Mangkraknya JCPOA dan Peringatan dari Rahbar
https://parstoday.ir/id/news/iran-i11929-mangkraknya_jcpoa_dan_peringatan_dari_rahbar
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, menilai perilaku Amerika Serikat terhadap Iran selalu dibarengi dengan kebengisan dan permusuhan seraya menekankan, "Dalam masalah JCPOA, Amerika Serikat tidak melaksanakan komitmen terpentingnya."
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jun 15, 2016 13:44 Asia/Jakarta
  • Rahbar
    Rahbar

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, menilai perilaku Amerika Serikat terhadap Iran selalu dibarengi dengan kebengisan dan permusuhan seraya menekankan, "Dalam masalah JCPOA, Amerika Serikat tidak melaksanakan komitmen terpentingnya."

Hal itu dikemukakan Rahbar pada Selasa petang (14/6), dalam pertemuan dengan para pejabat tinggi tiga lembaga negara, menyampaikan poin-poin penting terkait Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), serta permusuhan Amerika Serikat terhadap Republik Islam Iran.

 

Dalam masalah JCPOA, Rahbar menjelaskan, Amerika Serikat tidak melaksanakan bagian penting dalam komitmennya, namun di sisi lain Iran telah menunaikan "pembayaran uang muka" dan telah menghentikan aktivitas pengayaan uranium 20 persen serta instalasi nuklir Fordo dan air berat Arak.

 

Adapun soal ancaman bakal calon presiden Amerika Serikat yang mengklaim akan mengoyak kesepakatan JCPOA, Rahbar secara tegas memperingatkan mereka bahwa jika ancaman itu dilakukan, maka Iran akan membakar JCPOA itu sendiri.

 

JCPOA telah dilaksanakan sejak Januari lalu dan kedua pihak perunding berkomitmen atas poin-poin yang telah disepakati di dalamnya. JCPOA memiliki titik unggul dan lemah. Titik lemah dokumen kesepakatan itu lebih banyak dari poin unggulnya dan oleh karena itu, Rahbar menegaskan bahwa banyak sisi dalam JCPOA yang ambigu dan dapat dimanfaatkan oleh pihak seberang.

 

Iran telah menerima penghentian pengayaan uranium 20 persen, reduksi mesin-mesin sentrifugal dan desain ulang kompleks air berat Arak, dan sebagai gantinya semua sanksi akan dicabut serta aktifnya kembali transaksi perbankan dan perdagangan dunia dengan Iran.

 

Iran telah melaksanakan seluruh komitmennya, akan tetapi pihak seberang khususnya Amerika Serikat tidak memenuhi komitmennya. Tugas pihak seberang adalah mencabut sanksi, namun komitmen itu tidak terpenuhi, hanya sebagian sanksi yang secara lahiriyah dicabut namun pada praktisnya belum tercabut.

 

Hingga kini Iran menghadapi kesulitan dalam transaksi dengan bank-bank asing. Para pejabat Amerika Serikat memang telah menyatakan bahwa tidak ada hambatan dalam transaksi perbankan dengan Iran, akan tetapi pada praktiknya mereka melakukan langkah-langkah yang membuat bank-bank asing tidak berani bertransaksi dengan Iran. Jaminan untuk tanker-tanker minyak juga dilakukan dalam skala terbatas, begitu juga uang hasil penjualan minyak dan dana yang dimiliki Iran di luar negeri.

 

Permusuhan dan pengingkaran janji Amerika Serikat tidak hanya terangkum pada JCPOA saja, dan Washington selalu merancang berbagai makar untuk menghancurkan kemampuan Republik Islam Iran. Amerika Serikat tidak pernah menyembunyikan permusuhannya dengan Republik Islam, karena esensi AS tidak berubah dan dalam konfrontasi dengan Iran, tidak ada perbedaan antara Republik atau Demokrat.

 

Mengingat poin-poin tersebut, Rahbar menilai keliru anggapan sejumlah pihak bahwa Iran akan dapat menyelesaikan banyak masalahnya jika bersanding dengan Amerika Serikat. Masalah utama Amerika Serikat adalah eksistensi Republik Islam Iran yang tidak akan dapat diselesaikan dengan perundingan maupun menjalin hibingan hubungan. Menurut beliau, itu karena kekuatan dan independensi yang muncul dari Islam, sama sekali tidak dapat diterima kaum imperialis.

 

Republik Islam Iran adalah sebuah pemerintahan yang bersandarkan pada prinsip ideologi dan praktis Islam yang menentang imperialisme atau politik kesewenang-wenangan. Meski menghadapi berbagai tekanan dan kesulitan, pengaruh Republik Islam di kawasan dan global semakin meningkat. Hal itu akan mengancam kepentingan kekuatan imperialis. (MZ)