggung utamanya justru berada di halaman belakang Shanghai di mana kota-kota yang seperti Suzhou, Wuxi dan Nanjing sedang berkembang pesat menjadi pusat-pusat ekonomi baru di Cina.

 

Dengan memperbaiki jaringan jalan raya, membangun jaringan metro dan kereta super cepat, Cina mempunyai visi untuk menyatukan kluster-kluster kota yang sudah berukuran amat besar, bahkan dibandingkan dengan Jakarta, dari Shanghai ke Nanjing menjadi zona urban yang saling terkait.

 

Dalam inisiatif Sabuk dan Jalan yang digagas pada 2013, Pemerintah Cina juga mempersiapkan Provinsi Jiangsu menjadi salah satu titik utama untuk meningkatkan konektifitas dan kerjasama antara Cina dengan ASEAN.

 

Kurang lebih 130 km di barat laut Shanghai adalah Suzhou, kota kedua terbesar di Provinsi Jiangsu setelah Nanjing.

 

Meliputi wilayah seluas 8.488 km persegi yang menjadi rumah bagi 6,6 juta penduduk, Suzhou ditasbihkan menjadi kawasan kota mega oleh Pemerintah Cina pada akhir 2015.

 

Dengan PDB sebanyak 1,45 triliun Yuan pada tahun lalu, Suzhou berkembang menjadi pusat manufaktur, industri serta inovasi ilmu dan teknologi di Provinsi Jiangsu.

 

Kota tersebut menjadi rumah bagi sedikitnya 14 zona pengembangan ekonomi tingkat nasional seperti misalnya Suzhou Industrial Park dan Zona Pengembangan Ekonomi dan Teknologi Pelabuhan Taicang.

 

Suzhou memiliki Pelabuhan Taicang, pelabuhan sungai terbesar dan tersibuk di muara Sungai Yangtze.

 

Pelabuhan tersebut berfungsi sebagai pelabuhan arteri nasional untuk transportasi peti kemas dan juga pelabuhan sungai pertama di Cina yang memiliki kapasitas peti kemas setara dengan pelabuhan laut.

 

Wakil Direktur Komite Administratif Zona Pengembangan Ekonomi dan Teknologi Pelabuhan Taicang Zou Jiahong mengatakan insiatif Sabuk dan Jalan menawarkan peluang besar kerja sama dan investasi antara Cina dan ASEAN.

 

"Zona ini terletak dekat dengan laut dan akan sangat bagus jika kami memiliki kerja sama lebih dengan negara-negara anggota ASEAN di masa depan," kata Zou.

 

Daya tarik lain dari Suzhou adalah julukannya sebagai ibu kota sutra Cina di mana suatu pusat fashion dan perdagangan kain sutra yang bernama Kota Tekstil Oriental baru saja dibuka di kota Shengze.

 

Pusat tekstil tersebut diharapkan mampu menciptakan jalur komunikasi melalui pameran dan perdagangan kain sutra antara para produsen lokal dan negara-negara ASEAN.

 

Kedekatan dengan ASEAN

 

Sementara itu di kota tetangga Wuxi, Wakil Wali Kota Wuxi Wang Jinjian mengatakan bahwa inisiatif Sabuk dan Jalan adalah suatu jalur untuk mewujudkan kebijakan keterbukaan Cina.

 

"Kami menyambut teman-teman ASEAN untuk terlibat dan Cina akan siap membagi pengalaman dan cerita sukses kami," kata Wang.

 

Wuxi mencakup daerah seluas 4.627 km persegi dan memiliki basis industri yang kuat.

 

Sedikitnya 200.000 perusahaan industri dan komersial tercatat beroperasi di kota berpenduduk 6,5 juta jiwa itu. Selain itu, sekitar 100 perusahaan besar telah berinvestasi ke Wuxi dan terlibat dalam pembangunan budaya, sosial dan ekonomi kota tersebut.

 

Wuxi juga adalah kota yang memiliki hubungan dekat dengan ASEAN, kata Wang.

 

Volume perdagangan antara Wuxi dan ASEAN pada 2015 mencapai 8,6 miliar dolar AS, atau sekitar 12 persen dari total volume perdagangan kota Wuxi.

 

Sebanyak 1,1 miliar dolar AS telah diinvestasikan Wuxi ke 160 proyek di negara-negara ASEAN pada 2015, kata Wang.

 

Hodo Group sebagai contohnya. Salah satu perusahaan utama di Provinsi Jiangsu yang bermarkas di Wuxi telah terlibat dalam investasi dan pembangunan Zona Ekonomi Khusus Sihanoukville di Kamboja.

 

Zona tersebut, dioperasikan oleh Cina dan Kamboja, ditempati lebih dari 100 perusahaan global yang menyerap sedikitnya 13.000 tenaga kerja lokal di Kamboja.

