Iran-Indonesia dan Potensi Kerjasama
-
Konferensi di Jakarta, 2016
Darmin Nasution, Menteri Koordinator Ekonomi Indonesia, memimpin delegasi ekonomi dalam kunjungan ke Tehran. Menteri Hubungan dan Teknologi Komunikasi Iran, Mahmoud Vaezi, pada Ahad (26/02/2017), dalam pertemuan dengan Darmin Nasution di Tehran menjelaskan bahwa Iran tidak menentukan batasan untuk meningkatkan hubungan dengan Indonesia. Ditambahkannya, Iran siap menandatangani kesepakatan bea cukai, perdagangan preferensial dan dorongan untuk investasi timbal balik dengan Indonesia.
Dalam sistem internasional multipolar, memiliki hubungan strategis ekonomi, akan menjamin hubungan politik dan bahkan menjamin kepentingan regional dan transregional. Hubungan Iran dan Indonesia juga dalam rangka tersebut.
Iran dan Indonesia memiliki kapasitas besar kerjasama. Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi lima persen, dengan cepat memacu pertumpuhannya sementara Iran juga sebagai perekonomian terbesar di kawasan dan berada di posisi ke-18 perekonomian besar dunia.
Dari sisi strategis, Indonesia yang merupakan anggota berbagai lembaga penting ekonomi termasuk ASEAN dan G-20, memiliki posisi sangat penting bagi Iran. Keanggotaan Iran dan Indonesia di D8 juga menjadi pondasi perluasan hubungan ekonomi dan perdagangan. Berdasarkan data yang ada, hubungan ekonomi, Iran dan Indonesia telah merambah ke berbagai sektor termasuk energi, produksi listrik, industri minyak, gas dan petrokimia. Kedua negara juga mencatat kesepakatan kerjasama terbesar, dan termasuk di antaranya adalah pembangunan kilang minyak di provinsi Banten, Indonesia, partisipasi perusahaan penyulingan dan distribusi minyak Iran, partisipasi perusahaan negara Iindonesia dan perusahan Petrofield Refining Malaysia.
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, beberapa bulan lalu ketika bertemu dengan Presiden RI di Tehran (26/12/2016), menyinggung kapasitas besar kedua negara untuk meningkatkan pertukaran dan kerjasama di berbagai sektor ekonomi, politik dan budaya. Beliau menegaskan, Republik Islam menilai kemajuan dan kemuliaan Indonesia sebagai sebuah negara Muslim dan dengan tingkat populasi tinggi, adalah sebuah kebanggan umat Islam.
Rahbar menegaskan bahwa rendahnya volume pertukaran ekonomi Iran dan Indonesia, tidak proporsional untuk Iran dan Indonesia mengingat kapasitas besar kedua negara. Beliau menandaskan bahwa kerjasama dan volume pertukaran ekonomi Iran dapat ditingkatkan hingga melampaui angka fantastis, 20 miliar dolar.
Sekarang merupakan saat untuk perencanaan baru pengembangan ekonomi Iran pasca implementasi kesepakatan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), yang membuka peluang investasi kolektif di bidang ekonomi termasuk di sektor migas, petrokimia dan industri pangan.(MZ)