Bagaimana Cina Sikapi Sanksi AS terhadap Iran ?
Perwakilan China di Dewan Keamanan PBB menyerukan pencabutan semua sanksi sepihak AS terhadap Republik Islam Iran. Zhang Jun menilai Amerika Serikat sebagai pemicu krisis nuklir Iran, dan meminta Washington mencabut sanksi dan kembalinya AS ke JCPOA.
Pertemuan Dewan Keamanan PBB telah dilakukan di saat perundingan Wina tentang program nuklir Republik Islam Iran sedang berlangsung.
Di satu sisi, Amerika Serikat dan tiga negara Eropa yaitu: Inggris, Prancis dan Jerman, membawa masalah ini ke Dewan Keamanan PBB dan mencoba meningkatkan tekanan terhadap Republik Islam Iran supaya menerima tuntutan mereka.
Pasalnya, delegasi Republik Islam Iran dalam perundingan Wina mengambil posisi yang berprinsip, dan sejauh ini telah menggagalkan kebijakan dan program AS untuk mengganggu pembicaraan tersebut.
Menyikapi masalah ini, F.Trier, seorang ekonom Jerman mengatakan, "Trump melakukan kesalahan besar dengan meninggalkan JCPOA, karena merusak tunas yang tumbuh dalam hubungan ekonomi dengan Iran dan menghalangi penerapan penuhnya,".
Dalam keadaan seperti ini, dukungan penuh dari China dan Rusia untuk program nuklir Iran serta permintaan supaya Amerika Serikat mencabut sanksi yang dijatuhkan terhadap Republik Islam Iran di bawah mantan Presiden AS Donald Trump dapat membuka jalan bagi kembalinya Washington ke JCPOA.
Para analis AS sendiri menilai langkah Trump mengadopsi kebijakan sepihak yang dipengaruhi oleh tuntutan rezim Zionis untuk menarik AS keluar dari JCPOA dan menjatuhkan sanksi terhadap Republik Islam Iran sebagai kesalahan Gedung Putih.

The Carnegie Endowment for International Peace, yang didukung oleh lusinan pakar top Amerika menyebut penarikan AS dari JCPOA sebagai kesalahan besar Washington. Lembaga bergengsi ini menekankan bahwa kesepakatan nuklir merupakan indikator utama dari pendekatan dan efektivitas diplomasi terhadap program nuklir Iran. Tapi pemerintahan Trump menghancurkannya.
Bagaimanapun, Republik Islam Iran yang memperkuat kerja samanya dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah menunjukkan dalam praktiknya bahwa ia tidak memiliki masalah rahasia dalam program nuklirnya. Oleh karena itulah Amerika Serikat dan sekutunya gagal memaksakan tuntutan mereka pada Iran.
Sementara itu, China dan Rusia, yang memiliki konflik kepentingan dengan Amerika Serikat dalam berbagai isu, termasuk ekonomi dan Ukraina, diperkirakan akan mengambil sikap yang lebih serius di perundingan Wina demi mendukung program nuklir damai Iran.
Kedua negara ini tidak akan mengizinkan AS menciptakan krisis berbahaya dalam kegiatan nuklir damai Iran. Selain itu, Pakta AUKUS yang disepakati AS, Inggris dan Australia untuk membangun kapal selam nuklir, juga menjadi isu yang ditentang oleh China..(PH)