Pidato "Game of Thrones" Presiden RI di Pertemuan IMF dan WB
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i62970-pidato_game_of_thrones_presiden_ri_di_pertemuan_imf_dan_wb
Pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (WB) digelar 8 - 14 Oktober di Nusa Dua, Bali. Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengibaratkan kondisi perekonomian global dimana hubungan negara ekonomi maju semakin lama semakin terlihat seperti "Game of Thrones".
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Okt 12, 2018 18:26 Asia/Jakarta
  • Pidato Presiden RI Joko Widodo di Pertemuan IMF dan WB di Bali.
    Pidato Presiden RI Joko Widodo di Pertemuan IMF dan WB di Bali.

Pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (WB) digelar 8 - 14 Oktober di Nusa Dua, Bali. Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengibaratkan kondisi perekonomian global dimana hubungan negara ekonomi maju semakin lama semakin terlihat seperti "Game of Thrones".

"Akhir-akhir ini hubungan negara ekonomi maju semakin lama semakin terlihat seperti Game of Thrones. Balance of power dan aliansi negara ekonomi maju sepertinya sedang mengalami keretakan," kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat memberikan sambutan dalam Plenary Session Annual Meeting IMF-WB 2018 di Nusa Dua Hal BNDCC, Bali, Jumat, 12 Oktober 2018 seperti dilansir Antaranews.

 

Menurutnya, lemahnya kerja sama, koordinasi telah menyebabkan banyak masalah seperti peningkatan harga minyak mentah dan kekacauan mata uang yang dialami negara berkembang.

 

Pengibaratan tersebut mengundang antusiasme para hadirin termasuk Presiden World Bank dan Managing Director IMF Christine Lagarde yang tampak tersenyum-senyum mendengar pidato Presiden.

 

Presiden Jokowi kemudian menambahkan, dalam serial Game of Thrones sejumlah "great houses", "great families" bertarung hebat satu sama lain untuk mengambil kendali Iron Thrones.

 

"Mother of dragons menggambarkan siklus kehidupan. Perebutan kekuasaan great houses itu bagai sebuah roda besar seiring perputaran roda satu great house tengah berjaya sementara house lain mengalami kesulitan. House lain berjaya dengan menjatuhkan house lainnya," katanya.

 

Namun Presiden menambahkan, yang mereka lupa ketika "great houses" sibuk bertarung satu sama lain mereka tidak sadar adanya ancaman besar dari utara.

 

"Seorang evil winter yang ingin merusak dan meliputi seluruh dunia dengan es kehancuran," kata Presiden yang disambut tepuk tangan dan tawa dari para hadirin.

 

Menurut Kepala Negara, dengan ancaman "evil winter" itu akhirnya mereka sadar untuk berpikir bahwa tidak penting lagi siapa yang duduk di Iron Thrones, sebaliknya yang penting adalah kekuatan bersama untuk mengalahkan evil winter.

 

"Agar dunia tidak berubah menjadi tanah tandus, porak poranda yang menyengsarakan kita semua," katanya.

Di hadapan delegasi dan peserta pertemuan IMF-WB, Presiden menegaskan bahwa saat ini semua sedang menghadapi ancaman global yang meningkat.

 

"Perubahan iklim telah meningkatkan intensitas badai dan topan di AS hingga Filipina. Sampah plastik, plastik di laut telah mencemari pasokan makanan di berbagi tempat. Ancaman global tumbuh pesat itu yang hanya bisa kita tanggulangi jika kita kerja sama," katanya.

 

Dia mengingatkan terkait pernyataan Sekjen PBB Antonio Guterres dalam panel beberapa hari sebelumnya tentang perubahan iklim dimana waktu sudah mendesak agar semua bertindak dalam skala besar guna mencegah perubahan iklim.

 

"Kita perlu meningkatkan investasi tahunan global 400 persen energi terbarukan. Kita harus kerja sama menyelamatkan kehidupan bersama," katanya.

 

Untuk itu, Presiden pun kembali mempertanyakan kepada hadirin apakah ini saat yang tepat untuk rivalitas dan kompetisi atau saat ini waktu yang tepat untuk kerja sama dan kolaborasi.

 

"Apakah kita telah terlalu sibuk bersaing dan menyerang satu sama lain sehingga kita gagal menyadari ada ancaman besar yang membayangi kita semua. Apa kita gagal menyadari adanya ancaman besar yang dihadapi negara kaya atau miskin oleh negara besar ataupun kecil," katanya.

 

Presiden kembali menyebutkan bahwa tahun depan season terakhir Game of Thrones akan dirilis. Pernyataan tersebut kembali mengundang tawa hadirin termasuk Lagarde yang tampak tersenyum.

