Ini Pidato Terbaru Rahbar, dari Isu Palestina hingga Geopolitik Global
Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei menyebut rakyat Palestina kuat meskipun saat ini berada dalam kondisi tertindas, dan menegaskan urgensi dukungan masyarakat internasional terhadap perjuangan Palestina.
Ayatullah Khamenei dalam pertemuan dengan ratusan aktivis mahasiswa pada Selasa (26/4/2022) malam menyinggung urgensi peringatan Hari Quds Internasional Jumat pekan ini, dan menilai Hari Quds tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dengan mengatakan, "Rakyat dan pemuda Palestina menunjukkan pengorbanan besar mereka menghadapi rezim Zionis yang menggunakan kebejatan dan kejahatan maksimal, maupun tindakan apapun yang bisa dilakukannya dengan dukungan Amerika Serikat dan Eropa,".
Rahbar mengkritik sikap sebagian negara Muslim dalam masalah Palestina dengan menegaskan, "Amat disayangkan, sikap negara-negara Muslim sangat buruk, bahkan tidak mau berbicara tentang masalah Palestina, dan beberapa dari mereka berpikir bahwa cara untuk membantu Palestina adalah dengan menjalin hubungan dengan Zionis. Padahal ini jelas sebuah kesalahan besar,".
"Apakah hubungan Mesir dengan rezim Zionis mengurangi kejahatan Zionis terhadap rakyat Palestina, atau mengurangi penistaan terhadap Masjid Al-Aqsa ? Kini beberapa negara Muslim ingin mengulangi kesalahan yang sama dilakukan Anwar Sadat dahulu," kata Ayatullah Khamenei menyinggung keputusan pemimpin Mesir empat dekade silam.

Rahbar dalam pidatonya menekankan bahwa membangun hubungan dengan rezim Zionis tidak akan ada gunanya sama sekali.
"Kami berharap, dengan memohon rahmat ilahi, masalah Palestina akan berakhir dengan baik dan bahagia, dan orang-orang Palestina akan segera mendapatkan kembali tanah mereka dan Masjid Al-Aqsa," tegas Ayatullah Khamenei.
Pemimpin Besar Revolusi Islam memandang kembali ke Islam sejati serta penolakan terhadap kejumudan dan isu Palestina sebagai karakteristik Revolusi Islam.
Di bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei mengungkapkan urgensi belajar dari sejarah dan masalah geopolitik global, dengan menambahkan, "Hari ini, dunia berada di ambang tatanan internasional baru. Setelah era tatanan dunia bipolar, teori unipolar sedang terbentuk, tapi pada periode ini Amerika kian hari semakin melemah,".
“Masalah perang Ukraina baru-baru ini harus dilihat lebih dalam dari konteks pembentukan tatanan dunia baru, yang mungkin akan diikuti oleh proses yang kompleks dan sulit. Dalam situasi baru dan kompleks seperti ini, tugas semua negara, termasuk Republik Islam adalah menghadirkan perangkat keras dan perangkat lunak dalam tatanan baru ini untuk memastikan kepentingan dan keamanan negara tidak dipinggirkan," papar Rahbar.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menekankan, "Para mahasiswa dan akademisi menanggung tanggung jawab terbesar untuk melakukan tugas besar ini. Oleh karena itu, urgensi peran kalangan universitas dewasa ini semakin penting melebihi sebelumnya."(PH)