 

Perusahaan-perusahaan Cina sedang ingin mengembangkan pasar dan mengincar peluang investasi di luar negeri.

 

"Dan negara-negara ASEAN mempunyai ruang yang besar untuk berkembang serta dianugerahi oleh sumber daya alam dan manusia yang melimpah." kata Wang.

 

Daya tarik wisata

 

Bertransformasi menjadi pusat industri dan komersial bukan berarti wilayah yang berkembang hanya dipadati oleh pabrik-pabrik, pusat perbelanjaan dan gedung-gedung bertingkat, tidak menyisakan ruang bagi wilayah pedesaan dan pemandangan alam.

 

Diberkahi dengan alam pegunungan dan pemandangan alam, Jiangsu memiliki sejarah panjang lebih dari 2.500 tahun dengan berbagai peninggalan sejarah dan budaya seperti kanal-kanal kota, pagoda, jembatan batu, taman klasik dan kota air kuno.

 

Dangkou, salah satu kota air kuno, adalah suatu daya tarik wisata nasional yang berada di tenggara kota Wuxi.

 

Pemerintah setempat telah merestorasi kota kuno tersebut dan menempatkannya sebagai salah satu fokus program perlindungan situs budaya dan sejarah Cina.

 

Rumah-rumah yang dibangun dengan gaya arsitektur Cina kuno bertembok putih dan dikelilingi jalan setapak dari ubin batu berwarna hitam mengisi gang dan lorong kota Dangkou.

 

Penduduk setempat menggunakan perahu kayu tampak mengarungi kanal-kanal kota yang dihiasi oleh jembatan-jembatan batu memberikan pemandangan layaknya Venesia dari negeri Oriental.

 

Dengan lebih dari 2.000 penerbangan setiap pekan yang melayani jalur Cina-ASEAN, Cina ingin menggaet lebih banyak turis dengan berbagai daya tarik wisatanya tersebut setelah pada 2015 negara tersebut menerima kunjungan 23 juta turis dari Asia Tenggara.

 

Pusat budaya dan pendidikan

 

Ibu kota Nanjing berada kurang lebih 190 km di sebelah barat Wuxi dan kereta peluru Cina pun terbukti menjadi pemangkas jarak yang ampuh ketika membawa rombongan jurnalis dari Wuxi ke Nanjing dengan waktu kurang dari satu jam.

 

"Kereta ini sangat nyaman tidak kalah dengan kereta cepat milik Jepang," kata Imchai Porntavan jurnalis dari Thailand dalam perjalanan menembus 300 km per jam menuju Nanjing.

 

Sebagai ibu kota Jiangsu, Nanjing memiliki posisi penting di dalam sejarah dan budaya Cina karena telah menjadi ibu kota dari berbagai dinasti dan kerajaan Cina kuno.

 

Kota seluas 6.600 km persegi itu menjadi pusat kebudayaan, penelitian dan pendidikan di Jiangsu yang menarik banyak pelajar dari negara-negara ASEAN seperti Indah Rastika Sari dari Indonesia.

 

Indah yang datang dari Provinsi Aceh tersebut sedang berada di tahun keduanya belajar jurnalisme dan komunikasi di Nanjing Normal University.

 

"Ini adalah kesempatan bagi saya untuk mengenal budaya Cina. Dan bahasa (Mandarin) adalah nilai tambah ketika anda belajar di Cina," kata Indah.

 

Sekretaris General ASEAN-Cina Centre Yang Xiuping dalam kuliah umum di Nanjing Normal University menekankan bahwa pertukaran pelajar dan kerja sama di bidang pendidikan menjadi bagian penting bagi kerja sama Cina dan ASEAN.

 

"Para pelajar adalah jembatan dan masa depan bagi hubungan ASEAN dan Cina," kata Yang.

 

Pada 2015, Cina mencatatkan rekor sebanyak 190.000 pertukaran pelajar antara Cina dan ASEAN.

 

Pemerintah Cina telah mendirikan setidaknya 31 Institut Confucius di negara-negara ASEAN sebagai organisasi pendidikan untuk mempromosikan budaya dan bahasa Cina serta memfasilitasi pertukaran budaya di Asia Tenggara.

 

Selain itu mereka juga telah mendirikan empat pusat budaya Cina di Thailand, Singapura, Laos dan Kamboja.

 

Yang mengungkapkan bahwa selama 25 tahun kerjasama dialog, jumlah perdagangan bilateral antara Cina dan ASEAN telah meningkat dari 7,96 miliar dollar AS ke 472 miliar dollar AS.

 

"Dengan inisiatif dari kedua pihak, yaitu Konektifitas ASEAN dan inisiatif Sabuk dan Jalan dari Cina, kami yakin jika Cina dan ASEAN akan mendapat manfaat yang sangat besar dari dua tren baru perkembangan tersebut," kata Yang. (Antara)