 

"Saya bisa perkirakan bagaimana akhir ceritanya. Saya yakin ceritanya akan berakhir dengan pesan moral bahwa konfrontasi dan perselisihan akan mengakibatkan penderitaan bukan hanya bagi yang kalah tapi juga bagi yang menang," katanya.

 

Dia melanjutnya bahwa ketika kemenangan dirayakan dan kekalahan diratapi baru kemudian keduanyan sadar bahwa kemenangan maupun kekalahan dalam perang hasilnya sama yaitu dunia porak poranda. Menurut Presiden, tidak ada artinya kemenangan yang dirayakan dalam kehancuran, tidak ada artinya memiliki kekuatan ekonomi terbesar di tengah dunia yang tenggelam.

 

"Saat ini kita masuk season terakhir pertarungan ekspansi ekonomi global yang penuh rivalitas dan persaingan. Bisa jadi suatu situasi genting dibanding krisis finansial 10 tahun lalu," katanya.

 

Presiden pun mengaku sangat bergantung kepada para delegasi yang merupakan insan-insan penting, para pembuat kebijakan fiskal dan moneter dunia untuk menjaga komitmen kerja sama global.

 

"Saya berharap Bapak Ibu berkontribusi mendorong para pemimpin dunia menyikapi keadaan ini secara tepat," katanya. Sebab kata dia saat ini diperlukan kebijakan moneter dan fiskal yang mampu menyangga dampak perang dagang destruksi padar pasar.

 

"Saya harap Bapak Ibu mampu menyerap tenaga dan memetik inspirasi indahnya alam Bali Indonesia untuk menghasilkan kejernihan hati pikiran dalam perbaiki kondisi finansial global untuk kebaikan kita semua," katanya.

Seruan Penghentian Masa Kelam Perekonomian Global

 

Presiden Jokowi juga mengajak para pembuat kebijakan di dunia untuk menghentikan masamasa kelam dalam perekonomian setelah 10 tahun dunia terbebas dari depresi global.

 

"Dengan banyaknya masalah perekonomian dunia, sudah cukup bagi kita untuk mengatakan bahwa Winter is Coming," kata Presiden Joko Widodo pada acara Opening Plenary Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Bali Nusa Dua Convention Center Bali, Jumat.

 

Presiden mengasosiasikan situasi perekonomian global saat ini sebagaimana yang terjadi dalam serial Game of Thrones dimana perebutan pengaruh dan kekuasaan terjadi. Padahal sepuluh tahun yang lalu, kata Presiden, dunia mengalami krisis finansial global.

 

"Berkat langkah-langkah kebijakan moneter dan fiskal yang luar biasa, yang membutuhkan keberanian politik yang besar. Saudara-saudara para pembuat kebijakan telah menyelamatkan dunia dari depresi global yang pada waktu itu sudah di depan mata," katanya, Untuk itu, dia menyampaikan selamat atas kesuksesan para pembuat kebijakan tersebut dalam mengatasi krisis finansial global tahun 2008.

 

Setelah 10 tahun berlalu, lanjutnya, dunia dinilainya tetap harus waspada terhadap meningkatnya risiko dan kesiap-siagaan dalam mengalami ketidakpastian global.

 

"Seperti yang disampaikan Christine Lagarde, terdapat banyak masalah yang membayangi perekonomian dunia," katanya.

 

Amerika Serikat menikmati pertumbuhan yang pesat, kata Presiden, namun di banyak negara terdapat pertumbuhan yang lemah atau tidak stabil.

 

Dia menambahkan, perang dagang semakin marak dan inovasi teknologi mengakibatkan banyak industri terguncang.

 

"Negara-negara yang tengah tumbuh juga sedang mengalami tekanan pasar yang besar," katanya. Menurut dia, dalam beberapa dekade terakhir ini, negara ekonomi maju telah mendorong negara ekonomi berkembang untuk “membuka diri” dan ikut dalam perdagangan bebas dan keuangan terbuka.

 

Presiden mengatakan globalisasi dan keterbukaan ekonomi internasional ini telah memberikan banyak sekali keuntungan, baik bagi negara maju maupun negara berkembang.

 

"Berkat kepeduliaan dan bantuan negara ekonomi maju, kami negara-negara berkembang mampu memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi dunia," katanya. Pidato Presiden Jokowi sempat mendapatkan standing applause dua kali dari ribuan hadirin dan menjadi trending topik di sosial media.

 

Pidato tersebut mendapatkan sambutan yang meriah dari hadirin yang bertepuk tangan ketika Presiden turun dari panggung dan beberapa kalimat di antaranya bahkan telah viral di sosial media. (Antaranews)